Aksa berjalan santai sambil menggunakan jas OSIS nya seperti jubah dikedua bahu, cowok itu menenteng TOA disamping tubuh. Memperhatikan adik-adik kelasnya yang tengah berlarian menuju lapangan.
Cowok itu menaiki mimbar, sambil sedikit melongokkan kepalanya supaya bisa melihat adik-adik kelasnya yang ada dibelakang.
Aksa mengangkat TOA nya ke dekat mulut, berdehem sebentar lalu menarik napasnya dan bersiap-siap untuk berbicara.
"Untu--"
"Eh buset," Aksa kaget karena TOA nya tiba-tiba saja diambil alih oleh Ilham.
"Enak aja lu Sa, gue yang ngintruksi!" seru Ilham selaku ketua OSIS.
"Lah, gue duluan yang nyampe sini kampang," balas Aksa tak terima.
"Gak gak gak."
Aksa merebut kembali TOA nya, "Ini pertama kalinya gue nge-MOS in adek kelas, gue harus jadi yang pertama."
"Eh enak aja lo, gue selaku ketua OSIS, jadi gue yang pertama." sahut Ilham sambil merebut kembali TOA nya.
Sedangkan semua peserta MOS saat ini sedang seru-serunya menonton perdebatan mereka diatas mimbar. Apalagi yang mereka tonton adalah seorang cogan, kan sayang kalau dilewatin, ya nggak?
"Songong amat lo Ham, mentang-mentang ketua OSIS, besok gue geser lo tau rasa. Nangis-nangis darah dah lu," kata Aksa kesal.
"Sa! Udah napa, ini acaranya ntar gak dimulai-mulai kalo lo berantem mulu," tegur Alung, cowok berjambul yang merupakan salah satu anggota OSIS juga.
Lantas akhirnya Aksa langsung turun dari atas mimbar, cowok itu mengalah, dan hal itu membuat adik kelas perempuannya langsung menyeru kecewa, padahal kan mereka ingin Aksa yang mengintruksi.
"Heh, mau kemana lo?" tanya Alung.
"Get out."
"Sa! Elahh ngambekan lu!"
Aksa tak mempedulikan, cowok itu berjalan menjauh dari lapangan, seraya membalas sapaan manis dari teman-teman dan adik kelasnya.
Aksa berjalan sambil memakai topinya dengan posisi terbalik, cowok itu juga tidak menggunakan jas OSIS nya dengan benar. Tetapi dengan gaya yang seperti itu Aksa malah makin terlihat keren.
Sampai akhirnya cowok itu menghentikan langkahnya saat melihat ada seorang gadis berseragam biru putih sedang memanjat pagar sekolah yang tinggi. Aksa pun langsung menghampirinya.
"Kamu yang di atas!" panggil Aksa dengan suara lantang.
Mendengar suara teriakan lantang itu, gadis yang sedang memanjat pagar itu pun langsung terkejut, ia hampir saja terjungkal kalau tidak berpegangan dengan benar.
Aksa berjalan semakin mendekat, ia mendongak ke atas. Sedangkan gadis berseragam biru putih itu langsung meneguk salivanya dengan susah payah. Tangannya seketika berubah menjadi dingin dan gemetaran, bukan karena takut gara-gara ia ketahuan memanjat pagar. Tetapi karena melihat wajah dan perawakan kakak kelasnya itu.
"Anjir, sejak kapan ada kembarannya kim taehyung yang paling cakep sedunia itu disini?!" batin gadis itu takjub.
"Turun." perintah Aksa dengan suara tegas.
Namun, tidak ada tindakan dari gadis itu, Aksa pun kembali memerintah.
"Turun."
Lagi-lagi tidak ada pergerakan dari gadis itu, Aksa mulai jengah, lalu akhirnya cowok itu memilih untuk berbicara lebih keras.
"Kamu nggak denger apa kata saya?!"
Gadis itu tetap berdiri diatas pagar, sambil memperhatikan Aksa tanpa berkedip.
"Ini cewek gangguan pendengaran atau gimana sih?" Aksa menggerutu kesal.
Sampai akhirnya cowok itu melepas topi yang ada dikepalanya dan ia lemparkan ke atas, hap! Topi itu tepat mengenai wajah gadis itu, sampai gadis itu akhirnya tersadar dari sesi menghalunya.
"E-eh kak, maaf kak. A-aku a-aku....aduh kak jangan dihukum ya? Aku bisa jelasin kok kenapa hari ini aku bisa telat, please ya kak, aku mohon..." gadis itu memohon sambil menyatukan kedua tangannya didepan d**a.
Bentar-bentar, diulang lagi, gadis itu memohon sambil menyatukan kedua tangannya didepan d**a. Lah! Gak pegangan dong?
Satu, dua, tiga.
Bruk!
"Awh!" rintihnya, gadis itu jatuh dari atas pagar yang tinggi sampai nyungsep tepat dibawah kaki Aksa.
"Eh, awas jatuh." celetuk Aksa.
"Terlambat kali kalo bilangin!" batin gadis itu kesal.
Aksa melirik ke bawah, melihat cewek itu yang tengah meringis, pasti sakit kan? Lantas, tangan Aksa langsung terulur didepan wajah cewek itu.
Cewek itu langsung mendongak sambil merekahkan senyumnya, lalu membatin. "Siap-siap tangan...sebentar lagi lo bakalan sentuhan sama tangannya cogan hihihi..."
Saat tangan cewek itu mulai bergerak untuk menerima uluran tangan Aksa, tiba-tiba saja Aksa menarik kembali tangannya secara tiba-tiba, karena ada seseorang yang memanggil namanya.
"Kenapa Rel?" tanya Aksa pada Aurel, yang barusan memanggilnya.
"Lo ngapain disini Sa? Kan seharusnya lo dilapangan ngawasin anak-anak yang lagi MPLS," kata Aurel.
Belum sempat Aksa menjawab, seketika saja Aurel langsung bersuara lagi saat melihat cewek yang tengah terduduk dibawah seperti anak hilang.
"Loh, lo...anak baru kan? Kok masih ada disini? Lo telat ya?" tanya Aurel pada cewek itu.
"Ehm...iya kak, maaf...tadi dijalan macet, jadinya--"
"Udah, sekarang lo jalan jongkok dari sini sampe ke tengah lapangan, kumpul sama anak-anak yang lain." perintah Aurel.
"T-tapi kak--"
"Nggak ada tapi-tapian, lo mau gue hukum lebih dari ini?" ancam Aurel sambil menyilangkan kedua tangannya didepan d**a.
Cewek itu langsung menggeleng cepat, lebih baik ia menuruti perintah seniornya itu, ketimbang harus kena hukuman tambahan lagi. Bisa gempor dia nanti sebelum MPLS.
"Rel, biarin aja, gak usah dihukum," ujar Aksa, berbelas kasihan pada adik kelasnya itu.
"Ah gilaaa, gue dibelain dong sama kakel cogan iniiii, udah cakep, baik lagi, idaman bangeeet!"
"Sa, kalo anak modelan kaya dia gak dihukum nanti bakalan keterusan dan ngelunjak, biarin aja, biar dia jera." balas Aurel.
Gadis itu langsung menatap Aurel dengan kesal, "Ih apaan sih, sok banget deh lo." batinnya.
Aksa langsung menatap gadis itu lumayan lama, sampai akhirnya cowok itu berjongkok tepat didepannya. Hal yang dilakukan Aksa itu berhasil membuat gadis itu menjerit didalam hati, jantungnya berdebar tak karuan, wajah tampan itu kini berada tepat didepan wajahnya. Aroma parfum Aksa langsung tercium jelas dihidungnya, rasanya ia ingin pingsan sekarang juga.
"Ini kakel cogan mau ngapain ya? Kok deket-deketin gue? Help me pleaseee!!!"
Tak sampai lima detik, Aksa kembali berdiri, cowok itu sedikit membersihkan topinya yang tadi jatuh dan yang barusan ia ambil. Lalu Aksa langsung memakai topi itu lagi dikepalanya.
"Gimana Sa?" tanya Aurel pada Aksa.
"Tirsirih li iji (terserah lo aja)," sahut Aksa, lalu cowok itu langsung melangkahkan kakinya untuk pergi dari sana.
Gadis itu langsung menatap kepergian Aksa dengan cengo, ia sudah geer tingkat dewa tadi.
"Heh! Buruan jalan jongkok! Malah bengong ngeliatin Aksa!" seru Aurel dengan judes.
Gadis itu langsung terkesiap. "Ehhh iya kak!"
⚪️⚪️⚪️
"SHANIN RATU NALANI!"
"Siapa disini yang namanya Shanin Ratu Nalani? Angkat tangan." teriak Alung sambil celingukan melihat anak-anak yang sedang duduk rapih dibangkunya.
"Cha, si Shanin mana sih? Kok gak dateng-dateng ya? Padahal kan kita tadi pagi udah bangunin dia, masa dia masih ngebo sih?" bisik cewek yang diketahui namanya adalah Gladis.
"Tau tuh, padahal kita udah seneng-senengnya karena bisa satu kelas, ehhh ini bocah satu malah belum dateng," balas teman Gladis yang bernama Ocha.
"Apa gue telpon aja kali ya?" usul teman Gladis dan Ocha yang bernama Bulan.
"Ehh jangan...kan gak boleh main hp, ntar malah hp lo dirampas lagi sama kak Alung," balas Gladis.
"Ehh iya-iya..."
"Sekali lagi, mana disini yang namanya Shanin Ratu Nalani? Ini orangnya ada atau nggak sih?" tanya Alung didepan kelas, selaku pembimbing kelas ini.
"Disini nggak ada salah satu temennya dari SMP?" tanya Alung lagi.
Gladis, Ocha, dan Bulan langsung senggol-senggolan, mereka tengah tunjuk menunjuk agar ada salah satu dari mereka yang mengangkat tangan.
"Eh lo angkat tangan dong!"
"Gak ah, lo aja, gue malu."
"Ish lo berdua gak mau mengakui Shanin sebagai temen ya? Yaudah lah biar gue aja," lerai Bulan, akhirnya perlahan cewek itu mengangkat tangannya, tetapi sebelum itu terjadi, tiba-tiba saja, sosok perempuan yang bernama Shanin itu datang.
"Permisi kak! Maaf saya terlambat," ujar Shanin dengan napas yang ngos-ngosan, kedua tangannya ia tumpu dilutut sambil membungkuk.
Seluruh isi kelas itu langsung menoleh ke asal suara, melihat eksistensi gadis itu.
Alung langsung menatap Shanin dengan berdecak, "Kenapa kamu bisa telat?" tanya Alung.
"Tadi saya dihukum sama---sama---aduh siapa ya namanya? Saya nggak tau namanya kak, yang jelas dia cewek terus judes banget," ungkap Shanin jujur.
"Squat jump lima belas kali," cetus Alung pada Shanin.
Kedua mata Shanin langsung kompak membulat sempurna, ia terkejut bukan main, pasalnya ia baru saja menyelesaikan hukuman jalan jongkoknya dari gerbang sampai ke lapangan. Kalau jarak lapangannya deket mah gapapa, lah ini! Jauhnya udah kaya dari Jakarta ke Surabaya!
"Serius nih kak?" melas Shanin.
"Serius lah, dua rius, tiga rius malah." sahut Alung.
Shanin pun menghela napas lelah, sebelum melanjutkan hukumannya, ia mengedarkan pandangannya ke isi kelas, ia menemukan ke-tiga temannya yang tengah menatapnya dengan prihatin bercampur dengan menahan tawa.
"Sial banget sih gue hari iniiii!!! Semoga aja kesialan gue dibales sama kenikmatan dengan cara ketemu lagi sama kakel cogan tadi! Aamiin!"
Shanin percaya, doa orang yang teraniaya itu pasti akan dikabulkan, lihat saja nanti. Shanin akan jungkir balik jika dipertemukan lagi dengan kakak kelas cogan tadi.
⚪️⚪️⚪️
Aksa cepat-cepat keluar dari kelas yang sedang ia bimbing, cowok itu mengusap peluhnya yang ada dipelipis dengan punggung tangan. Padahal didalam kelas itu ada AC nya, tetapi itu tidak mempan bagi Aksa, cowok itu tetap kepanasan, karena dikerubungi oleh adik-adik kelasnya, terutama yang perempuan.
"Nyerah gue lama-lama jadi anak OSIS, besok gue minta dipecat ajalah," ujar Aksa kesal.
"Jadi OSIS gak di gaji, gimana sih si Ilham jadi ketos gak pengertian sama anak buahnya."
"Liat aja besok kalau gue yang jadi ketos, bakalan.......gak gue gaji juga sih," celetuknya.
"Woi!" seseorang menepuk pundak Aksa dari belakang secara tiba-tiba.
"Anj....astaghfirullah..." ucap Aksa, hampir saja khilaf.
"Ngapain lo ngomong sendiri? Kaya gak ada orang yang mau lo ajak ngomong aja," kata Reza.
"Bukannya gak ada, tapi gue yang gak mau." balas Aksa.
"Lah, ini lo lagi ngomong sama gue, kan gue manusia," ujar Reza.
Aksa mengernyit sok-sok an heran, "Oh lo manusia? Gue kira lo genderuwo," celetuk Aksa, seusai mengatakan itu Aksa langsung tertawa dan cepat-cepat kabur dari hadapan Reza.
Reza menyeru keras, "WOY KURANGAJAR LO MICIN SASA!!" Reza dengan segera melepas satu sepatunya dan berlari mengejar Aksa untuk diajak gelut.
Tenang saja, mereka sudah biasa seperti itu, lagian Aksa juga hanya bercanda, tidak serius. Tapi kalau tentang hubungan, Aksa serius kok.
⚪️⚪️⚪️
Bel istirahat baru saja berkumandang dua menit yang lalu, kini Shanin, Ocha, Gladis dan juga Bulan tengah berjalan menuju kantin sekolah yang besar dan luas, kantin disekolah ini hampir mirip seperti restaurant. Tetapi makanannya tetap banyak makanan kaki lima seperti bakso, mi ayam, soto dll.
"Ayo buruan jalannya jangan kaya siput! Nanti mejanya keburu ditempatin orang, emangnya kalian pada mau makan lesehan dibawah?" tanya Ocha ngomel-ngomel.
"Iya-iya Cha, ngomel mulu, cepet tua baru tau rasa," sahut Gladis.
"Ndasmu tua!"
Mereka pun akhirnya duduk disalah satu meja dan kursi panjang. Terkecuali, Shanin, cewek itu menengadahkan satu tangannya dihadapan ketiga temannya, bermaksud meminta uang setoran.
"Mana, sini gue aja yang beliin, mumpung gue lagi baik hati macam malaikat," kata Shanin.
Ketiga temannya itu langsung gercep mengeluarkan uang masing-masing, sebelum Shanin berubah pikiran.
"Pake ongkir nih yaaa! Nanti kembaliannya buat gue hehehe!" seru Shanin yang langsung berjalan cepat ke salah satu stan.
"Yah kambing! Gue pikir beneran mulia dia, lah ternyata otaknya tetep aja pemerasan! Shanin gak ada akhlak!" kesal Ocha.
"Gapapa lah, sekali-kali amal sama temen sendiri," sahut Bulan.
Shanin menyerobot ke dalam kerumunan orang yang tengah memesan soto, cewek itu langsung berteriak memesan pesanannya, dan, tak sampai lima menit pesanannya itu langsung berada ditangannya, Shanin pun membayar. Semua pasang mata langsung menatap takjub ke arah Shanin, sebegitu cepatnya cewek itu memesan tanpa harus menunggu lama! Ck ck ck Shanin memang memiliki kekuatan seperti quicksilver yang bisa bergerak cepat.
Lagian, hal itu sudah menjadi kebiasaan Shanin sejak SMP, ia tidak pernah bisa sabar jika harus mengantre dan menunggu lama dikantin. Jadi jurus yang selalu ia lakukan adalah berteriak seperti preman yang ingin malak.
Shanin bisa diacungkan jempol karena keberaniannya, padahal ini masih hari pertama ia bersekolah di SMA ini sebagai junior, tetapi tingkahnya tidak menunjukkan jika ia takut pada senior yang tengah memperhatikannya dengan tatapan sinis.
Lantas cewek berseragam putih biru itu berjalan santai sambil bersenandung dan membawa nampan berisikan empat mangkuk soto.
Sampai akhirnya Shanin terkejut karena ia bertabrakan dengan seseorang. Kuah soto yang tadinya berada didalam mangkuk kini telah tumpah ke seragam putih milik seorang cowok yang tadi tengah berlarian bersama salah seorang temannya.
"s**t!" umpat Aksa sambil memperhatikan seragamnya yang kini berubah warna menjadi kuning.
Keadaan kantin yang tadinya ramai kini seketika berubah menjadi hening, semuanya langsung menyorotkan perhatiannya pada Aksa dan Shanin.
Shanin menganga lebar, matanya kembali bertatapan dengan mata elang itu lagi. Lalu, Shanin membatin;
"Kakel cogan...ketemu lagiii, haruskah gue jungkir balik sekarang?!" batin Shanin.