Bertengkar

1285 Kata
Kami kembali pulang dalam hening. Dimas tak membuka obrolan hingga mobilnya sampai di depan rumahku. Aku turun dan membuka pagar. Ia membuntutiku hingga kami memasuki rumahku.                “Biarkan aku masuk.” Dimas mendorongku pelan saat aku menghalanginya masuk ke rumahku.                Tubuhku yang letih ini tak bisa memberontak. Aku hanya memperhatikan geraknya yang memindai isi rumahku.                “Kamu tidak ada kulkas? Tidak ada tivi? Lalu, apa yang kamu lakukan setiap hari di sini, Ratih?” Wajah Dimas tampak terkejut mendapati rumahku yang hanya memiliki satu kursi, tanpa barang elektronik yang biasa dimiliki setiap rumah.                “Aku sibuk menjahit,” jawabku seraya melirik pada satu-satunya mesin jahit yang menjadi temanku selama sendiri di rumah.                Dimas menghela napas dan duduk di atas lantai. Aku memang tak memiliki karpet. Aku sering menggunting pola di atas lantai dan itu membuat lantaiku berantakan dengan perca. Memiliki karpet akan membuat pekerjaanku tidak ringkas.                “Kuharap kamu memiliki setidaknya dua mangkuk dan sendok.” Dimas membuka kantung berisi tiga porsi soto.                Aku berjalan menuju dapur dan kembali dengan dua mangkuk yang kudapat dari membeli detergen. Dimas menyambut mangkuk itu dan menuang soto untuk kami.                “Makan, Tih. Aku gak akan mulai makan sebelum kamu makan duluan.”                Meski tak selera, aku tetap memasukkan nasi soto yang Dimas beli untukku. Rasanya pahit di lidah, meski tak sepahit kenyataan bahwa aku masih mencintai pria yang menghianati pernikahanku dengannya.                Dimas meninggalkanku dan berjalan tanpa permisi ke arah dapur. Aku tak tahu apa yang ia lakukan di sana, tetapi aku tak terima dengan sikapnya yang tak tahu tata krama.                “Serius, Tih? Kamu hanya punya sarden, kornet, mie instan, pasta mentah dan segala sausnya di lemari dapurmu? Kamu tidak memiliki buah atau sayur?” Dimas berteriak dari arah dapurku.                “Aku tidak memintamu menginspeksi dapurku,” tukasku tak senang.                Ia kembali berjalan mendekatiku dan mulai menikmati soto miliknya. “Besok aku dan Vanessa akan pergi dan aku janji membelikanmu banyak bahan makanan sekalian kulkasnya sepulang kami bertemu klien. Pola hidup dan makanmu tidak sehat. Jika begini terus, bukan hanya kurang darah, tetapi kamu juga bisa terkena kanker darah atau penyakit menyeramkan lainnya.”                Aku tak mencoba membantah. Dimas selalu bisa bersikap tergas jika menurutnya, apa yang ia lakukan benar dan yang kulakukan salah. Jika aku mencoba mendebat, kami akan berakhir bertengkar dan aku bisa saja kembali pingsan.                “Mau kemana?” Dimas bertanya tegas saat aku berdiri dari dudukku di lantai.                     Aku menatapnya datar. “Aku memang tak memiliki kulkas, tapi setidaknya aku memiliki air putih untuk kita minum.” Aku melangkah meninggalkannya menuju dapur. Setelah mengambil satu teko ukuran sedang air putih dan dua gelas untukku dan Dimas, aku kembali ke tempat kami makan soto. “Aku ingin bertanya,” ucapku setelah meletakkan gelas tepat di depan tubuhnya yang duduk bersila.                “Kita memang harus bicara,” jawab Dimas seraya tetap menyuap makan malamnya dan memandangku dengan wajah serius.                “Siapa Vanessa?”                Kening Dimas mengernyit samar dengan mata yang menatapku lama sebelum menjawab, “Rekan kerjaku.” Bahkan nadanya terlihat ragu dan aku menangkap ada takut dalam suaranya.                Mataku memicing curiga pada wajahnya. “Rekan kerja? Seingatku, wanita itu ada di rumahmu, setiap hari, setiap malam.” Aku yakin tentang ini. Yakin sekali karena hampir setiap hari melihatnya ada di rumah sebelah.                “Kami memang tinggal bersama.”                “Berdua?”                “Ya—tapi kamu tahu sendiri jika teman-temanku yang lain juga suka datang ke rumahku.” Dimas membuang muka dan meliarkan tatapan matanya. “Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Vanessa. Kami bahkan tidak pernah berciuman.”                Aku berdecih lirih dan pikiranku kembali dikuasai banyak asumsi negatif terhadap pria ini. “Sekarang mungkin tidak, atau belum, atau kamu tidak mengaku padaku. Mana kutahu apa yang kamu ucapakan barusan benar atau tidak. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri jika kalian selalu pergi bersama setiap hari dan tinggal bersama setiap waktu. Perempuan itu cantik dan bisa menggoda imanmu setiap waktu.”                “Demi Tuhan aku dan Vanessa tak pernah memiliki hubungan selain rekan kerja, Ratih! Dari dulu kamu selalu berpikiran buruk pada setiap rekan kerja perempuanku. Kamu bekerja di perusahaan dan aku tak pernah menuduhmu dengan rekan kerja pria di konveksimu.” Suara Dimas meninggi. Ia bahkan mendorong mangkuk soto yang masih menyisakan beberapa suap nasi lagi.                “Kamu memang tak perlu cemburu, karena aku sungguhan menjaga diriku dari setiap laki-laki di sana. Berbeda denganmu yang ternyata sering bermalam di hotel atau kantor bersama rekan kerja wanitamu.”                “Kami bermalam tidak berdua dan itu karena pekerjaan, Ratih! Aku menggarap sistim jaringan hotel dan mendapat privilegde mengerjakan di gedung mereka. Itu sebabnya saat kita vidio call, kamu selalu mendapatiku ada di kamar hotel dengan rekan kerjaku.”                “Tetapi rekan kerja yang satu kamar denganmu selalu wanita,” bantahku dengan emosi yang kembali meledak. Mengingat bagaimana penolakan Dimas menjawab pertanyaanku mengapa dia berada di ranjang yang sama dengan perempuan dan bagaimana pria itu membentakku agar aku segera menyudahi sambungan kami, membuat sakit hatiku terasa lagi.                “Intinya aku tidak pernah selingkuh, dengan Ivana sekalipun. Dengan Vanessa, aku hanya tinggal berdua dengannya dan hubungan kami hanya sebatas rekan kerja, tidak lebih! Jangan terus berpikiran kolot dan kuno seperti itu, Ratih. Kamu selalu mencurigaiku dan menyalahkan setiap hal yang kulakukan saat kita berjarak. Aku bekerja keras di Surabaya dan kamu hanya bisa melemparku dengan kecemburuan tak beralasan dan dugaan yang tak terbukti.”                “Buktinya aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, jika kamu mencium rekan kerja yang selalu tertangkap mataku satu kamar denganmu setiap kita vidio call. Sekarang, kamu tinggal dengan Vanessa yang rekan kerjamu juga. Dia bukan istrimu, tetapi kalian hidup satu atap.” Tangisku kembali pecah dan dadaku kian terasa sesak. Jantungku berdegup dengan rasa nyeri yang tak terperi. Rasanya sulit bernapas dan sulit untuk tetap menjalani hidupku setelah fakta yang kudapat dari pria ini. “Kamu—“ isakku yang keras membuatku sulit bicara. Sesak sekali rasanya mencintai pria yang jelas mempermainkan perasaan kita, “—kamu melarangku hidup denganmu di Surabaya. Kamu—kamu melarangku, yang istri sahmu untuk hidup satu atap denganmu berdua, te—tetapi kamu dengan mudahnya hidup bersama dengan perempuan yang bukan siapa-siapamu.”                Tubuhku terasa lemas dan aku berharap nyawaku Tuhan cabut saat ini juga. Enam tahun aku tak berhasil mengusir namanya dari hatiku, tetapi justru mendapat kenyataan yang jauh lebih pahit dari apa yang kupikirkan.                Dimas mengusap wajahnya kasar. “Aku tidak seburuk yang kamu pikirkan, Ratih. Aku bekerja di dalam rumah dan Vanessa salah satu timku yang mengerjakan proyek ini. Ada alasan kenapa dia hidup bersamaku di rumah itu.” Suaranya terdengar frustrasi, begitupun wajah Dimas.                “Apapun alasannya, tindakanmu jelas salah tinggal dengan perempuan yang bukan keluargamu.”                “Kenapa kamu selalu menilai apa yang kukerjakan dan kuperbuat salah, Tih? Aku bekerja dan benar-benar bekerja! Jangan bawa-bawa Vanessa dalam bencimu padaku.”                “Aku memang membencimu,” dustaku seraya terisak semakin keras hingga tenggorokanku terasa terputus dan sulit bicara. “Aku—membencimu—sepenuh—hatiku.”                “Tapi aku mencintaimu, Ratih, masih mencintaimu.”                Aku menggeleng tegas dan menunjuk ke arah pintu dengan jari telunjukku. Semoga ia paham jika aku memintanya untuk pergi dari hadapanku saat ini juga. Tanganku gemetar hebat dengan kepala yang kembali terasa berat.                “Aku tidak akan pulang sebelum kamu meminum obatmu.”                “Pergi,” usirku lirih dan terbata. “Aku bahkan tak peduli sekalipun aku mati malam ini. Bagitu itu lebih baik daripada terus kamu sakiti seperti ini.”                Dimas membanting kantung plastik berisi obat yang ia beli di apotik tadi, lalu melangkah dengan derap keras keluar rumah.                Tubuhku luruh di lantai yang dingin ini. Aku tak tahu harus bagaimana menata hatiku setelah banyaknya rasa kecewa yang Dimas beri padaku. Aku salah. Aku salah mempertahankannya di hatiku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN