Senja Yang Mengelabui

2337 Kata
Mentari perlahan merambat turun ke ufuk Barat, siang yang tadi sangat perkasa dengan sinar menyengatnya kini dikalahkan oleh belenggu jubah gelap. Satu persatu lampu jalan mulai menyala dengan benderang walau taj hangat seperti surya pagi. Cafe Marginalia terasa sedikit lengang malam ini karena kebetulan sore tadi hujan deras bertandang menyiramkan basahnya, bahkan di beberapa spot nampak masih menyisakan genangan air. Mikail duduk di bangku yang ada di bawah pohon mangga sambil menikmati kopinya yang sudah tak lagi panas. Di samping cangkir berisi caffein itu nampak ponsel pemuda itu yang dibiarkan saja menikmati kelengangan. Sesekali matanya melihat ke pintu masuk halaman parkir yang nampak sepi. “Si Hulk teu[1] jaga, Mik?” tanya seseorang membuyarkan lamunannya. Mikail menoleh ke arah suara barusan, ternyata ada Mang Jasa di sampingnya dengan baki berisi roti bakar cokelat kesukaan pemuda itu. laki-laki itu meletakkan pesanan Mikail di atas meja menemani kopi dan ponsel. “Si Hulk, Mang?” Mikail mengernyitkan dahi karena pertanyaan yang dilontarkan laki-laki berkumis berantakan itu. Dia tidak mengerti dengan yang ditanyakan olehnya. “Saha ngaran na Si Hulk teh? Cacing-nya?[2]” “Oh, Si Cacing? Dia ada jadwal ngelatih, Mang.” Mikail menyadari temannya itu memang lebih pantas disebut Hulk dari pada Cacing karena badannya yang semakin hari semakin kekar. Sejak dulu dia memang tidak pernah punya badan kecil seperti hewan tanpa tulang belakang itu. Berdasarkan cerita Cacing, panggilan itu bermula dari panggilan teman-teman SMA-nya dulu yang menggantikan nama aslinya Muhammad Husin, mereka memanggil dia dengan kebalikan dari tubuhnya. Badan kekar malah di panggil dengan nama Cacing. “Ngalatih naon eta Si Hulk?"[3] “Ngelatih karate, Mang. 'Kan dia memang seorang pelatih karate dari dulu,” kata Mikail sambil meraih cangkir kopi miliknya dan meneguknya perlahan. “Sekalian atuh eta roti na mumpung masih hangat, Jang,” kata laki-laki berkumis berantakan itu dengan sebuah senyum kecil. “Oh, okey, Mang.” Mikail tersenyum mendengar Mang Jasa memanggilnya dengan sapaan 'Jang', sudah menjadi kebiasaan laik-laki itu memanggil nama orang yang lebih muda darinya dengan sapaan itu. ‘Jang’ itu kependekan dari kata Ujang, sebuah panggilan khas Sunda. Jika saja Cacing ada di dekatnya sekarang pasti akan menjadi guyonan karena dia suka memplesetkan sapaan khas itu dengan kependekan dari kata ‘panjang’. Mikail memotong roti bakar cokelat di hadapannya dengan pisau lalu dengan bantuan garpu dia mendekatkan makanan favoritnya itu ke mulut. Sebuah kalimat basmalah menjadi pembuka sebelum mulutnya membuka dan mengunyah makanan itu perlahan. “Mamang balik deui[4] nya ke dalam, Jang,” pamit Mang Jasa sambil bersiap beranjak pergi meninggalkan pemuda itu. “Sebentar, Mang. Saya ada yang mau ditanyakan dulu.” Kalimat Mikail menghentikan ayunan langkah laki-laki berkumis berantakan itu. “Iya, Jang? Aya naon deui?”[5] “Mamang kalau sehabis bersih-bersih pagi terus ngapain lagi, Mang?” "Ngapain lagi nya?” laki-laki itu nampak berpikir. “Euweuh deui[6] kerjaan Mamang teh, tugas Mamang cuma itu, Jang. Kalau sudah rapih paling ngobrol atau bantu-bantu, bisi aya pelayan teu asup gawe[7]. Kadang juga pulang dulu, terus sore atau malam baru bebersih lagi.” “Berarti bisa dong bantu-bantu saya, Mang?” Sebuah senyum kecil tersemat di wajah Mikail, Nampaknya dia memang sangat membutuhkan bantuan Mang Jasa. “Bantu-bantu ngapain, Jang?” laki-laki berkumis berantakan itu mengerutkan dahinya, dia tidak tahu apa sebenarnya yang diinginkan oleh penuda yang berada di hadapannya ini. “Begini, Mang. Cacing 'kan sekarang nge-latih karate sudah lumayan padat, seminggu tiga kali keluar. Enggak ada yang jaga parkir di sini di hari Sabtunya, karena saya ke kampus dan Cacing juga nge-latih. Kalau bisa Mamang bantu-bantu jaga parkir di hari Sabtu, nanti sekalian hari Minggunya juga.” Mang Jasa sejenak terdiam, dia berusaha memahami kalimat yang diucapkan oleh Mikail tadi. Mikail sempat melihat sebuah senyum kecil di wajah laki-laki itu, hatinya tiba-tiba merasa gembira karena pasti laki-laki berkumis berantakan di depannya pasti mau walaupun belum diucapkan dengan kalimat. “Gimana, Mang? Bisa?” kata Mikail tak sabar menunggu lagi. “Insya Allah, Mamang bisa bantu jaga parkir di haru Sabtu dan Minggu, Jang.” “Alhamdulillah, besok sudah hari Sabtu berarti mulai jaga ya, Mang.” “Siap. Komandan.” Mang Jasa memberikan hormat kepada pemuda di depannya dengan gaya militer. Dalam hatinya laki-laki itu gembira karena sebentar lagi akan ada kerjaan tambahan yang berarti akan ada dana tambahan untuk anak dan istrinya. Padahal baru tadi sholat Jumat dia berdoa supaya rezekinya ditambahkan, ternyata sang Maha Kaya mengabulkan doanya. Mikail juga merasa terbantu dengan kesediaan mang Jasa, dia tidak pusing lagi siapa yang akan menjaga parkir saat dia pergi ke kampus, “Mamang balik deui ka jero nya, Jang, bisi aya nu neang[8].” Mikail mengangguk mengiyakan seraya mengacungkan jempol tangan kanannya, Mang Jasa balik kanan dengan hati yang gembira. Terdengar sebuah pesan masuk ke ponsel Mikail, tertulis nama Senja di sana. Mikail membuka pesan itu, mungkinkah gadis itu mengabari sudah sampai ke Balikpapan setelah izin kemarin mau pulang dulu? “Kak Mikail, aku diculik Dicka. Sekarang aku disekap di sebuah pertokoan kosong di perempatan samping Bank BRI. Tolong aku,” tulis pesan itu. Mikail tersentak membaca chat yang sama sekali tak disangka isinya itu. “Sebentar deh, Mang.” Kalimat Mikail menghentikan kembali langkah Mang Jasa yang belum terlalu jauh. “Aya naon deui, Jang?” Setelah laki-laki dengan kumis berantakan itu mendekat, Mikail memperlihatkan isi chat yang baru saja diterimanya “Waduh, kumaha ieu?[9]” Wajah Mang Jasa terlihat panik melengkapi wajah Mikail yang mulai digelayuti rasa khawatir. “Saya harus menolong Senja segera, Mang,” kata Mikail meraih jaket kulit warna hitamnya yang digantungkan di pohon mangga. Dia lalu bergegas pergi menuju kendaraan roda duanya yang diparkir tak jauh. “Enggak menunggu Cacing dulu, Jang?” “Mamang tolong kabarin Cacing ya, saya duluan.” Mang Jasa mengangguk seraya meraih ponsel di kantongnya. Mikail secepat kilat men-starter motornya, beberapa detik kemudian motor matic itu sudah hilang ditelan gelap. Perjalanan menuju ke tempat yang disebutkan oleh isi pesan itu tidak memakan waktu lama karena memang Mikail menarik gasnya dengan kekuatan penuh. Mikail mengendap mendekati komplek pertokoan itu, dia mendorong gerbangnya yang sudah rusak dimakan karat. Pertokoan kosong itu cuma diterangi lampu neon ala kadarnya. Dia masuk dengan hati-hati sekali, menyamarkan diri dengan gelap malam. Beruntung malam ini dia memakai jaket dan celana warna hitam sehingga bisa melekat dengan gulita. Suasana terasa lengang sekali di sana, tidak terlihat ada aktifitas manusia, bahkan tidak ada tanda-tanda sedang terjadi sesuatu. Tentu saja lengang karena ini kan memang kosong, kata pemuda itu dalam hatinya. Sempat tebersit di pikiran Mikail bahwa ini adalah sebuah jebakan, tapi bagaimana mungkin? Jelas sekali tadi Senja yang  mengirim pesan tersebut,  dia meminta pertolongan karena diculik. Mikail teringat dengan pesan yang diterimanya tadi, segera dia mengambil ponselnya. Untuk memastikan, dia membaca lagi isi pesan tersebut. Komplek pertokoan kosong di perempatan tidak ada lagi yang lain di sini. Saat pemuda itu berusaha mengingat lokasi lain selain di tempat dia berada, sebuah pesan masuk lagi ke ponselnya. “Kak Mikail, sudah sampai mana?” tulis pesan itu. “Aku sudah sampai di komplek kosong 'ni. Kamu ada di mananya?” “Aku disekap di toko yang tiga lantai, Kak. Paling pojok cat warna biru.” Mikail mengarahkan pandangannya ke sekeliling, mencari ruko tiga lantai yag disebutkan oleh pesan Senja. Sebuah toko menjulang lebih tinggi dari yang lainnya terlihat di sebelah Selatan, walau tersamarkan oleh gelap malam, mungkin itu yang dimaksud oleh Senja. “Oke, tunggu aku akan ke sana. Ada berapa orang di sana yang jaga?” “Kosong, Kak. Enggak ada orang, enggak ada yang jaga sama sekali.” Mikail mengernyitkan dahi. Apakah mungkin ini sebuah jebakan untuknya? Bagaimana mereka menyekap seseorang tanpa ada penjagaan sama sekali? “Kalaupun tidak dijaga, berarti  itu bagus, akan mudah untuk membebaskan Senja,” bisik hati Mikail. Dia bergegas menuju ke lokasi yang disebutkan tadi. Ruko itu nampak sepi dengan penerangan ala kadarnya, sebuah lampu neon kecil menggantung dengan watt tidak terlalu besar. Beruntung, toko di sekitarnya dalam keadaan gulita, tanpa ada lampu yang meneranginya, mungkin karena sudah lama tidak diperhatikan oleh pemiliknya jadi dibiarkan terbengkalai. Hal ini memudahkan Mikail untuk bisa mendekat lagi tanpa terlihat. Rolling door ruko tersebut terbuka setengah, bagian dalamnya gelap, sinar lampu di teras hanya meraih beberapa sentimeter saja dari gerbang tersebut. Mikail mengambil kayu kaso yang tergeletak tak jauh dari tempatnya berdiri, panjangnya berukuran kurang lebih satu meter. Dia memukulkan kaso itu beberapa kali ke lantai untuk memastikan cukup kuat untuk digunakan sebagai senjata. Tiba-tiba, Sebuah hantaman keras mendarat di punggungnya, itu membuatnya hampir saja terjerambab ke lantai. Gelak tawa terdengar ramai sekali setelahnya. “Gotcha, Tukang Parkir b*****h!”  Mikail berusaha menguasai dirinya yang terhuyung lalu dia membalikkan badannya. Terlihat Dicka terkekeh sambil memainkan baseball bat di pundaknya, diikuti tertawa anak buahnya. Entah berapa jumlah mereka. “s**t!” Mikail mundur beberapa langkah dan bersiap-siap dengan kaso di tangannya. Pukulan tadi membuatnya sedikit pusing. “Kena juga lo gue jebak, Tukang Parkir.” Dicka masih terkekeh melengkapi kalimatnya. “Lo menjebak gue? Ini jebakan? Maksud lo gimana, Dickhead?” “Ini namanya jebakan Betmen,” kata Dicka yang disambut tertawa lebih keras dan lebih ramai lagi. “Enggak ada Senja di sini, Tukang Parkir Sialan. Enggak ada pacar lo di sini.” “Jadi maksudnya?” “Enggak usah heran begitu, Tukang Parkir. Gue jelasin supaya nanti lo enggak mati penasaran, karena hari  ini lo bakalan finish, mati,” Dicka mengeluarkan sebuah ponsel dengan casing warna biru langit. “Ponselnya Senja ada di gue, anak buah gue kemarin mencopetnya di Bandara.” “Oh, begitu cara main lo, Dickhead.”  Mikail mundur selangkah dan memasang kuda-kuda, dia bersiap-siap dengan kemungkinan terburuk yang akan terjadi. Pemuda itu teringat kemarin Senja pamit hendak pulang sebentar ke Balikpapan, setelah itu dia belum memberi kabar sama sekali. Padahal gadis itu berjanji untuk mengabari jika sudah sampai. Semalam memang ada yang menelpon ke ponselnya beberapa kali tapi tidak di angkatnya, nomornya tidak dikenal. Baru tadi sore Senja mengabari dia diculik dan ternyata itu cuma jebakan si Dickhead. “Gue ingat malam di mana lo mempermalukan gue di depan Senja. Malam ini lo harus bayar rasa malu gue dengan nyawa lo.” Dicka memberi kode kepada anak buahnya untuk menyerang. Mereka menyerang bersamaan. Entah berapa orang yang menyerang, mungkin sekitar sepuluh sampai lima belas orang, Mikail tak sempat untuk menghitungnya karena mereka menyerang bersamaan dengan bersenjatakan tongkat baseball, golok, clurit dan potongan besi. Mikail menangkis dengan senjata di tangannya dan mendaratkan tinju dengan tinju kirinya, sebuah tendangan ikut menyerang di saat ada kesempatan. Satu dua orang penyerang itu mulai terjatuhan, anak buah Dicka nampaknya tidak menyangka lawan yang mereka hadapi mempunyai ilmu bela diri yang lumayan. Mikail dengan mudah menangkis serangan dari mereka dan membuat serangan balik yang luar biasa membuat penyerangan seolah tak berarti. Melihat teman-temannya tumbang satu persatu, membuat mereka menyerang kian membabi buta, melayangkan senjatanya masing- masing ke arah Mikail. Semua serangan itu dengan lihai bisa dihindari dengan baik. Seorang penyerang yang menggunakan bandana di kepalanya menyerang dengan curang, dia melemparkan pasir ke arah mata Mikail yang membuat pemuda itu mundur beberapa langkah. Mikail berusaha merapat ke tembok supaya bisa membersihkan matanya. Pertahanan Mikail yang kosong beberapa detik tidak di sia-siakan oleh mereka. Sebuah pukulan baseball bat keras menghajar sisi kanan betis kaki kanannya, disusul di kaki sebelah kirinya, keras sekali. Kuda-kuda pemuda itu goyah, sementara penglihatannya masih kabur karena pasir. Sebuah pukulan besi di kepala pemuda itu yang membuatnya tersungkur. Tubuhnya terjerembab di lantai keramik depan toko yang kotor. Mikail menggeliat di lantai itu, sambil meraba kepalanya yang nyeri. “Paeh, sia![10]” Si pemukul terbahak sambil memainkan besi yang tadi digunakannya memukul di atas keramik, dia membalikkan tubuh Mikail yang sudah tidak lagi menggeliat. Pemuda itu terkapar diam. “Good, Codet,” kata Dicka sambil mengacungkan jempol ke arah anak buahnya, Codet mengangguk bangga karena pujian tersebut. “Mati atau pingsan itu Tukang Parkir sialan?” Dicka mendekati tubuh Mikail yang tergolek di lantai, dia menyentuh tubuh itu  dengan ujung sepatu kanannya. Dia menunggu laporan Codet yang sedang mengecek tanda kehidupan musuhnya. “Dia masih napas, Boss,” ujar Codet setelah mengecek, kini dia meletakkan jarinya di bawah hidung Mikail. “Habisin, Bos?” Codet melihat ke arah majikannya, dia meminta persetujuan Dicka untuk eksekusi mati tubuh yang terkapar itu, pertanyaannya dijawab dengan sebuah anggukan Sang Bos. Anak buah Dicka itu mengeluarkan sebuah belati dari balik bajunya, dia bersiap menghujamkan belati tersebut tepat ke jantung Mikail. Senjata tajam itu meluncur deras sekuat tenaga Codet. Dan .... Sedetik sebelum belati itu menghujam tubuh tak berdaya Mikail, sebuah botol kosong melayang dan menghantam keras kepala Codet, belati di tangannya terlepas. Dia tersungkur sambil merintih memegangi kepalanya. “b*****t! Cuma pengecut yang main keroyokan.” Suara keras membahana di ruang itu, membelah malam yang sunyi. Tatapan mata mereka beralih ke arah datangnya suara tersebut. Terlihat Cacing berdiri dengan gagah tak jauh dari tempat mereka berdiri. Tangannya memegang  dua buah botol bir kosong yang lalu dilemparkan kearah mereka, serentak mereka menghindar. Beberapa orang dari mereka bersiap mengepung Cacing. Pemuda berbadan kekar itu tertawa kecil, sudah lama dia tidak berkelahi dengan preman-preman bayaran seperti ini. “Ayo kumpul kalian di sini, Pengecut! Semuanya, jangan satu-satu,” tantang pemuda berbadan kekar itu. Cacing mengambil kuda-kuda, bersiap menyambut serangan anak buah Dicka yang masih menunggu aba-aba Bosnya. ______________  Pojok Bahasa [1] Teu (bahasa Sunda): Tidak, Enggak [2] Saha ngaran na Si Hulk teh? Cacing-nya? (bahasa Sunda: Siapa namanya si Hulk? Cacing ya? [3] Ngalatih naon eta Si Hulk? (bahasa Sunda): Ngelatih apa itu si Hulk? [4] Deui (bahasa Sunda): Lagi [5] Aya naon deui?(bahasa Sunda): Ada apa lagi? [6] Euweuh deui (Bahasa Sunda: Enggak ada lagi. [7] Bisi aya pelayan teu asup gawe (Bahasa Sunda): Khawatir ada pelayan yang enggak masuk kerja. [8] Mamang balik deui ka jero nya, Jang, bisi aya nu neang (bahasa Sunda): Mamang balik lagi ke dalam ya, Jang, khawatir ada yang mencari. [9] Kumaha ieu (bahasa Sunda): Bagaimana ini? [10] Paeh, sia! (bahasa sunda): mati, lo!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN