Rica bangun dari tidur nyenyaknya dengan semangat. Senyuman lebar merekah diwajah cantik remaja delapan belas tahun itu. Ia sangat bersemangat memulai hari ini. Karena dihari ini jugalah perjuangannya untuk mendapatkan hati Dito ia mulai.
Rica ini gadis yang pantang menyerah. Sesuatu yang sangat ia inginkan haruslah bisa ia gapai. Dari kecil rasa optimis gadis ini memang tak perlu diragukan lagi. Gadis ini selalu mendapatkan apa yang ia mau.
Apalagi jika orang-orang disekelilingnya sudah mendukung apa yang menjadi tujuannya. Sesuatu itu sudah pasti akan Rica miliki, cepat atau lambat. Kecuali untuk perihal hati. Ia sendiri sempat masih meragukan kemampuannya. Namun terlepas dari semuanya, Rica tetap akan mencoba. Ia selalu memegang prinsip, tak apa tak berhasil saat telah mencoba, daripada menyesal karena tak mencoba sama sekali. Nice Principle, right?
Rica melihat note kecil berisikan list sesuatu yang Dito sukai. Bermodalkan mengorek informasi dari Rio saat sepulang mereka dari pesta pernikahan teman Rio kemarin, ia hanya mampu menuliskan 3 daftar saja.
Tidak masalah hanya 3 daftar tersebut saja yang Rica ketahui, setidaknya ini awal yang baik bukan?
Fyi, Dito adalah senior Rio saat di Sekolah Menengah Atas dulu. Saat itu Rio duduk dikelas Sebelas dan Dito ditingkat akhir, mereka satu kamar di Asrama selama setahun. Itulah mengapa sedikit banyak Rio mengetahui apa saja tentang Dito.
Dito juga dulu dikenal sebagai laki-laki paling good looking di Sekolah mereka. Rio dan teman-teman yang sesama laki-laki lainnya pun sempat insecure karena Dito terlalu banyak yang menggemari. Pesona pria itu terlalu kuat.
Rica melihat daftar pertama. s**u pisang.
Dito sangat menyukai s**u kotak dengan perisa pisang. Dulu saat ia masih di asrama, Rio bilang s**u pisang adalah sesuatu yang wajib setiap paginya. Bahkan sampah kamar mereka setiap harinya dominan dipenuhi oleh sampah s**u kotak kesukaan Dito.
"Selamat pagi, Mama" Senyuman lebar tersebut hampir tak pernah luntur dari wajah Rica. Ia sangat se-excited itu dalam memulai harinya. sangat-sangat excited.
Laila yang melihatnya pun hanya tersenyum kecil, tak banyak respon yang ia beri pada Rica. Ia takut anak gadisnya tersebut akan terluka karena ekspektasinya yang terlalu tinggi. Ia sangat tahu, masalah hati tak bisa coba-coba. Salah satunya akan terluka jika hanya satu orang yang berjuang didalam suatu hubungan.
"Nino, mana Ma?" sambil menyuap nasi goreng buatan Laila, Rica melihat kesekeliling ruang makan mencari tanda-tanda keberadaan Nino. Namun nampaknya nihil. Tas adiknya tersebut bahkan tidak terlihat ada dikursi ruang makan.
"Dia duluan katanya. Ada sesuatu yang lagi urgent. Kamu disuruh naik ojol aja"
"Ohh yaudah deh gapapa"
***
Jam enam kurang dua puluh menit, Rica berjalan keluar komplek perumahan rumahnya. Ia sengaja pergi sepagi mungkin mulai hari ini. Tujuannya tak lain adalah minimarket didepan gerbang masuk komplek rumahnya. Ia akan memulai misinya.
"Mbak, s**u rasa pisang yang paling enak disini yang mana ya?" Rica menunjukkan tiga brand yang ia ambil dari kulkas dan menunjukkannya pada penjaga kasir tersebut. Untung saja suasana minimarket pagi ini sedang sepi pembeli.
"Tiga-tiganya sih enak, dek"
"Yang paling cepet laku, Mbak?"
Kasir tersebut sempat berpikir beberapa saat sampai akhirnya ia menunjuk sebuah brand yang sama dengan nama minimarketnya.
"Yang ini deh kayaknya" Rica mendengus sebal mendengar jawaban Kasir tersebut. Jelas ia akan melakukan merek dagang minimarket mereka dulu.
"Yaudah saya ambil yang ini" Pilihan Rica berbeda dengan pilihan kasir tadi.
"Lah, ngapain nanya tadi dek"
"Iseng aja" Rica tertawa diakhir kalimatnya dan kembali ke kulkas untuk mengembalikan s**u dengan brand yang tak ia pilih tersebut kekulkas minimarket. Tak lupa ia mengambil satu kotak lagi s**u rasa pisang yang ia pilih, lantas membayarnya kekasir.
Tadinya jika berangkat bersama Nino ia akan mengirim s**u kotak rasa pisang kesukaan Dito kekantor pria itu melalui go-send. Namun karena ia berangkat sendiri, ia akan mampir saja ke kantor pria itu. Toh jaraknya tak terlalu jauh. Dari kantor Dito ternyata ada jalan alternatif yang mampu tembus lebih cepat kesekolahnya. Semalaman ia pelajari google maps jalanan Jakarta yang amat riweh.
Ojol yang ia pesan akhirnya datang, dan Rica bergegas pergi.
Mengirim s**u kotak rasa pisang untuk Dito, Mungkin ini akan menjadi rutinitas terbaru Rica.
***
Baru saja Dito sampai didepan pintu ruangannya, Sekretarisnya sudah menyambutnya dengan mengulurkan kantung plastik kecil berwarna biru.
"Pak, ada yang mengirimkan ini,"
"Kapan?"
"Sekitar dua puluh menit yang lalu. Diantar menggunakan ojol tadi"
Cukup lama Dito memperhatikan kantung kresek berwarna biru tersebut. Hingga akhirnya pria itu memutuskan untuk mengambilnya saja.
"Terimakasih" Sesaat setelah mengucap terimakasih Dito berjalan masuk kedalam ruangannya.
Sesampainya di ruangannya tersebut, pria itu dengan sangat penasarannya langsung membuka isi dari kantung plastik biru tersebut. Sesaat ia terdiam.
Dito tertegun melihat dua kotak s**u lengkap dengan pita berwarna pink yang menghiasi kotak susunya. terselip note kecil dengan ucapan selamat pagi yang dibuat semanis mungkin.
Bukan, bukan karena packagingnya yang membuat Dito tertegun. tapi si objek pertamalah yang membuatnya diam sesaat. s**u dengan perisa pisang tersebut. Sudah sangat lama sekali ia tidak meminumnya. Ia bahkan sampai lupa jika itu adalah minuman favoritnya.
Ia ambil note yang terselip disalah satu pita yang melekat dikotak s**u tersebut.
Disana hanya tertulis ucapan penyemangat pagi hari dan nama terang si pengirim. Ya, gadis itu yang mengirimnya. Rica Amelia. dengan emoticon love diujung nama terang.
Dito sempat berpikir darimana gadis itu tau jika ini minuman favoritnya? Ia mencari tahu tentang dirinya? atau ini hanya sebuah kebetulan?
Terlepas dari itu semua, gadis ini kembali menghadirkan ingatan tentang minuman favoritnya tersebut. akhir-akhir ini ia sendiri lebih suka mengonsumsi kopi daripada minuman manis berperisa pisang tersebut. Ia sendiri bahkan lupa, kapan terakhir kali ia mengonsumsi s**u berperisa pisang favoritnya tersebut.
Semenjak menikah pun ia lebih sering mengonsumsi kopi. Istrinya dahulu pun tak tau jika ia sangat addict terhadap minuman ini. Ya.
Entah mengapa perasaan Dito menjadi complicated. Padahal hanya perihal s**u rasa pisang, namun mampu merubah mood-nya.
***
"Gaes, belanja bulanan yuk hari ini?" Rena datang dari arah pintu masuk dan langsung duduk di kursinya.
"Boleh-boleh, keperluan gue juga udah abis. Sekalian mau ngevlog nih" Chika mengacungkan jempolnya menerima ajakan Rena.
"Jadwal kita belanja bulanan kan besok. Gue belom ditransfer duit" Elisa yang sedang fokus bermain game disamping Rena menimpali tanpa mengalihkan atensinya.
"Pinjem duit gue aja lah, susah banget" Chika yang duduk disamping Rica bicara santai menanggapi ucapan Elisa yang duduk didepan mereka.
"Gue ga dibolehin ngutang sama Bapak gue," jawab Elisa
"Yaelah kayak sama siapa aja lo" Chika tertawa dan sedikit menendang kursi Elisa yang ada didepannya.
"Keperluan gue banyak banget. Ada budget berapa lo?" Elisa mengehentikan permainannya dan membalikkan badannya kearah meja Chika yang ada dibelakangnya.
"Lo ngeraguin youtuber kentang ini?" Chika mengangkat sebelah alisnya menantang Elisa. Lama Elisa dan Chika saling tatap, sampai akhirnya keduanya tertawa bersama. Seolah mampu saling berkomunikasi lewat pikiran saja.
***
"Haloo Gengss! Jadi hari ini kita baru aja pulang sekolah. Kita berempat mau belanja bulanan nih hari ini. by the way, ini udah jadi kegiatan rutin bulanan kita ya selama sahabatan berempat. Kalian harus cobain deh gengss belanja keperluan bulanan sama sahabat kalian. Itu seru banget loh.."
"Nanti aku bakal lihatin keseruan kita berempat nih. Dan diakhir video aku akan review barang-barang apa aja yang wajib setiap bulannya untuk kalian sebagai remaja. Dan harga-harganya juga bakal aku cantumkan di description box. So.. jangan di skip yaa" Chika tersenyum diakhir opening vlog-nya.
"Lo ga malu ya diliatin orang nge-vlog sambil jalan gitu?" Rica bertanya sesat setalah Rica mematikan kameranya. Mereka berempat mulai memasuki supermarket yang ada didalam salah satu mall dibilangan Jakarta Selatan.
"Ya namanya juga nyari duit, Ca" Chika hanya tertawa menanggapi pertanyaan Rica
"Mau banget sih gue kayak, lo. Tapi gue pemalu banget anaknya"
"Ga tau malu lo, mah.. Lo kali yang paling pecicilan diantara kita" Sahut Chika tak terima. Rica, Rena, dan Elisa hanya tertawa melihat Chika sewot. Mereka bertiga sangat senang melihat Chika bak kebakaran jenggot karena diledek.
Sesampainya di supermarket, mereka berempat langsung mengambil troli supermarket masing-masing, dan mulai memilih barang yang mereka cari.
Sesampainya dikulkas minuman, Rica menghentikan langkahnya. Matanya langsung tertuju pada s**u berperisa pisang yang tadi pagi sempat ia beli. Dengan cepat tangan Rica mengambil s**u kotak tersebut sebanyak-banyaknya. Bahkan sekarang trolinya sudah penuh oleh s**u kotak saja.
"Lo mau mandi s**u apa gimana?" Elisa terbelalak melihat isi troli Rica yang penuh oleh s**u kotak .
"Buat Mas Dito nih, dia seneng ini soalnya" Jawab Rica santai.
"Lo jangan terlalu bucin lah. Segitunya amat perjuangin cinta duda"
"Cinta itu buta kali, Sa. Lo belum nemu aja orang yang tepat buat lo perjuangin" Rica tersenyum kecil pada Elisa, kemudian kembali memilih barang yang ia cari.
"Bener kata orang. Bucin sama bego tuh beda tipis" Elisa menggelengkan kepalanya saja melihat tingkah sahabatnya yang satu itu.
***
Visa Ranico
Prabumulih, Sumatera Selatan