Bab 14

1408 Kata
Pagi sudah menjelang dan matahari sudah muncul ke permukaan. Sinarnya masuk melalui jendela yang sudah terbuka. Sinar itu mengenai wajah cantik Castellia yang masih tertidur pulas di atas tempat tidur dengan selimut yang menutupi sebagian tubuhnya. Wanita cantik itu mulai menggeliat karena terganggu oleh sinar matahari tersebut. Perlahan ia membuka kedua matanya dan berusaha mengumpulkan nyawanya. Kemudian ia terduduk dan melihat ke setiap sudut kamarnya, lalu beralih ke samping kanan. Dahi Castellia mengerut sambil mengambil setangkai bunga mawar merah dan sepucuk surat yang ada di sampingnya. Ia melihat bunga serta surat tersebut secara bergantian. Castellia meletakkan sejenak bunga tersebut di atas pangkuannya, kemudian mulai membuka lipatan surat berwarna biru langit itu. Selamat pagi, Istriku. Aku sudah menyiapkan makanan kesukaanmu di meja makan. Jangan sampai tidak dimakan ya. Oh iya, sebaiknya dipanaskan dulu sebelum memakannya ya. Buah-buahan juga sudah aku siapkan di lemari pendingin. Kau jangan risau ya. Aku sudah menambah penjagaan di depan dan aku pastikan pria itu tidak akan mengganggumu lagi. Jika terjadi sesuatu, berteriak saja atau langsung bersembunyi dan hubungi aku ya. I love you.... Castellia tersipu saat membaca isi surat yang ternyata ditulis sendiri oleh suaminya. Masih pagi, tapi Castellia sudah mendapat asupan energi dari suaminya. Castellia meletakkan surat tersebut lalu mengambil kembali bunga yang ada di pangkuannya. Ia menghirup harum bunga mawar merah tersebut kemudian tersenyum bahagia. "Kenapa kau selalu bisa membuatku tersenyum, Nick? Kau selalu memberi kenyamanan bagiku. Tidak seperti orang yang kucintai sebelumnya. Aku tidak menyangka jika kau bisa sehangat ini padaku. Meski begitu, kau juga terlihat menyeramkan saat marah semalam. Untuk pertama kalinya, kau menunjukkan sisi tegasmu padaku, Nick. Tapi, aku menyukainya. Itu artinya, kau memang bisa melindungiku dengan baik," Castellia berbicara pada bunga mawar tersebut. Selanjutnya, Castellia turun dari tempat tidur sambil tetap memegang bunga dari suaminya itu. Castellia mencari sebuah vas kecil untuk meletakkan bunga mawarnya. Ia mengisi vas tersebut dengan air lalu memasukkan bunga itu di dalam vas. Vas tersebut pun ia letakkan di atas nakas samping tempat tidurnya. Kemudian Castellia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sementara Nick duduk di sofa bersama kedua orang tuanya. Hari ini dia izin tidak masuk kantor karena harus menyelesaikan masalah adiknya dengan Vincent. Sejak semalam, Nick merasa gelisah. Sebenarnya, ia terus saja terbangun karena memikirkan masalah itu. Tapi dia tidak membuat suara apapun agar istrinya tidak ikut terbangun. Nick juga merasa kasihan pada Castellia dan merasa tidak terima istrinya disakiti seperti itu. "Ada apa, Nick? Kenapa wajahmu ditekuk seperti itu?" tanya Sebastian penasaran. "Tidak biasanya kau seperti ini." Nick menghela napas lalu menatap sang ayah. "Ayah, Ibu, apa kalian tahu tentang Katharina dan kekasihnya?" "Apa maksudmu, Nick?" tanya Lara. "Ibu tidak tahu kalau dia sedang hamil?" Sebastian dan Lara terkejut mendengar pertanyaan Nick. Mereka tidak mengerti dengan apa yang Nick bicarakan. Bagaimana Katharina bisa hamil? Wanita itu bahkan tidak pernah mengatakan apapun soal pasangan. Kenapa bisa tiba-tiba putri mereka hamil? "Apa yang kau bicarakan, Nick? Setahu Ibu, adikmu tidak pernah mengatakan apapun tentang orang spesial dalam hidupnya. Dia juga tidak pernah membawa seorang pria ke rumah. Bagaimana bisa kau bilang dia hamil?" ujar Lara yang sedikit tidak percaya pada ucapan putranya itu. "Iya, Nick. Kau dapat berita darimana? Itu mungkin fitnah," sahut Sebastian. "Adikmu tidak mungkin menghancurkan nama baik keluarga kita." Nick sudah menduga akan reaksi orang tuanya. Mereka sulit sekali percaya pada perkataan seseorang, apalagi tanpa bukti sedikitpun. "Aku sempat berpikir seperti Ayah. Tapi setelah kutelusuri lagi, ternyata itu memang benar. Jika Ayah dan Ibu tidak percaya padaku, kita bisa memeriksakannya ke dokter. Dari pemeriksaan itu, kita bisa tahu apakah dia hamil atau tidak." "Ayah masih tidak mengerti. Kenapa tiba-tiba saja kau menuduh adikmu seperti itu? Bukankah kau selalu mempercayainya? Apakah ada seseorang yang menghasutmu?" tanya Sebastian. "Apa istrimu yang memfitnah adikmu? Jika benar, berani sekali dia," sahut Lara. Nick menatap sang ibu. "Apa yang Ibu pikirkan? Memang istriku yang mengatakan itu, tapi dia tidak memfitnahnya. Istriku bukan tipe orang yang seperti itu." "Kenapa kau membelanya? Ibu sudah tahu bagaimana sikap dia padamu. Setelah menikah, dia selalu mengabaikanmu dan hanya mengurung diri di kamar. Bahkan dia tidak mau mengurusmu, seperti yang Ibu lakukan selama ini," ucap Lara yang merasa tidak suka dengan menantunya itu. "Kenapa Ibu menyalahkan istriku? Aku sedang membahas masalah putri Ibu. Apapun yang terjadi di pernikahanku, itu bukanlah urusan Ibu. Tanggung jawab Ibu sekarang adalah mengurus Katharina. Jangan sampai dia mempermalukan kalian dengan tingkah buruknya itu." Nick mulai tidak terima dengan perkataan Ibunya. Padahal dirinya sudah bicara baik-baik. "Tenanglah, Nick." Sebastian mencoba untuk menenangkan putranya. "Jangan dengarkan ucapan Ibumu. Sekarang katakan, jika memang adikmu hamil, siapa yang bertanggung-jawab dengan hal ini? Apa kau mengenal orangnya?" tanyanya. "Sayang, putri kita tidak mungkin seburuk itu. Ini fitnah," Lara tidak setuju dengan ucapan suaminya. "Bagaimana bisa kau percaya dengan fitnah itu?" "Vincent," ucap Nick. Sebastian menatap Nick. "Vincent mantan kekasih istrimu?" "Ya, dia orangnya." "Bagaimana bisa?" tanya Sebastian heran. "Awalnya aku tidak tahu, Ayah. Tapi Katharina pernah berkata bahwa dirinya sedang mencintai seorang pria dan pria tersebut juga mencintainya. Cerita itu sudah kudengar dari delapan bulan lalu, dan istriku bilang saat itu dirinya masih menjalin hubungan dengan Vincent. Berarti selama ini, Katharina sudah mengkhianati istriku yang notabennya adalah sahabatnya sendiri," Nick menjelaskan kronologinya. Sebastian semakin terkejut dengan pernyataan tersebut. "Lalu, darimana istrimu tahu kalau adikmu sedang mengandung anak itu?" "Saat istriku masuk kerja setelah masa cutinya habis, dia tidak sengaja mendengar pembicaraan Vincent dan Katharina di dekat ruang kerjanya. Katharina mencoba meminta pertanggung-jawaban pada pria itu, tapi pria itu menolak untuk bertanggung-jawab karena masih mencintai istriku. Dan parahnya lagi, Katharina memaksa Vincent untuk kabur dari acara pernikahan itu untuk mempermalukan istriku." "Astaga!" Sebastian mengusap rambutnya ke belakang karena frustrasi. "Bagaimana bisa putriku bertindak seperti itu? Ini benar-benar memalukan," ujarnya syok. Lara tiba-tiba berdiri dan menatap Nick dengan tatapan tajam. "Ibu tidak percaya pada ucapanmu atau ucapan istrimu, sebelum kalian menunjukkan buktinya!" "Ibu sangat keras kepala," ucap Nick. "Sampai kapan Ibu akan menutupi semua kesalahan Katharina? Dia itu sudah sangat kurang ajar, Ibu." "Kau yang kurang ajar, Nick! Kenapa kau lebih percaya orang lain daripada adikmu, hah?!" bentak Lara. Nick membalas tatapan Ibunya. "Karena dia istriku. Istriku bukanlah orang sembarangan. Dia dilahirkan dari keluarga baik-baik dan selalu menjaga kehormatan dirinya, bukan seperti Katharina. Apa yang sudah Ibu ajarkan padanya, sampai dia nekad melakukan hal menjijikkan seperti itu? Apa Ibu tidak malu?" "Ah, kau sudah berani melawan Ibumu ini, hah?! Memangnya apa yang diberikan istrimu itu?! Dia bahkan tidak bisa memberi kebahagiaan padamu!" "Cukup, Ibu!" Nick sudah tak sanggup lagi untuk menahan amarahnya. Ibunya sudah sangat keterlaluan. Istrinya bukanlah orang yang membawa dampak buruk baginya. "Aku sudah menahan kesabaranku! Istriku tidak pernah menghasut atau membawa dampak buruk bagiku! Dia wanita baik-baik! Tidak seperti putri Ibu yang merelakan kesuciannya untuk merebut calon suami sahabatnya sendiri! Aku sebagai kakaknya merasa malu!" "Kau...." "Lara!" Kali ini Sebastian yang membentak istrinya. Dia sudah berdiri dan menatap istrinya dengan tajam. "Harusnya kau malu! Bukan menuduh menantumu seperti itu! Aku tahu bagaimana keluarga Karl Busch! Karl itu orang tua yang patut dicontoh karena dia bisa menjaga kesucian putrinya dengan baik!" lanjutnya. "Suamiku, apa kau tidak percaya pada putrimu sendiri?" tanya Lara. Sebastian menghela napas lelah. "Awalnya percaya pada Katharina. Tapi setelah Nick menjelaskan begitu detail, aku jadi tidak percaya pada Kathrina. Aku harus memeriksakannya ke dokter. Jika kau tidak setuju, sebaiknya jangan mengganggu. Ayo, Nick!" Sebastian dan Nick pun bergegas pergi untuk menemui Katharina yang sedang bertugas di rumah sakit milik keluarga Busch. Sepanjang perjalanan, Nick masih memikirkan sikap Ibunya yang mendadak berubah. Biasanya ia selalu mendengar ucapan lembut dan tatapan hangat Ibunya. Nick bahkan tidak pernah berucap dengan nada tinggi pada Lara. Tapi kenapa Lara dengan teganya menuduh Castellia seperti itu? Sebastian menatap Nick sekilas. "Tidak perlu memikirkan ucapan Ibumu, Nick. Ayah tahu bagaimana istrimu dan keluarganya. Mereka keluarga baik-baik. Itu sebabnya Ayah menjodohkanmu dengannya." "Aku juga tahu itu, Ayah," ujar Nick. "Aku hanya tidak habis pikir dengan sikap Ibu. Dimana suara lembut itu? Dimana tatapan hangat yang biasa dia tunjukkan padaku? Kenapa dia bersikap seolah istriku adalah penjahat?" "Ayah juga tidak menyangka Ibumu bisa sekeras itu. Ayah curiga, mungkinkah Ibumu sudah mengetahui kehamilan adikmu?" Sebastian berasumsi. Nick menatap sang ayah. "Maksud Ayah, Ibu sengaja menutupinya?" "Ya, mungkin saja. Tapi ini masih belum bisa dipastikan kebenarannya. Ayah hanya merasa seperti itu, melihat perubahan sikap Ibumu," ujar Sebastian. Nick hanya menghela napas berat sambil tetap fokus menyetir menuju rumah sakit tersebut. Nick berharap, bukti ini bisa membuka mata Ibunya dan menarik ucapannya tentang Castellia. To be continue~
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN