Tiga Puluh Empat Dira membuka matanya lalu mengedarkan pandangan keseluruhan ruangan. "Rumah Sakit!" Dira kaget dan berusaha untuk bangun. Sayang, tubuhnya terasa sakit dan kaku, Dira melihat tangan kirinya yang dipasangi jarum infus. Pelan-pelan kakinya digerakkan dan mencoba untuk bangun. "Ya Tuhan, kenapa jadi begini." Sekuat tenaga Dira menggeser kakinya. Nafasnya terengah dengan peluh yang bercucuran, Dira akhirnya berhasil menggeser tubuhnya sedikit. Tangan kanan nya meraih ujung selimut lalu menyibakkannya. Hembusan nafas lega lolos dari mulutnya. Kedua kakinya masih ada dan utuh. Hanya saja masih terlihat bengkak membiru. "Aku harus ke sana, tapi bagaimana caranya?" Dira menatap sekeliling ruangan, hanya ada dirinya di sana. Dira menatap pintu ruang rawat yang ditempatinya, s

