“Baik. Tapi izinkan saya bicara satu hal. Ava, saya menikahi kamu memang terpaksa, tapi bukan berarti semua hal yang saya lakukan untuk kamu juga terpaksa. Kamu harus tahu itu.” Perkataan Arka barusan terus terngiang dipikiran Ava. Gadis itu memijat pelipisnya. “Ya, terus? Gue yang salah gitu?” kata Ava sambil menunjuk dirinya sendiri. Ia mendenkus sebal. Kenapa ia harus memikirkan semua ini? Kenapa hidupnya jadi semakin rumit? Padahal sebelumnya hidupnya sudah begitu rumit. “Kenapa gue sial banget, sih?” Ava mengusap wajahnya kasar. “Kenapa gue harus jadi korban drama kehidupan ini? Kenapa gue gak jadi protagonis? Kenapa gue gak jadi yang paling bahagia? Kenapa gue malah kayak tokoh paling menyedihkan?” Ava melempar bantalnya ke arah lemari. Satu bantal lagi setelahnya, lalu selimutnya

