Bab 8

1251 Kata
Castellia terlihat sedang sibuk mengurus beberapa pasien barunya hari ini. Banyak yang mengalami cedera parah dan itu sangat melelahkan bagi Castellia, namun ia harus tetap profesional. Beberapa pasien sampai memuji keuletan Castellia dalam menangani mereka. Gerakan Castellia sangat cekatan sehingga mereka tidak menunggu begitu lama. Setelah beberapa jam berlalu, tugas Castellia pun selesai dan ia beristirahat sejenak di ruangan fisioterapis. Ia duduk di kursi sambil memijat batang hidungnya yang terasa lelah karena kacamata yang ia gunakan tadi. Sesekali Castellia meregangkan otot-ototnya agar tidak kaku. Sementara asistennya tengah merapikan ruangan tersebut. "Dok," panggil Donna, asisten Castellia. "Ya?" "Dokter dan suami sangat romantis ya," ujar Donna sambil tersenyum ke arah Castellia. "Saya kebetulan melihat kalian di lobi tadi." Castellia turut tersenyum. "Benarkah?" "Benar, Dok." Castellia meminta Donna untuk beristirahat sejenak dan duduk bersamanya di kursi lainnya. Donna pun menuruti permintaan Castellia dan mengambil sebuah kursi lalu mendudukinya. Kini ia duduk berhadapan dengan Castellia. "Boleh aku tanya sesuatu?" tanya Castellia. "Tentu saja boleh, Dok," jawab Donna terkekeh. "Ehm... menurutmu, suamiku tampan atau tidak?" Castellia bertanya lalu menggigit bibir bawahnya karena sedikit malu menanyakan hal itu pada Donna. Donna pun tertawa mendengar pertanyaan tersebut. "Kenapa Dokter menanyakan itu pada saya?" "Karena aku ... ingin tahu pendapatmu sebagai wanita," jawab Castellia gugup. "Dok...," Donna memegang tangan Castellia dan menatapnya dengan tulus, "...saya tahu apa yang sedang Anda khawatirkan. Anda merasa khawatir karena kejadian waktu itu, kan? Banyak yang mencibir Anda karena Dokter Vincent meninggalkan Anda dan saya mendengar hal itu." Wajah Castellia mendadak murung dan kepalanya tertunduk. "Kau benar, Donna. Aku mengkhawatirkan soal itu. Jujur, aku sangat tidak nyaman dengan cibiran itu." "Saya tahu bagaimana perasaan Anda. Tapi saya mohon, abaikan saja mereka. Mereka tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Saya sudah mengetahui fakta bahwa Dokter Vincent-lah yang bersalah dalam hal ini," ujar Donna. Castellia mengangkat kepalanya untuk menatap Donna. "Apa kau tahu kalau Dokter Vincent memiliki hubungan khusus dengan Dokter Katharina?" "Iya, Dok," jawab Donna. "Kau tahu dari siapa?" tanya Castellia dengan dahi yang mengernyit karena heran. "Bukankah yang melihat waktu itu hanya aku dan salah satu perawatku saja? Apa Donna tahu dari salah satu perawatku itu?" lanjut Castellia dalam hati. "Merry. Dia yang memberitahu saya, Dok." Ternyata benar dugaan Castellia. Merry sudah mengatakan hal itu pada Donna. Mungkinkah Merry juga mengatakan pada yang lainnya? "Apa dia juga mengatakan pada yang lainnya?" tanya Castellia kemudian. Donna menggeleng. "Saya tidak tahu, Dok. Tapi saya rasa, dia tidak mungkin mengatakannya pada yang lain. Dia pasti takut pada Anda." "Aku tidak semenakutkan itu," gerutu Castellia kesal. "Sekarang, jawab pertanyaanku yang pertama tadi. Menurutmu, suamiku itu tampan atau tidak?" "Tentu saja tampan. Bahkan lebih tampan dari Dokter Vincent," jawab Donna jujur. "Benarkah?" Donna mengangguk antusias. "Jika saya ada di posisi Anda, saya lebih memilih suami Anda daripada Dokter Vincent. Selain tampan, dia juga kelihatan lembut. Benar, kan?" "Kau benar," Castellia menyetujui pendapat Donna. "Dia orang yang baik hati dan sangat lembut. Setiap berbicara padaku selalu lembut dan dia sangat mengerti perasaanku. Bahkan sampai detik ini, dia tidak pernah memaksaku untuk mencintainya." "Anda beruntung mendapatkan pria sebaik dia, Dok. Cobalah untuk membuka hati dan temukan kebahagiaan Anda. Masa lalu tidak perlu diingat lagi. Anggap saja itu sebagai petunjuk dari Tuhan bahwa pria yang Anda cintai belum tentu yang terbaik," ujar Donna, mencoba untuk memberi pencerahan pada Castellia. Castellia tersenyum lalu memeluk Donna dan mengucapkan terima kasih. Berkat ucapan Donna, Castellia menjadi sadar bahwa masa depannya kini adalah bersama Nick dan kebahagiaan itu akan datang jika ia melupakan masa lalunya dengan segera. Menerima cinta Nick mungkin akan membuatnya lupa pada Vincent. Setelah bercerita banyak, Castellia pun kembali ke ruangan pribadinya. Ia menatap jam tangannya dan waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Castellia mengecek jadwalnya dan hari ini dia terbebas dari kewajibannya menjadi dokter jaga. Ia pun akan mempunyai banyak waktu di rumah dan bisa melakukan pendekatan lebih pada Nick. Castellia mencatat beberapa hal tentang medis di catatannya. Tetapi, kegiatannya itu terganggu oleh kemunculan Vincent di ruangannya. Castellia menatap Vincent dengan tatapan tajam sambil berdiri dari kursinya. "Mau apa kau ke sini?!" Vincent tidak menjawab. Pria itu justru mendekati Castellia dan langsung memeluknya dengan erat sambil menangis. Castellia terkejut sambil berusaha melepaskan pelukan Vincent. Tapi Vincent malah semakin mempererat pelukannya, seolah tidak membiarkan Castellia pergi lagi darinya. "Lepaskan!" bentak Castellia. "Tidak. Aku tidak akan pernah melepaskanmu," tolak Vincent. Castellia masih berusaha melepas pelukan tersebut. "Jangan gila! Aku sudah menikah dan kau tidak berhak memelukku seperti ini!" Vincent menggeram marah lantas mendorong tubuh Castellia hingga menempel ke dinding ruangan tersebut. Pria itu langsung mencium dan melumat bibir Castellia dengan kasar sampai membuat Castellia kewalahan dan terus mendorong d**a bidang yang sedang menghimpit tubuhnya. "Hen-ti-kan!" teriak Castellia di sela ciuman gila itu. Vincent tak menghiraukan teriakan dan penolakan Castellia. Dia hanya ingin menunjukkan pada Nick bahwa wanita di hadapannya ini masih miliknya. Bahkan Vincent dengan gillanya meninggalkan tanda merah begitu banyak di leher Castellia. Pria itu benar-benar sudah kehilangan akal sehat sampai tidak sadar bahwa dibalik pintu sudah ada yang merekam kegiatannya dengan Castellia. Saat Castellia tersadar Vincent hendak melucuti pakaiannya, ia pun langsung mendorong Vincent dengan sekuat tenaga hingga pria itu terhempas ke lantai. Castellia menghirup udara banyak-banyak setelah mendorong Vincent. "Dasar bodoh!" teriak Castellia marah. "Kau pikir, ini bisa membuatku kembali padamu, hah?! Aku sudah punya suami dan aku... mencintai suamiku!" Vincent menatap Castellia dengan tajam. "Aku tidak percaya, kau mencintainya! Aku yakin, kau masih mencintaiku dan tidak bisa melupakanku!" "Cih!" Castellia mendecih sambil menatap Vincent. "Hanya wanita bodoh yang masih mau mencintai pria pengkhianat sepertimu!" Vincent berdiri dengan tatapan terkejut. "Apa maksudmu? Aku bukan pria seperti itu." "Benarkah?" Castellia tertawa meremehkan. "Kau tidak perlu berpura-pura baik di depanku, Vincent. Keburukanmu sudah kuketahui," lanjutnya. "Aku bersyukur batal menikah denganmu waktu itu dan Tuhan memberiku pria yang lebih baik darimu." "Jelaskan dengan benar! Apa yang kau maksud?!" Castellia mengepal kedua tangannya dan menatap Vincent teramat tajam, seolah ingin melenyapkan pria gila yang sudah sangat menyakiti hatinya itu. "Aku tahu, kau mempunyai hubungan khusus dengan Katharina di belakangku! Kau juga sudah menghamilinya dan karena itulah, kau meninggalkan acara pernikahan itu! Apa kau puas?! Apa kau puas karena sudah menyakiti dan mempermalukanku di depan semua orang?!" Vincent terkejut setengah mati. Bahkan ia memundurkan kakinya ke belakang. Ia tidak menyangka jika Castellia mengetahui hal tersebut. Tapi, darimana ia tahu? Pikir Vincent. "Aku sudah mendengar semuanya dari percakapanmu dengan Katharina, adik iparku sendiri." Castellia menangis terisak sambil duduk di kursi kerjanya, "Kenapa kau tega melakukan ini padaku? Kau bermain dengannya di belakangku ... sampai dia hamil anakmu. Padahal kau tahu, dia itu sahabatku!" "Maafkan aku," ucap Vincent. Castellia mendongak dan menatap Vincent. "Maaf? Apa dengan kata maaf, kau bisa mengembalikan keadaan seperti semula? Apa kau pikir, perbuatanmu itu bisa kumaafkan?" Vincent hanya diam. Ia sadar jika dirinya memang sudah membuat kesalahan yang teramat besar, sampai membuat Castellia tersakiti dan malu. Harusnya saat itu, ia lebih menuruti kata hatinya daripada menuruti ucapan Katharina. Tapi, ia juga tidak bisa meninggalkan Katharina begitu saja karena wanita itu sudah mengandung anaknya. "Kenapa kau diam? Apa kau kehabisan kata-kata untuk membuat alasan?" Castellia bertanya dengan deru napas yang menggebu karena marah. "Aku bersyukur, suamiku tidak memiliki sifat sepertimu. Harusnya sejak awal, aku menerima perjodohan yang ditawarkan ayahku dan meninggalkan pria berengsek sepertimu. Aku menyesal telah memilihmu," lanjutnya. Vincent berjalan mendekati Castellia. Ia memeluk Castellia sambil menangis dan mengucapkan kata 'maaf' berulang kali. Namun hal itu tidak membuat hati Castellia luluh. Wanita itu justru kembali mendorong Vincent dan langsung berdiri. "Lebih baik kau pergi dari hidupku. Jangan mengusikku lagi," ucap Castellia. To be continue~
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN