"Uni, mulai hari ini Uni ga usah bersihin kamar Rica ya" Rica menuruni anak tangga kamarnya. Dan saat tengah bersusah payah mengangkat keranjang pakaian kotor miliknya, mata gadis itu tak sengaja melihat sosok Asisten Rumah Tangganya tersebut lewat.
"Loh, kenapa Ca? Barang Rica ada yang hilang ya?" Raut khawatir dan tak enak hati tiba-tiba saja tampak diwajah Uni. Ia merasa tak enak jika ada barang dari majikannya tersebut ada yang hilang.
Walaupun ia tak merasa mengambil ataupun menyentuh barang-barang berharga yang ada dikamar gadis itu sekalipun, tetap saja hanya ia orang lain dari keluarga ini yang keluar masuk kamar gadis itu saat akan membersihkannya.
"Bukan gitu, Ni. Rica cuma mau mandiri gitu loh Ni.. Rica bisa kok beres-beres kamar Rica tanpa Uni bantu"
"Oalah.. Uni kira kenapa" Uni menepuk dahinya berulang kali saat mendengar pernyataan Rica. Ia sangat takut jika selama ia bekerja ada barang majikannya yang hilang. Sebisa mungkin jika sudah ada yang kehilangan sesuatu Uni akan membantu mencari sampai barang tersebut ketemu.
Hal inilah yang membuat keluarga Rica sangat sayang pada Uni. Wanita paruh baya ini sangat mengabdi pada pekerjaannya dan selalu menjunjung tinggi nilai kejujuran. Sangat sulit menemukan Asisten Rumah tangga seperti itu dijaman sekarang bukan?
"Bener nih bisa mandiri?"
"Iyalah Ni, apasih yang Rica ga bisa di dunia ini?"
"Tapikan itu emang kerjaan Uni. Kamu mau nikung posisi Uni dirumah ini ya?" Rica terbahak mendengar guyonan Uni pagi ini. Ia menggelengkan kepalanya tak percaya saat mendengar guyonan sarkas yang Uni lemparkan.
"Siap-siap aja gajinya Uni bagi dua sama Rica bulan depan ya" Keduanya terbahak saling melempar jokes. Membuat suasana rumah terasa begitu ramai karena suara mereka berdua saja.
"Udah ah, Rica mau naruh ini di gudang cuci dulu"
"Awas yang bener ngangkatnya. Baju seragam kamu bisa kusut Rica" Peringat Uni kepada Rica.
Gadis itu hanya tersenyum mendengar seruan Uni. Ia serasa mempunyai dua Mama dirumah ini yang selalu mengingatkan dan memperhatikan lakunya. Dan Rica senang akan itu.
***
"Chika, menurut lo, hadiah yang disukain cowok itu yang kayak apa sih?"
"Buat si duda itu?"
"Ih Chika apaan sih sebutannya ga banget" Rica mendadak jengkel saat Chika terus-terusan memanggil Dito dengan sebutan 'si duda'. Padahal faktanya memang begitu. Tapi Rica risih saja jika ada orang lain yang menyebut Dito begitu.
"Gue belum ngasih restu sih sama lo. Jadi agak enggak sreg kalo lo curhat tentang dia"
"Chik! Lo jadi temen ga suportif banget"
"Gue tuh butuh dukungan kalian juga buat ambil atensinya Om Dito. Kalian kok jahat banget sama gue!" Rica benar-benar ngambek kali ini. Ia mengeluarkan kekesalannya pada ketiga sahabatnya karena masih tidak memberikan dukungan apapun untuk dirinya.
Ia hanya butuh dukungan moral dan kata-kata penyemangat saja. Walaupun palsu, 'pun Rica terima.
Rena dan Elisa yang tadinya sibuk sendiri dengan dunianya tiba-tiba berbalik kearah meja Rica saat mendengar suara Rica yang sangat tidak santai ditelinga mereka.
"Kenapa?" Tanya Rena bingung.
"Ngambek dia,"
"Tuh kan masih dibecandain! Tau ah males. Punya temen kayak ga punya temen" Rica menelungkupkan kepalanya keatas meja, meredam kekesalannya pada para sahabatnya.
"Ca, lo ngambek beneran?" Chika tersentak saat melihat sikap Rica yang beda dari biasanya. Biasanya temannya satu ini bukan termasuk orang yang mudah baperan. Tapi kali ini Chika rasa ceritanya berbeda.
"Kalian ga pernah serius nanggepin cerita gue. Cuma gue yang serius nanggepin kalian kalo curhat. Emang apa yang salah sih sama duda? Gue bukan pelakor, gue juga bukan perusak hubungan orang. Dia lajang dan gue lajang. Gue salah apa sampe orang-orang disekeliling gue ga dukung keputusan gue buat deket sama dia?"
Rena, Elisa dan Chika tertegun mendengar suara hati Rica. Tak pernah mereka melihat gadis ini sampai semarah itu. Yang mereka tau Rica hanyalah gadis manis yang petakilan, dan jauh dari kata baperan.
"Oke, oke kita ngerti kok.. Lo tenangin diri lo dulu yaa.." Elisa mengusap-usap punggung Rica pelan, seolah memberikan kenyamanan dan dukungan terhadap gadis itu.
Untung saja sekarang adalah jam kosong sehingga tak menarik perhatian banyak orang. Dikelas sepi sekali siswa yang sibuk dengan gadgetnya masing-masing. Sisanya lebih memilih ke toilet dan kantin, menghabiskan waktu jam kosong.
"Lo bisa curhat ke kita kok. Maafin kita yaa yang ga peka lo maunya apa" Rena ikut menimpali,
"Gue minta maaf, Ca. Udah nyepelein perasaan lo. Gue bener-bener minta maaf. Gue ga maksud gitu kok" Chika kembali buka suara.
Perlahan Rica mengangkat kepalanya menatap ketiga temannya. Matanya sudah berkaca-kaca menahan kekesalan yang hampir berujung air mata.
"Jangan nangis.." ucap Rena saat melihat raut wajah Rica yang murung
***
Rica pulang dengan paperbag berisi penuh benang rajut kualitas premium berwarna coklat muda. Senyumnya mereka sepanjang perjalanan pulang dari Mall sampai rumah.
Tadi, saat Rica mulai tenang, ia kembali memulai diskusi kecil dengan ketiga sahabatnya. Kali ini atensi penuh benar-benar mereka berikan untuk Rica.
Awalnya hadiah-hadiah klasik biasa yang pada sahabatnya sarankan. Mulai dari Jam tangan, Sepatu, Dasi sampai dengan ide untuk memberi underwear.
Sampai akhirnya muncul ide untuk memberi Dito sesuatu yang spesial. Sesuatu yang dibuat dengan tangan dan cinta yang tulus. Yaitu sweeter rajut.
Perlu kesabaran, ketekunan dan ketelitian untuk membuat satu Sweeter rajut. Dan itulah yang mendasari ketiga sahabatnya menyarankan untuk memberi itu saja pada Dito. Pria itu pasti akan terkesan saat menerima hadiah yang diberikan Rica. Ekspektasi mereka.
Rica dengan senang hati menyetujui saran mereka. Walaupun prosesnya rumit yang akan ia kerjakan. Rica akan ambil tantangan kali ini.
Hadiah untuk Dito kali ini memang bukan untuk hadiah ulang tahun pria itu. Ia hanya ingin memberikan 'Kejutan Kecil' untuk pria itu.
Karena point pertama sampai ketiga hanya bisa ditunjukkan lewat sikap. Maka Rica langsung melompat ke point keempat isi artikel tersebut. Yang isinya adalah 'Berikan Kejutan Kecil'
Dan hari ini ia akan kursus bersama Uni untuk membuat sweeter rajut. Ia ingat Uni pernah merajut syal untuk anaknya yang tinggal di daerah Alahan panjang. Daerah sana memang terkenal dingin di Sumatera Barat. Dan Uni berinisiatif merajutkan syal untuk anak-anaknya yang tinggal disana.
"Uni!!"
"Apa teriak-teriak, Ca?" Uni datang dari dapur seraya membawa nampan yang diatasnya berisi air teh hijau hangat untuk Laila yang sedang menonton televisi.
"Uni, jadi tutor Rica bikin Sweeter rajut yaa" Rica mengangkat paperbag berisi benang rajut tersebut kearah Ini.
"Oalah. Uni kira kenapa" jawab Uni seraya menaruh gelas berisi air teh tersebut ke meja.
"Yaudah. Rica mandi dulu. Nanti Uni ajarkan."
"Oke.. nanti Rica mandi dulu ya Uni"
***
"Bikin sketsanya dulu. Uni ndak tau macam mana bentuk Sweeter"
"Ohh okedeh Rica gambar dulu ya, Ni"
Rica mulai berkutat dengan kertas HVS dan pensilnya. Menggambar pola yang ia suka dan nantinya akan diperlihatkannya kepada Uni.
"Kalau mau pake saku gitu bisa, ga Ni?"
"Bisa, tapi lebih repot lagi"
"Yaudah deh yang biasa aja" Rica akhirnya mendesain Sweeter yang ia mau dengan polos saja. Tak banyak macam. Ini juga kan kelas rajutnya yang pertama. Ia yakin Dito akan memaklumi.
"Oh begini aja? Kalau begini mah mudah. Tiga Minggu selesai Uni buatnya"
"Tiga Minggu?!!" Mata Rica terbelalak lebar saat mendengar penuturan Uni. Uni yang sudah sangat mahir dalam bidang ini saja hanya mampu menyelesaikan rajutan tersebut dalam waktu tiga Minggu. Apalagi ia yang baru saja mau belajar?
"Uni lama banget.." Rica merengek tak percaya menatap Uni.
"Itu estimasi waktunya sudah Uni hitung selama jam senggang. Yo Ndak mungkin ndak ada jedanya ngerajut terus"
"Yaudah Uni langsung aja mulai dasarnya gimana"
***
Visa Ranico
Prabumulih, Sumatera Selatan