Jam sebelas malam, Gea terkaget bangun setelah mendengar teriakan anak nomor duanya. Jadi, begini lah Gea. Dia sedang mengompres kepala sang anak sulung dengan es batu berbalut handuk. "Kamu kenapa lompat bikin ranjang patah dan lampu kamar kamu rusak? kepala kamu masih dipake atau nggak lagi?" tanya Gea. Wajah Gaishan tersenyum. Senyum yang tak berhenti. "Tuh kan Ma, Gaishan udah nggak waras," ujar Ghifan. "Kata Papa benar deh waktu itu, kita panggil ustad saja biar dirukyah ini si Gaishan." Sedangkan Bushra mengangguk lalu bersembunyi di belakang sang ayah. Dia takut jika benar sang kakak sulung kerasukan. Wajah Busran dongkol. "Kamu kalau sudah mulai gila, bilang. Supaya Papa masukkan ke rumah sakit jiwa terfavorit." "Papa ah, Gaishan kan nyundul lampu kamar karena nggak sengaj

