Brak!!!
Kayla membanting berkas ke atas meja dengan keras sehingga suara lemparan berkas itu menggema di dalam ruangan pribadi CEO cantik itu.
“Kenapa mereka bisa membatalkan kerja sama dengan perusahaan kita Can?” tanya Kayla dengan nada penuh emosi.
“Mereka memilih menjalankan kerja sama dengan perusahaan Alexander Grup Kayla. Mereka meragukan kredibilitas perusahaan dan kinerja kita, Kayla,” jawab Cantika dengan rasa takut yang menyelimuti dalam dirinya saat memberi tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi kepada sahabat baiknya itu saat ini.
Kayla menggeram kesal saat mendengar apa yang diucapkan oleh Cantika. Kedua telapak tangan Kayla terkepal dengan kuat untuk menahan rasa kesal yang menyelimuti dalam dirinya saat ini.
Kayla meraih kunci mobil dan ponsel yang berada di atas meja kerjanya lalu melangkahkan kaki pergi keluar meninggalkan ruangannya.
“Kamu ingin kemana Kayla?” tanya Cantika yang kini berhasil mengikuti langkah kaki sahabat baiknya itu.
“Alexander Grup,” jawab Kayla tanpa mengalihkan tatapan ke arah sahabat baiknya itu.
“What? Jangan mencari musuh Kayla,” sambung Cantika.
Kayla menghentikan langkah kakinya saat mendengar apa yang diucapkan oleh sahabat baiknya itu, tatapan menghunus tajam ditujukan oleh Kayla kepada Cantika yang kini sedang berada di hadapan dirinya.
“Apa kamu bilang? Jangan mencari musuh? Siapa yang mencari musuh? Dia apa aku?” bukan menjawab apa yang ditanyakan oleh Cantika. Namun Kayla melontarkan pertanyaan kembali kepada Cantika.
Diam..
Cantika diam seribu bahasa saat mendengar apa yang diucapkan oleh sahabat baiknya itu.
Ting..
Suara denting pintu tabung kapsul yang terbuka lantas Kayla masuk ke dalam meninggalkan Cantika yang masih bergeming di tempat berdirinya saat ini. Kayla menatap ke arah Cantika yang masih berada dalam lamunannya.
“Kamu ingin ikut apa masih akan tetap berdiri di situ sampe jamuran?” tanya Kayla dengan menahan tombol tutup di dinding tabung kapsul khusus pimpinan itu.
Duarrrr..
Cantika tersadar dari lamunannya saat mendengar suara lembut yang tidak asing masuk ke dalam indera pendengarannya saat ini. Sontak Cantika menoleh ke arah sumber suara di mana tampak Kayla kini telah berdiri di dalam tabung kapsul khusus pemimpin itu. Tanpa menunggu lama dan berbicara satu patah katapun kepada sahabat baiknya itu. Cantika masuk ke dalam tabung kapsul menyusul Kayla yang kini sedang menunggu dirinya di sana.
Kayla memutar kemudi mobil meninggalkan perusahaan dengan kecepatan penuh menembus jalanan ibu kota yang tampak lengang menuju ke perusahaan Alexander Grup pagi ini. Kayla mencengkeram dengan erat dengan erat kemudi mobilnya untuk menahan rasa kesal dan amarahnya kepada laki-laki yang bernama Revan itu.
***
“Apa maksud Anda merebut klien bisnis perusahaan saya?” tanya Kayla dengan mata menyalah ke arah Revan.
Revan yang sempat tercengang dengan kehadiran Kayla di dalam ruangannya itu lantas mengibaskan tangan ke arah sekretaris pribadinya unyuk keluar meninggalkan ruangannya saat ini. Revan melangkahkan kaki menghampiri di mana tempat Kayla dan Cantika berdiri saat ini.
“Aku merebut klien bisnis kamu? Apa aku tidak salah mendengar apa yang kamu katakan tadi?” Bukan menjawab apa yang ditanyakan oleh Kayla. Namun Revan melontarkan pertanyaan kembali kepada Kayla.
Kayla menatap ke arah Revan dengan tatapan menghunus tajam. Tatapan penuh dengan rasa kebencian juga tampak jelas di pendar netra Kayla kepada laki-laki itu.
“Kenapa kamu selalu merebut apa yang telah aku dapatkan? Kenapa kamu selalu menghancurkan hidup aku? Apa salah aku sama kamu? Hah?” Kayla berusaha menahan buliran kristal bening yang menganak pinak di pelupuk matanya saat ini.
Revan menyunggingkan senyuman sinis saat mendengar apa yang ditanyakan oleh wanita yang kini sedang tampak kesal kepada dirinya itu. “Aku tidak suka ada wanita yang lebih sukses daripada aku atau laki-laki. Apa kamu paham di mana letak kesalahan kamu sejak dulu? Kamu selalu dapat mengalahkan aku sejak dulu? Kamu selalu menjadi yang pertama, sedangkan aku sellau menjadi yang kedua setelah kamu.”
Kayla hendak membuka mulu membalas apa yang diucapkan oleh laki-laki yang sangat menyebalkan itu. Namun Kayla mengatupkan mulutnya kembali saat mendengar suara dering ponsel di dalam tas kerjanya saat ini. Kayla mengambil ponsel di dalam tas kerjanya untuk melihat siapa ID pemanggil yang menghubunginya pagi ini. Kayla menautkan kedua alis saat melihat ID pemanggil yang tertera dari layar ponselnya itu yakni guru di sekolah TK putra semata wayangnya. Air muka Kayla seketika berubah setelah melihat ID pemanggil di layer ponselnya saat ini. perasaan khawatir seketika langsung menyelimuti dalam benak Kayla.
Tanpa berpikir panjang Kayla lantas mengusap tombol berwarna hijau di layer ponselnya untuk menerima panggilan telepon dari guru sang putra itu.
“Assalamu’alaikum..” Kayla menyapa guru sang putra dengan salam.
“Wa’alaikumsalam,” balas guru yang bernama Rachel dari seberang line.
“Sebelumnya mohon maaf ibu ada apa iya ibu menghubungi saya pagi ini?” Apa Keenan nakal di sekolah bu?” tanya Kayla.
“Saya mohon maaf bu Kayla karena saya harus menyampaikan berita buruk tentang Keenan,” jawab Rachel.
Deg..
Detak jantung Kayla seketika seakan berhenti berdetak saat mendengar apa yang diucapkan oleh guru dari sang putra di sekolah taman kanak-kanak itu.
“K-Kabar buruk apa itu bu?” tanya Kayla lagi.
Guru dari Keenan itu memberikan penjelasan kepada Kayla tentang apa yang kini sedang terjadi kepada Keenan.
Dak..
Ponsel yang berada di dalam genggaman tangan Kayla seketika terhempas ke lantai setelah Kayla mendengar kabar dari guru sekolah sang putra. Kaki Kayla seketika seperti jelly dan terasa lemas. Namun Kayla lantas pergi meninggalkan ruangan Revan tanpa berbicara kepada Revan dan Cantika sepatah katapun saat ini.
“Dasar wanita tidak tahu sopan santun. Datang tanpa diundang. Pergi tanpa pamit. Miri seperti Jailangkung,” ucap Revan dengan nada dingin.
Plak!!!
Satu tamparan keras didaratkan oleh Cantika ke wajah Revan setelah Cantika mendengar apa yang diucapkan oleh laki-laki itu kepada sahabat baiknya.
“Jaga bicara Anda jika Anda tidak tahu apapun tentang Kayla. Atau Anda akan menyesal di kemudian hari nanti Pak Revan,” ucap Cantika dengan nada tinggi karena merasa kesal dengan apa yang diucapkan oleh laki-laki yang telah membuat hidup sahabat baiknya itu hancur selama ini.
Cantika pergi keluar meninggalkan ruangan Revan setelah mengucapkan apa yang ada di dalam hatinya kepada laki-laki yang menyebalkan itu dan tidak lupa mengambil ponsel milik Kayla yang kini telah hancur berantakan itu.
Sementara itu, Revan mengusap wajah yang baru saja mendapatkan tamparan dari Cantika beberapa waktu lalu setelah wanita itu pergi meninggalkan ruangannya.
“Aku akan membalaskan apa yang telah kalian lakukan kepada aku hari ini. Aku akan pastikan jika perusahaan kamu akan hancur di tangan aku, Kayla..”