Tarik Ulur Sampai Mampus

1464 Kata

Rica masih berdiri ditempatnya setelah memutuskan sambungan telepon dari Dito beberapa menit yang lalu. Gadis itu menatap lurus kearah depan, menatap area taman yang basah akan hujan. Ia kemudian menatap kotak cheesecake dan kado yang ada dalam pelukannya. Sia-sia saja rasanya. Apakah perjuangan selalu menyulitkan seperti ini? Jika ia, para pejuang cinta sepihak diluar sana layak mendapatkan sebutan pahlawan revolusi. Rica mengusap layar ponselnya sekilas. Jam tujuh kurang lima belas menit, dan bagaimanapun keadaannya ia harus segera pulang. Semakin malam ia pulang maka akan semakin panjang pula ocehan Papanya. Hujan sudah sedikit reda, menyisakan rintikkan halus yang masih setia menemani Rica dan kekecewaannya. Karena hari yang sudah semakin menggelap, sebagian orang-orang disekitar Ri

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN