Episode 12 - Berdebar

1844 Kata
Bara masih saja terduduk di atas sajadahnya. Ia membaca Al-Qur'an semalaman sambil terus menumpahkan airmatanya, yang tak bisa berhenti saat mengingat peristiwa pembunuhan terhadap Ibu kandung Haura. Hatinya begitu sakit, karena selama ini ia hanya menutup mata dan tak berusaha melakukan apapun. Haura menjadi trauma luar biasa saat melihatnya. Ia merasa kesakitan saat mendengar jeritan histeris gadis itu. Ia tak dapat membayangkan bagaimana jika dirinya yang ada di posisi Haura. Apakah ia akan bertahan, atau ia akan menyerah lebih awal dan memilih mati? "Qul yaa 'ibaadiyalladziina asrafuu 'alaa anfusihim laa taqnathuu mir raḥmatillaah, innallaaha yagfirudz-dzunuuba jamii'aa, innahuu huwal-gafuurur-raḥiim. Wa aniibuu ilaa rabbikum wa aslimuu lahuu ming qabli ay ya`tiyakumul 'adzaabu tsumma laa tunsharuun... ." Sebuah remasan lembut pada pundak Bara membuat pria itu segera berhenti membaca Al-Qur'an yang sejak tadi dipegangnya. Ia menoleh dan mendapati Nata yang ternyata telah sejak tadi duduk di belakangnya. "Katakanlah, “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.". Az-Zumar ayat lima puluh tiga. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu, kemudian kamu tidak dapat ditolong. Az-Zumar ayat lima puluh empat," ujar Nata. Bara pun menghapus airmatanya seraya tersenyum, usai mendengar arti dari ayat paling akhir yang ia baca. "Allah akan selalu mengampuni hamba-hamba-Nya yang bertaubat dengan bersungguh-sungguh, Mas. Bagi sebagian orang, apalagi yang awam terhadap niat baik seseorang, tentu akan melihat Mas sebagai orang yang bersalah. Tapi akan lain, jika yang melihat adalah orang-orang yang berilmu. Apa yang Mas Bara lakukan sudah benar. Jika Mas tidak melakukan hal itu, maka akan terjadi kezhaliman yang jauh lebih parah. Barang bukti itu akan lenyap, dan Almarhumah Ibunya Haura tidak akan pernah mendapatkan keadilan," Nata berusaha meyakinkan Bara. Kedua mata Bara yang sembab menatap tepat ke arah kedua mata Nata. "Aku tahu, bahwa kamu akan selalu mendukungku. Aku tahu, bahwa keputusanku memang benar. Tapi rasa bersalah itu terus saja menghantuiku, Dek. Aku melihatnya sendiri, bagaimana Almarhumah Ibunya Haura meregang nyawa di hadapan Haura. Sampai hari ini, hal itu masih terbayang-bayang dalam pikiranku setiap kali aku berusaha tidur. Aku tidak bisa melupakannya, terlebih karena Haura yang ikut menyaksikan hal itu," jelas Bara, kembali menahan tangis. "Mas, yakinlah, Haura kini telah memaafkanmu. Kamu hanya perlu melakukan satu hal yang benar kali ini. Yaitu menegakkan keadilan." "Ya, aku akan melakukan itu. Apapun yang terjadi, hal itu pasti akan kulakukan. Aku tidak bisa terus menerus menahannya, semua harus dibongkar, atau hidupku hanya akan menjadi omong kosong belaka," balas Bara. Dahlia telah menyiapkan sarapan ketika pagi akhirnya menjelang. Semua orang tampak begitu gugup, karena hari ini Bara akan ke kantor Polisi bersama Pranoto, Haura, dan juga Vera yang akan mendampinginya. Akmal menatap bubur yang seharusnya ia santap. Vera tengah menyuapi Haura dengan begitu hati-hati, dan rasanya Akmal masih begitu terpukul dengan apa yang sebenarnya terjadi pada gadis itu, akibat perbuatan Nia dan Niken. "Haura," tegur Akmal, tiba-tiba. Vera berhenti menyuapi Haura, agar Haura bisa menjawab teguran itu. Dahlia pun ikut terdiam dan hanya berdiri di samping mertuanya. "Tolong maafkan saya," pinta Akmal, yang sudah tidak peduli dengan harga dirinya. Bara dan Nata yang hendak masuk ke dalam rumah itu pun, segera menghentikan langkah mereka tepat di ambang pintu. "Jika ada yang ingin kamu salahkan atas kematian Almarhumah Ibumu, dan juga nasibmu yang buruk, maka salahkan saja saya. Saya adalah penyebab semua hal buruk yang terjadi di rumah ini. Saya menolak memiliki menantu seperti Almarhumah Ibumu, dan malah menikahkan anak-anak saya dengan wanita yang hatinya buruk. Bahkan..., jika anak bungsu saya tidak mengambil keputusan untuk tetap menikahi Umminya Nata, maka saya juga tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya keluarga ini sekarang. Maka dari itu, jika kamu ingin marah terhadap seseorang, maka marahlah pada saya. Jangan marah pada cucu saya, karena saya juga pernah menjadi bagian dari orang-orang kejam yang menekan hidup dan batinnya. Saya... ." "Pak, sudah Pak. Sudah..., Haura tidak akan marah pada Bapak ataupun Bara. Insya Allah, Haura akan memaafkan dengan ikhlas. Benar begitu 'kan, Nak?" Dahlia menatap ke arah Haura, "putri Ummi tidak akan menyimpan dendam pada orang lain, 'kan?" tanyanya. Haura pun mengangguk pelan, sambil menahan airmatanya. "Insya Allah, aku tidak akan marah, Kek. Aku tidak akan menyalahkan siapapun, atas apa yang sudah terjadi," ujar Haura, pelan. Nata pun meremas pundak Bara dengan tegas. "Maju, Mas. Tegakkan keadilan, dan jangan ragu-ragu," dukung Nata. Nata terus menatap ponselnya sejak ia tiba di Pesantren. Perasaannya sangat penasaran dengan bagaimana berjalannya situasi di Kantor Polisi ketika Bara akhirnya melaporkan Nia--Ibunya sendiri--atas pembunuhan yang terjadi pada Ibu kandung Haura. Namun sayang sekali, dirinya tak bisa ikut mendampingi Bara karena hari ini Mahmud sedang sakit dan tak ada yang mengurus pesantren. "Assalamu'alaikum Ustadz Nata," sapa salah seorang santri yang baru saja mendekat. "Wa'alaikumsalam," jawab Nata. "Persiapan di Masjid sudah selesai Ustadz. Hari ini jadwal penerima materi untuk santri dan santriwatri dari asrama enam, mereka semua sudah siap di Masjid," ujar santri tersebut. Nata pun tersenyum. "Baiklah, saya akan segera turun ke Masjid. Langsung di buka saja seperti biasanya ya," pinta Nata. "Baik Ustadz." Setelah santri tadi pergi, Nata kembali menatap ponselnya selama beberapa saat. "Ya Allah, tolong berilah keadilan pada orang-orang yang memang harus diadili. Tolong, angkatlah beban yang selama ini membebani pundak Kakak hamba, buatlah hatinya merasa lega. Amiin yaa rabbal 'alamiin," batin Nata. Pria itu pun segera bergegas turun dari kantor pesantren untuk memberi materi kajian di Masjid. Sesuai dengan yang santri tadi katakan, semua santri dan santriwati asrama enam telah menunggunya di sana. Ia kembali tersenyum saat melihat wajah-wajah anak didiknya yang begitu bersemangat. "Assalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh," ucap Nata. "Wa'alaikumsalam warrahmatullahi wabarakatuh." "Alhamdulillahi rabbil'aalamiin, washsholaatu wassalaamu 'ala asyrofil anbiyaa i walmursaliin, wa'alaa alihi washohbihii ajma'iin ammaba'du. Robbisrohli shodri wayassirli amri wahlul uqdatam mil-lisani yafqohu qouli." Beberapa orang santri terlihat mempersiapkan alat tulis mereka sebelum Nata memulai pemberian materi hari itu. "Hari ini, Ustadz Mahmud sedang tidak bisa hadir bersama kita di sini di karenakan kesehatannya yang sedang tidak baik. Jadi untuk hari ini hingga beberapa hari ke depan, saya akan menggantikan beliau dalam memberikan materi khusus di setiap asrama sesuai dengan jadwal yang ada," jelas Nata. Nata kembali memikirkan Bara untuk beberapa saat, namun ia segera kembali berkonsentrasi pada para santri dan santriwati yang ada di hadapannya. "Hari ini saya akan menyampaikan materi mengenai tiga pesan yang berguna. Ada pesan dari Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam yang sangat berguna bagi kaum muslimin, yang pertama adalah banyak mengingat mati. Kenapa kita harus banyak mengingat mati? Karena dengan mengingat mati akan membuat seorang muslim mempersiapkan diri dalam menghadapi kematian tersebut dengan memperbanyak amal shaleh, sehingga dia tidak hanya menyibukkan dirinya untuk kesenangan di dunia ini. Karena mati merupakan perjumpaan dengan Allah subhanahu wa ta'ala." Nata memberikan jeda beberapa saat untuk para santri dan santriwati agar bisa menulis apa yang ia sampaikan ke dalam buku mereka masing-masing. Pikirannya kembali pada permasalahan Bara yang masih juga belum memberi kabar. "Kami sudah selesai mencatat Ustadz Nata," ujar salah satu santri yang melihatnya melamun. "Ya..., baiklah. Akan saya lanjutkan," sahut Nata seraya tersenyum, "di dalam Al-Qur'an surat Al-Kahfi ayat seratus sepuluh di sebutkan, Qul innamaa ana basyarum mitslukum yụḥaa ilayya annamaa ilaahukum ilaahuw waaḥid, fa mang kaana yarjuu liqaa'a rabbihii falya'mal 'amalan shaaliḥaw wa laa yusyrik bi'ibaadati rabbihii aḥadaa yang artinya Katakanlah, 'sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku 'bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa'. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya'. Silahkan di catat sebelum saya melanjutkan," pinta Nata. Drrttt..., drrttt..., drrttt...!!! Ponsel Nata bergetar, namun Nata tak menyadarinya. "Pesan yang kedua adalah pandai bersyukur. Kenapa manusia harus pandai bersyukur? Karena pandai bersyukur akan membuat nikmat yang diberikan oleh Allah subhanahu wa ta'ala bertambah banya, dari sisi jumlahnya atau paling tidak dari sisi rasanya yang sangat banyak. Dalam surat Ibrahim ayat tujuh Allah subhanahu wa ta'ala berfirman, wa idz ta'adzdzana rabbukum la'in syakartum la'aziidannakum wa la'ing kafartum inna 'adzaabii lasyadiid yang artinya dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan, 'sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka pasti azab-Ku sangat berat'," jelas Nata. Drrttt..., drrttt..., drrttt...!!! Nata kini menyadari kalau ponselnya bergetar, ia melihat nama Bara pada layarnya sehingga jantungnya menjadi berdebar-debar hebat. "Ya Allah, apakah semuanya baik-baik saja?" batin Nata sekali lagi. Ia kembali menatap ke arah para santri dan santriwati yang ada di hadapannya. Tanggung jawabnya belum selesai, dan ia tak mungkin meninggalkan mereka semua apalagi di saat Mahmud tidak ada. Nata tak mungkin mengecewakan anak-anak didiknya dengan meninggalkan mereka demi kepentingan pribadinya. Abinya pasti akan kecewa jika tahu. "Terakhir, pesan yang ketiga adalah memperbanyak do'a. Kenapa kita harus memperbanyak do'a? Karena berdo'a menunjukkan bahwa kita memang membutuhkan bantuan dari Allah subhanahu wa ta'ala. Oleh karena itu, perbanyaklah berdo'a dan Insya Allah, Allah pasti akan mengabulkannya. Dalam sebuah ayat dari surat Al-Baqarah ayat seratus delapan puluh enam Allah berfirman, wa idzaa sa'alaka 'ibaadii 'annii fa innii qariib, ujiibu da'wataddaa'i idzaa da'aani falyastajiibuu lii walyu'minuu bii la'allahum yarsyuduun yang artinya dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka jawablah, bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo'a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi segala perintah-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran." Para santri dan santriwati masih memperhatikan Nata. "Dulu, para sahabat selalu membutuhkan pesan atau nasihat dari Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam. Oleh karena itu, mereka sering meminta pesan kepada Nabi yang sangat berguna. Dalam satu hadits diriwayatkan, bahwa seorang sahabat bertanya, 'Ya Rasulullah, pesankan sesuatu kepadaku yang akan berguna bagi diriku di sisi Allah.' Nabi shalallahu 'alaihi wa salam pun bersabda, 'Perbanyaklah mengingat kematian, maka kamu akan terhibur dari kelelahan dunia, dan hendaklah kamu bersyukur. Sesungguhnya bersyukur akan menambah kenikmatan Allah, dan perbanyaklah do'a, sesungguhnya kamu tidak mengetahui kapan do'amu akan terkabul.' Hadits riwayat Ath-Thabrani." Nata pun bersiap menutup pertemuan hari itu, ia melakukannya dengan tenang meskipun hatinya masih dilanda kegelisahan yang tak terkira. "Saya harap kalian semua mengerti dengan materi yang saya berikan hari ini. Insya Allah, minggu depan kalian akan kembali mendapatkan materi dari Ustadz Mahmud setelah beliau sembuh dari sakitnya," ujar Nata. "Tidak bisakah Ustadz saja yang kembali memberikan materi untuk kami minggu depan?" tanya salah satu santri dari bagian tengah. Nata tersenyum ke arah santri tersebut. "Insya Allah kalau saya ada waktu, maka saya akan memberikan materi lagi untuk kalian semua," jawab Nata, "sekian dulu materi dari saya hari ini, syukron karena kalian telah mendengarkan dan juga menerima apa yang saya sampaikan. Sampai bertemu lagi di lain kesempatan, wabillahi taufik wal hidayah, wassalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh." "Wa'alaikumsalam warrahmatullahi wabarakatuh." Nata pun segera mengangkat teleponnya yang masih saja bergetar dari sakunya. "Halo Assalamu'alaikum Mas Bara! Bagaimana? Ada kabar apa?" Nata langsung memberondongi Bara dengan pertanyaan. "Wa'alaikumsalam Dek, Mas sudah melaporkannya pada Polisi. Hanya saja... ." * * * *Materi diambil dari buku berjudul 160 Materi Dakwah Pilihan karya Drs. H. Ahmad Yani. * * * Besok Episode 13 ya. Jadwan double up tanggal 19 Juli. Terima kasih sudah membaca dan jangan lupa tinggalkan komentar :)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN