SELAMAT MEMBACA Liam mengetuk-ngetukkan jarinya pada tangan kursi yang ia duduki. Perasaan khawatir menyergapnya, kata-kata Auris sungguh menganggunya saat ini, ia jadi tidak tenang. DRAP! DRAP! "Di mana Yang Mulia?!" Liam tersentak dari lamunannya ketika seorang wanita berteriak dari luar kediamannya. Ia melangkah keluar dari kamarnya dan mendapati wanita dengan bayi dalam gendongannya telah ditahan oleh prajurit yang berjaga di depan kediamannya. "Lepaskan," titah Liam yang telah mendekat. Wanita itu langsung berlari ke arah Liam dengan air mata yang luruh dengan deras. Keringat memenuhi tubuhnya, ia begitu terengah-engah. "Siapa kau?" tanya Liam. "Saya kakak ipar Auris," jawabnya. " Auris tidak ada di sini, kenapa ke sini?" tanya Liam dengan raut datar. Lithia telah mema

