5. Merenda Asa

947 Kata
“Mir,” panggilku berbisik seraya mencolek punggungnya. Amira menoleh. “Siapa, sih, pria yang mau dikenalkan Arham padaku?” Amira menaik-turunkan kedua alisnya, kemudian kedua sudut bibirnya tertarik membentuk seulas senyum. Matanya mengerling ke arahku. “Mau tahu aja atau mau tahu banget?” tanyanya sengaja menggodaku. Memutar bola mata, aku menghembuskan napas pura-pura kesal. “Ya, sudah, kalau tidak mau ngasih tahu.” “Aku akan kasih tahu kalau Mbak Salma sudah kasih jawaban.” Memang, aku belum memberikan jawaban apa pun ketika Bapak memohon padaku untuk menerimanya. Aku tidak ingin buru-buru dan berakhir kecewa. Pengalaman dengan Arman cukup memberiku pelajaran berharga. Hatiku masih meragu, karena itu aku ingin memantapkannya terlebih dahulu sebelum menerima. Namun, tak urung aku merasa penasaran. “Kalau begitu, tidak usah kamu kasih tahu.” “Mengapa Mbak Salma terlihat begitu berat menerimanya, sih?” Aku menghela napas panjang. “Aku tidak ingin buru-buru, Mir. Belajar dari pengalaman dengan Arman.” “Ya, sudah, mantapkan saja dulu hati Mbak Salma. Tapi jangan lama-lama, ya. Nanti dia keburu dapet perempuan lain.” Tidak tahu dirikah namanya, ketika aku mengharapkan sosok yang ingin dikenalkan Arham padaku adalah pria yang semalam hadir dalam mimpiku. Mengomeliku lantaran aku kembali menukar sandalnya. Kutepis pikiran tersebut. Rasanya pria rupawan itu terlalu tinggi untuk dijangkau. Aku tidak ingin seperti pungguk merindukan bulan. Aku begitu malu oleh isi kepalaku. Benar kata Kang jaga masjid, Ulil bukan orang sembarangan. Ia adalah putra tertua Kyai Ismail, sosok yang sangat dihormati dan disegani di desaku. Ditambah insiden sandal yang tertukar sukses membuatku ingin sekali memutar waktu agar tidak perlu lagi bertemu dengannya. Namun, semesta berkehendak lain. Mulai malam itu aku justru akan semakin sering bertemu dengannya. “Ulil akan menemani Simbah dan tinggal di sini sampai Ramadhan selesai,” ungkap Mbah Haji semalam saat kami berbuka puasa bertiga. Aku hanya tersenyum tipis menganggapinya. Berbeda denganku yang merasa canggung, Ulil tampak biasa saja. Pembawakannya sangat tenang. Sikapnya cenderung tak acuh dan selalu memperlihatkan air muka datar. Pria itu makan dengan tenang, membiarkan Mbah Haji mengajakku bicara dan bercerita banyak. Sesekali menjawab singkat ketika ditanya. Selebihnya hanya dihabiskan untuk menikmati makannya dalam diam. Sore itu sesudah selesai masak bersama Ibu dan Amira, kuputuskan untuk menyirami tanaman di halaman. Udara sore di pengunungan sangatlah menyenangkan. Rumahku memang nyaman, sangat tenteram tinggal di sini andai saja tidak ada gejolak yang terjadi antara aku dan Fatiha. Adikku itu akhir-akhir ini semakin ketus padaku. Nada bicaranya tidak pernah ada sopan-sopannya. Ia selalu mencurigaiku akan merebut suaminya. Sejujurnya aku muak, tapi Bapak mengajarkanku untuk bersabar. “Tidak usah diladeni.” Begitu katanya setiap Fatiha mengajak bersitegang. Aku menurut. Selain tak ingin ribut-ribut, ini adalah bulan puasa, di mana aku harus menahan diri dari hawa napsu. Tidak hanya menahan lapar dan haus, tapi juga menahan segala bentuk perasaan yang akan merugikanku andai kuluapkan. Kubiarkan Fatiha mengata-ngatai, bahkan tak jarang menghina. Walau sakit terasa, tapi aku memendamnya dalam diam. Cukup istigfar sebagai penyembuhnya. Kubawa seember berisi air berikut gayungnya. Kulihat banyak tanaman layu, terutama pada sekitar pagar bambu. Tak lama berselang, entah mengapa mendadak jantungku berdegup kencang, melihat motor besar dari kejauhan. Getarannya semakin kuat seiring jelas sosoknya mendekat. Pria yang baru saja memenuhi pikiranku tersebut tiba-tiba muncul. Aneh, gayung yang kupegang terasa bergetar. Sudah terlambat untuk menghindar. Deru motornya semakin jelas terdengar, lalu berhenti tepat di seberangku. Menundukkan kepala, aku menahan diri untuk tidak menoleh ke arahnya. Namun, kepalaku berhianat. Mendengar suara pagar digeser, aku menengadah. Demi Tuhan, rasanya ingin sekali aku menghilang. Tatapan kami saling bertabrakan. Netra kelam itu bagaikan magnet yang menarikku, aku tak kuasa memutusnya. Terhipnotis. Ulil bergerak menaiki motornya kembali setelah membuka lebar pintu gerbang. Namun, pandangannya tak lepas sedikit pun. Mengunciku. Barulah ketika melihat sudut bibir pria itu sedikit tertarik membentuk senyuman tipis, amat sangat tipis, aku langsung gelagapan dan membuang muka. Menelan ludah susah payah, kurasakan gugup dan malu bercampur jadi satu. Dalam hati merutuki, setiap bertemu dengannya aku selalu mempermalukan diri. *** Mengawasi bayangan diri dalam cermin, pikiranku tidak ada di sana. Tanpa sadar bibirku mengulas senyuman. Aku tidak tahu, entah apa yang membuatku begitu bahagia. Kulihat rona kemerahan muncul di kedua pipiku, lalu menjalar ke telinga. Aku malu, tapi entah pada apa. Kusisir rambut dan mengikatnya menggunakan pita karet. Kemudian mengenakan jilbab. Senja sudah mulai turun. Aku beranjak membuka jendela, menyaksikan pendar keemasan yang mulai menyebar. Pemandangan ini tak pernah terlewatkan olehku sambil menunggu waktu buka. Tiba-tiba pintu kamarku terbuka dan muncul kepala Arman di sana. Aku terperanjat. Membelalakkan mata melihatnya masuk begitu saja. “Apa yang kamu lakukan di sini!” seruku tak dapat menahan rasa geram. Pria ini sungguh kurang ajar. Tidak punya adab dan sopan-santun, menyerbu begitu saja ke dalam kamar seorang perempuan yang bukan mahramnya. “Pinjam duit untuk beli kerupuk udang,” katanya tanpa merasa bersalah sedikit pun. “Fatiha memintaku membelinya.” “Memangnya kamu tidak punya uang?” tanyaku tanpa sedikit pun berusaha untuk menyembunyikan nada tak suka. “Besok baru gajian. Gaji sebelumnya habis digunakan Fatiha untuk membeli pakaian.” Kebiasaan, dumelku dalam hati. Sejak gadis Fatiha memang gemar menghabur-hamburkan uang untuk menunjang penampilannya. Beranjak, aku mengambil dompet di ata meja nakas, lalu menarik lembaran dua puluh ribuan. “Lain kali jangan suka seenaknya masuk. Kalau ada perlu, ketuk pintu dan tunggu di luar,” ucapku seraya menyerahkan lembaran uang kepadanya. Alih-alih langsung pergi setelah menerimanya, dengan kurang ajar Arman justru menatapku dari atas ke bawah. Mengamatinya penuh penilaian. Sorot takjubnya membuatku mual. “Kamu cantik sekali, Salma,” pujinya. Aku menggertakkan gigi menahan marah. Belum sempat menyemprotnya, kudengar teriakan marah Fatiha dari luar. Adikku itu menatap kami nyalang sambil berkacak pinggang. Memejamkan mata, kurasakan keningku berdenyut. Keributan besar akan segera terjadi. Bersambung …
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN