Pelatihan Sebelum Berangkat

1111 Kata
Hari ini Reihan, Anton, dan kedua anggota interpol lainnya sudah berkumpul di ruang rapat kantor ini. Saat ini Samuel dan Johnson sudah bergabung dalam tim ini. Mereka memang sengaja diminta untuk menemani empat orang yang belum berpengalaman ini.  Sam begitulah Samuel di panggil oleh semua orang, dia dan juga Jo panggilan untuk Johnson akan menjadi guide mereka semua untuk mendaki Gunung Jayawijaya. Merek berdua sudah beberapa kali mendaki Gunung Jayawijaya, karena pelatihan yang harus mereka lalui. Sam dan Jo akan memberikan pengarahan kepada mereka semua sebelum nanti jam dua belas malam ini mereka akan terbang ke Timika. “Apakah diantara kalian ada yang pobia dengan ketinggian? Atau belum pernah naik gunung sebelumnya?” tanya Sam menatap orang-orang yang ada di depannya ini. Semua orang di ruangan ini pun menggelengkan kepala secara bersaamaan. “Bagus kalau begitu. Bagaimana dengan olahraga? Apakah kalian rajin berolahraga? Sekedar lari pagi atau workout ringan di rumah misalkan?” tanya Sam lagi. “Lo nanya kita rajin olahraga atau tidak? Yang benar saja! Apa lo nggak tahu kalau kita setiap hari latihan bertarung?” Tanya Reihan kesal kepada Sam. Sam dan Jo saling berpandangan dan menghela napasnya lemah. “Guys, Jayawijaya bukanlah gunung biasa. Bukan seperti Semeru atau Merapi. Tapi ini gunung tertinggi kedua di Asia. Dan medan yang akan kita lalui sangat curam dan terjal. Butuh stanima dan fisik yang kuat agar kita bisa mencapai puncak dan bertahan dari serangan-serangan yang sudah disusun oleh Pak Leonard. Saya yakin, di sana kita tidak hanya mendaki untuk sampai ke puncak.” Jelas Sam tegas. “Terus?” tanya Anton. “Ya, kita semua harus memiliki stamina yang cukup Kuat untuk bisa sampai ke puncak dan melalui misi ini. Kalau hanya berlatih bertarung tanpa sering melakukan olahraga, fisik kalian tidak akan kuat. Tapi bisa saja sih kalian tetap mendaki, asalakan kalian semua selalu memberitahukan kepada kami kondisi fisik kalian. Karena kita harus beradaptasi dengan cepat saat mendaki nanti. Menuju Jayawijaya ada beberapa alternatif, tapi Pak Leonard mau kita melalui jalur dari PT Tambang Emas karena kita bisa mempersingkat waktu untuk sampai di kaki gunung dan mulai mendaki.” Jelas Sam lagi. Lalu dia menatap Jo untuk menjelaskan lebih lanjut. “Jadi begini, kita akan menuju puncak jaya atau yang biasa disebut pendaki dengan Carstensz Pyramid. Sebelum sampai disana kita akan melewati beberapa posko yang telah disiapkan. Di posko tersebut kita akan mendapatkan suply makanan dan juga pengecekan kesehatan.” Jelas Jo. “Nah, dalam rangkaian Pegunungan Jayawijaya dan Sudirman yang akan kita lalui nanti ada beberapa puncak sebagai titik target kita.  Yang pertama puncak Carstensz Timur berada di ketinggian 4400 meter di atas permukaan laut (mdpl), lalu ada Puncak Yamin berada di ketinggian 4535 mdpl, kemudian puncak Idenberg berada di ketinggian 4673 mdpl, ada Puncak Trikora 4730 mdpl, Puncak Mandala 4760 mdpl dan yang terakhir Puncak Carstensz Pyramid yang berada di ketinggian 4884 mdpl.” Jelas Jo lagi. “Waw… dan kita harus sampai di sana? Dalam waktu berapa lama?” tanya Andreas sedikit ngeri mendengar penjelasan Jo tadi.  “Pak Leonard memberikan waktu paling lama satu bulan. Karena rencananya dua bulan lagi kalian semua akan dikirim ke Brazil untuk menjalankan misi yang cukup sulit. Kemungkinan besar kalian pun akan bersinggungan dengan kelompok pengedar obat-obatan dan juga perdagangan manusia yang ada di Kolombia juga Brazil. Jadi sebelum waktunya tiba kalian harus mengikuti serangkaian pelatihan dan juga pembekalan yang melatih fisik serta mental kalian semua.” Jelas Sam. “Jika kita bisa menyelesaikan misi ini lebih cepat maka lebih banyak juga waktu kita beristirahat. Tapi, kami tidak ingin memaksakan hal itu. Kita akan menyesuaikan dengan kondisi fisik kalian. Jadi selama di sana kita tidak boleh memforsir tenaga dan juga beraktifitas terlalu berat.” Jelas Sam lagi. “Gimana bisa tidak beraktifitas terlalu berat. Kan kita di sana juga akan dilatih untuk bertarung bukan?” tanya Abigail sambil mendengkus. “Ya, benar. Tapi itu akan dilakukan jika kondisi fisik kita sudah bisa beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Atau dengan kata lain kita akan menghadapi semua pertarungan di hari ketiga atau hari keempat kita di sana.” Jelas Sam dengan sabar. Dia paham, semua orang ini adalah orang baru, tapi mereka cukup salut dengan cara bertahan hidup dan juga cara tubuh mereka beradptasi dengan setiap lingkungan dan misi yang mereka dapatkan. “Apakah kalian termasuk dalam tim Alpha juga?” tanya Anton kepo. Karena dia penasaran dengan dua orang yang ada di depannya ini. Sedari tadi dia mencari informasi tentang mereka berdua tapi tidak menghasilkan apa-apa. “Bisa dibilang begitu. Kita dalam posisi yang sama. Tapi kalau kami berdua lebih kepada petinggi yang lain.” Jelas Jo. “dan berhentilah mencari segala sesuatu tentang kami.” Lanjutnya sambil menyeringai dengan tatapan yang sangat mengerikan. Anton yang ketahuan langsung menyengir garing saat ini. “Hehehehehe… habis gue kepo sih. Maaf ya.” Jawab Anton sambil menggaruk-garuk tengkuk lehernya yang tidak gatal. “Bro, lo ada yang mau ditanyain nggak nih sama mereka. Jangan diem aja napa.” tanya Anton kepada Reihan. Sedari tadi Reihan hanya bertanya sesekali selebihnya dia hanya mendengarkan penjelsan dari Sam maupun Jo. “Ya, apa yang mau gue tanya udah kalian tanyain, jadi ngapain gue ulang.” Jawab Reihan sekenanya. “Oh iya,” sela Sam. “Apakah ada diantara kalian yang mengerti masalah obat-obatan apa saja yang kita perlukan serta tindakan medis apa yang bisa dilakukan jika salah satu dari kita mengalami AMS?” tanya Sam lagi. “Ya, gue tahu apa saja yang harus dilakukan kalau ada yang mengalami AMS, untuk obat-obatan juga sudah gue siapkan. Karena Pak Leonard sudah membertahu kemarin.” Jelas Reihan kepada Sam. AMS atau Accute Mountain Sickness biasa disebut dengan penyakit gunung. Bisa terjadi saat pendaki berada atau bermalam di ketinggian tertentu. Sekitar 25% penyakit gunung ini dialami saat pendaki berada di ketinggian 2400 mdpl. Dan sekitar 40-50% terjadi saat pendaki berada diketinggina 3000 mdpl.  Kondisi ini bisa terjadi pada usia tua atau pun muda. Bisa dialami oleh perempuan atau pun laki-laki, walaupun pada penelitian perempuan lebih berisiko mengalami ini dibandingkan laki-laki. Kondisi ini disebabkan oleh penurunan kadar oksigen dan tekanan udara  yang semakin berkurang saat mendaki ke tempat yang lebih tinggi. “Baiklah kalau begitu. Sebaiknya kita bersiap untuk melakukan pendakian ini. Jangan minum alkohol sebelum kita berangkat. Dan bawa pakaian yang cukup tebal dan juga hangat. Karena di atas sana terkadang suhu sangat ekstream. Tapi jangan terlalu banyak membawa barang. Untuk gadgets dan alat komunikasi lainnya akan disediakan di pos pertama. Jadi untuk handphone dan juga laptop sebaiknya ditinggalkan saja di sini. Di sana kita tidak membutuhkan itu.” Jelas Jo kepada mereka semua. “Ya, jadi gue hidup tanpa bebeb gue dulu dong ya? Baiklah kalau begitu.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN