2. Mengasuh Anak

1602 Kata
Jam menunjukkan pukul lima pagi, ia sudah selesai mandi setelah shalat subuh tadi. Pukul setengah tujuh ia sudah sarapan dulu. Sebelumya ia mencuci piring supaya pekerjaan ibunya sedikit lebih ringan. Adiknya belum bisa melakukan tugas seperti yang ia lakukan, tapi meski begitu Intan bukan anak yang manja. Semua dirasa sudah cukup beres dan ia mengambil ponselnya yang baru ia cas semalam. 'Huft, ada banyak panggilan rupanya,' batinnya sambil melihat siapa yang melakukan panggilan ke nomornya. Lalu, tiba-tiba ada sebuah panggilan lagi dari nomor baru yang tak tersimpan di ponselnya. Emi berangkat cukup pagi saat ia baru saja mendapat telepon dari wanita yang kemarin mewawancarai dirinya untuk bekerja menjadi baby sitter di rumah anaknya. Sesampainya disana, ternyata dia sudah ditunggu sejak dari tadi. Meski mendadak tapi Emi terbiasa bangun pagi jadi ia tak begitu terburu-buru. "Assalamu'alaikum, maaf, Bu. Saya baru sampai, tadi HP nya baru selesai di cas," ucap Emi pada wanita yang diam sambil menatapnya itu "Ya sudah tidak apa-apa, salahku juga aku mendadak menghubungi mu. Anakku pergi keluar kota dan Iva tidak ada yang menungguinya, sekarang aku mau pergi ke pengajian," "Jadi, bagaimana, Bu?" "Mulai hari ini kamu kerja disini," ucapnya. Emi masih belum yakin dengan pendengarannya. Ditanyakannya lagi pada wanita paruh baya itu tentang diterimanya dirinya bekerja mengurus cucunya. "Benar, Bu saya diterima bekerja?" "Iya, tadi kan aku sudah bilang. Mulai hari ini kamu kerja jaga cucuku," ucapnya dengan nada jelas. Emi tersenyum dan merasa senang, ia tak mengira jika ia benar-benar di terima bekerja. "Alhamdulillah, terima kasih, Bu," "Iya, tapi maaf ya. Mendadak banget. Duduk dulu, sini!" "Baik, Bu," Emi duduk sambil mendengarkan apa saja yang harus ia kerjakan dan akan ia pegang saat anak itu tidur nantinya. Ia tidak mencuci pakaian dan juga tidak menyetrika, hanya mengasuh anak itu dan menyiapkan makanan untuknya. "Jadi, saya memasak juga ya, Bu?" tanya Emi. "Nggak, nggak perlu memasak. Nanti saya kasih masakan matang. Tahu-tahu di meja makan sudah ada nantinya, kami sudah biasa beli matang," ucap Ibu Rofi, nama Nenek Iva. "Baik, Bu," "Oh, ya. Ini cucu ku, Iva namanya," Emi tersenyum saat dipertemukan pertama kalinya dengan Iva, anak yang masih terbilang cukup kecil tanpa kehadiran Ibunya. "Maaf, Bu lancang bertanya." "Ya, ada apa?" "Ibunya Iva kemana, ya?" "Oh, Ibunya ada di surga," ucapnya sambil tersenyum. "Innalilahi wa Inna ilaihi roji'un, maaf, Bu." "Nggak apa-apa, memang dia meninggal setelah melahirkan Iva waktu itu,” Bu Rofi menghela napas panjang dan bercerita lagi. “Ia masih cukup muda saat itu, karena ketika melahirkan ia masih berusia dua puluh lima tahun,” “Menikah muda, ya Bu?” “Sebenarnya nggak juga, mereka menikah di usia yang sudah sangat matang dan pas untuk menikah karena mereka juga sudah berpacaran cukup lama,” “Oh, ya Bu,” “Emi, kamu berapa tahun sekarang?" "Saya, Bu?" "Iya, berapa tahun usia kamu sekarang?" Emi tersenyum malu, ia akan menjawab tapi rupanya Ibu Rofi menatapnya dengan tatapan yang seolah penasaran. "Kok, nggak jawab, berapa tahun, Em?" "Mhh, malu, Bu kasih tahunya," "Memang kenapa harus malu," ujarnya. "Soalnya, Emi kan nggak lulus SMA jadi masih kecil, mhh, 17 tahun," ucap Emi. "Apa? 17 tahun? Kok, bongsor begini, aku kira malah 20 tahun," ujarnya. Emi meringis dan tersenyum malu meski hatinya sedikit kesal karena ia dianggap lebih tua dari usianya. "Mmhh, maafin ibu, becanda tadi. Pantas 17 tahun, lah. Masih cantik begini, mungkin kamu anak pertama jadi terlihat dewasa," ucap Bu Rofi. Emi mengangguk dan tersenyum kemudian memanggil Iva agar mendekat padanya. "Iva, nanti sama Mbak Emi, ya. Nenek mah pergi ke pengajian," ucap Bu Rofi merayu Iva agar mau ditinggal olehnya. Iva datang mendekat dan ia agak takut untuk berjalan menuju ke arah Emi. Emi mengajak Iva bersalaman dan mengenalkan dirinya. "Iva, kenalkan ini Mbak Emi, nanti Mbak Emi yang akan menemanimu disini nantinya, yuk ikut Mbak, kita main sama-sama,” Anak kecil berusia tiga tahun itu tampak sedikit ketakutan saat ia mendekatinya. Tapi, ia punya cara agar anak itu mau diajaknya bermain dan dekat dengannya. Kini, setelah dua minggu ia melakukan pekerjaan sebagai pengasuh Iva, Emi bertemu dengan Ayah dari Iva. Setelah dua minggu ini, ia memang baru bertemu dengan pria duda yang sibuknya minta ampun. “Ehm, ini Mbak Emi yang jagain Iva ku, ya?” Emi mengangguk dan mengulurkan tangan pada pria itu. Mereka saling mengobrol, pria itu mengatakan jika Iva kerap bercerita tentang dirinya dan malam-malam ingin minta ditemani. “Mungkin kangen, Pak. Kalau siang, kan Iva selalu main berdua dengan saya,” ujar Emi. Pria itu bernama Adam Nabhan, Emi melihat dari kertas yang dikirimkan seorang kurir dan tertera nama pria itu. Bu Rofi hari ini tidak datang, karena sedang berada di rumah sakit menjenguk tetangganya bersama sekelompok warga di lingkungan rumahnya. *** Hari ini, Emi pertama kalinya gajian dan ia sangat deg-degan menanti pertama kalinya menerima gaji yang ia dapatkan dari mengasuh anak. Ayahnya Iva sedang di rumah dan menemaninya bermain sebelum ia datang. “Maaf, Pak. Saya sedikit terlambat, tadi motornya dipakai sama tetangga, dan Emi disuruh mengantarnya ke pasar,” “Oh, nggak apa-apa. Kebetulan tidak banyak tugas di kantor, ini ada titipan dari ibu, tolong diterima, ya?” Emi menerima sebuah amplop putih panjang dan mengucapkan terima kasih. Hari demi hari berlalu, Emi mulai betah bekerja. Ia bahkan telah melupakan kesedihannya yang telah di khianati mantan kekasihnya. Menjadi pengasuh anak malah menjadi tantangan terbaru baginya dan ia menjadi sangat senang ketika Bu Rofi dan juga Pak Adam mengajaknya liburan. Mereka mengadakan liburan ke kebun binatang. Suatu tempat yang membuat Emi menjadi teringat dengan Ayahnya. Kata ibunya, Ayahnya kerap mengajak mereka ke kebun binatang dan melihat-lihat satwa yang ada di sana. Emi kerap membeli pakan burung jika ia mampir di tempat penangkaran burung. Ayahnya memang kerap mengajak pergi liburan, tapi Emi sudah lupa bagaimana rupa Ayahnya kini. Emi dan keluarganya Iva telah kembali berlibur dan mereka pulang sore hari. “Bu, Emi pamit pulang dulu, ya,” pamit Emi pada Bu Rofi yang sedang membungkus oleh-oleh. "Ini, buat ibu kamu, terima ya Em," "Tapi, Bu. Ini sudah cukup kok yang Emi beli tadi," "Sudah bawa saja ini!" Emi menerima kantong plastik yang tadi disiapkan Bu Rofi yang ternyata untuk dirinya. “Adam, kesini Nak!” panggil Bu Rofi. Pria itu datang mendekat dan melirik ke arah Emi yang sedang bersiap untuk pergi. “Antar pulang Emi ke rumahnya, ini sudah mulai hampir maghrib, kasihan kalau dia menunggu ojek online, kelamaan,” ucap Bu Rofi. Emi sangat terkejut dengan ucapan Bu Rofi yang menyuruh Ayahnya Iva untuk mengantarnya pulang. “Tapi, Bu. Nggak usah, Emi sudah mau pesan ojek online saja, kok,” ucap Emi dengan cepat. Meskipun bisa pulang dengan jalan kaki, tapi jalannya cukup gelap saat ke arah jalan dia pulang. Ia merasa sungkan jika harus duduk berdua di depan bersama dengan pria itu. “Ayo, Dam. Antar Emi. Buat anak gadis jangan pulang sendirian, nanti kamu ada yang culik, lho,” Adam dan Emi tertawa kecil berbarengan dan saling memandang, akhirnya dengan paksaan Bu Rofi keduanya kini naik ke motor dan segera berangkat menuju ke rumah Emi. Mereka akhirnya menjadi sering bersama saat Adam kadang mengantar Emi pulang ke rumahnya jika Emi pulang kemalaman. Kadang memang Emi diminta untuk menunggu Iva sampai agak malam sedikit agar Adam bisa lembur dengan tenang. Meskipun ada Bu Rofi, tapi Iva kini hanya mau tidur dengan Emi saja. Alhasil, kini Emi lebih sering bertemu dengan Adam. Lama kelamaan Adam juga mulai terbiasa dengan pelayanan Emi yang kadang membuatkan minuman hangat untuknya. *** Emi sedang duduk di kursi dekat dengan kamarnya. Ia sedang menikmati hari liburnya setelah kemarin liburan bersama Iva dan keluarganya. Ibunya duduk dekat dengannya dan menanyakan tentang temannya yang datang hari ini. “Tadi siang ada temanmu datang, laki-laki kesini,” “Laki-laki, Bu?" “Iya, laki-laki, yang pernah kesini waktu itu,” ucap ibunya. “Siapa, sih ya Bu?” Emi merasa heran sekaligus penasaran, lalu adiknya muncul di balik pintu kamarnya dan berkata sambil meledek. “Bilang saja pacar Mbak Emi, Bu,” ucap Intan. Emi langsung teringat Vino dan memberikan ciri-ciri laki-laki yang datang kesini. “Iya, itu dia Vino, Bu,” ucap Emi. Padahal dia sudah benar-benar melupakannya, tapi ternyata Vino datang lagi. “Oh ya, ibu baru ingat namanya Vino, dia masih kuliah, ya?” Emi mengangguk dan berpamitan masuk ke kamar karena mengantuk. “Aku ngantuk, Bu. Mau tidur dulu,” “Ya, sudah. Kamu kan cape seharian menjaga Iva, Intan kamu juga tidur kaya Mbak Emi, yuk ibu temani!” Intan memang masih kecil, tahun ini ia baru naik kelas 4 SD. Makanya, Ibu begitu menyayangi Intan. Dulu, sewaktu Ayah mereka pergi Intan masih sangat bayi, bahkan lahir pun tanpa Ayah disisi mereka. Kehidupan yang berat melingkupi kehidupan mereka. *** Emi duduk sambil melihat di layar HP nya banyak berita mengenai kejadian di kota ini yang diberitakan di media sosial. Setiap berita yang ditayangkan cukup ngeri dan itu membuat dia makin jarang keluar rumah. Hanya waktu tertentu saja ia dan adiknya keluar dari rumah, dan itupun hanya ke warung saja. Baru akan membuka satu berita, ia mendapat sebuah pesan dalam sebuah akun miliknya yang berlogo hijau itu. ‘Vino? Mau apa sih dia?' batin Emi. Pria itu mengiriminya sebuah pesan. Dalam pesannya, ingin bicara dengannya, berdua saja dan sekarang. Tapi, tak dibuka secara keseluruhan pesan itu. Ia sudah tak mau berhubungan lagi dengan Vino yang playboy. Emi melihat jam di dinding. Jam sembilan malam, untungnya ia belum membuka pesan itu jadi Vino pasti bakal mengira ia sudah tidur. Ia sengaja tak membukanya karena masih terngiang saat pria itu merangkul mesra seorang gadis SMA dengan begitu mesra. Ia tak bisa melupakannya begitu saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN