Ava menarik kopernya hendak pergi, namun langkahnya terhenti di depan pintu kamar Arka yang agak terbuka. Ava menaruh kopernya di denat tangga, lalu berjalan masuk ke dalam kamar pria itu. ava mendekati suaminya yang tertidur pulas. Wajah tampannya sungguh membuat Ava enggan menoleh ke arah lain. Ia mengusap mata Arka dengan ibu jarinya secara perlahan, tidak ingin membangunkan. Ava tersenyum. “Terima kasih sudah menepati janji untuk menikahi saya, Pak. Ayah pasti senang. Saya gak tahu … kenapa hidup saya jadi gini. Mungkin memang gak seharusnya saya menyalahkan Pak Arka, karena saya tahu … Pak Arka udah berusaha melakukan yang terbaik. Wanda … mungkin dia memang jodoh Pak Arka. Semoga jalan kalian dipermudah. Terima kasih udah izinin saya tinggal di sini.” Ava mengeluarkan beberapa kartu

