12 | Memuaskan si Cinta

1494 Kata
Sekitar pukul empat pagi, Chiara kebangun dan stok air di kamarnya habis. Dia mendesah sebal, karena selalu bangun di jam-jam seperti ini beberapa hari belakangan. Kadang Chiara bisa tidur lagi, kadang juga tidak sama sekali hingga pagi. Dia cukup kelelahan mengatur pola tidurnya yang berantakan. Dalam keadaan sangat mengantuk, Chiara melangkah malas ke dapur. Dia menguap dan menggaruk lehernya yang gatal. "Huh, kok ada aroma Lucan di sini?" Chiara mengernyit, berusaha mengenali aroma ruangan yang berubah. Keadaan apartemen sedang temaram, hampir semua ruangan Chiara matikan lampunya. "Nggak mungkin," gumamnya meyakinkan diri. "Yang tau kode akses cuma Abell, Papa dan Mama. Jangan halu, Chia!" Mengetuk-ngetuk kepalanya agar sadar. Mungkin karena efek mengantuk, dia sedikit mengigau. Di dapur, Chiara mengisi tempat airnya hingga setengah bagian, dia juga mengambil beberapa apel untuk camilan. Sepertinya habis ini Chiara tidak bisa tidur, kantuknya hilang saat kepikiran Lucan barusan. "Udah satu bulan dia nggak ada kabar. Masih hidup nggak, ya?" "Tapi buket lily masih datang setiap hari ke studio. Artinya dia baik-baik aja, 'kan?" Saat sibuk memotong buah sambil bergelut dengan pikiran, tiba-tiba dari arah belakang ada yang menyentuh pinggang Chiara, tanpa aba-aba mendudukkannya di kitchen set hingga membuat wanita itu menjerit kaget. "Untung gerakan saya cepat," ujar Lucan lebih dulu merebut pisau dari tangan Chiara, sebelum menancap ke tubuhnya. "Iya, saya masih hidup. Kamu sepertinya sangat khawatir saya mati?" Sama sekali tidak ada suara dalam gerakan Lucan, jantung Chiara hampir saja copot. "Lucan, ngapain kamu di sini? Gimana caranya bisa masuk?" Chiara memukul bahu pria itu. Dia ingin turun, tetapi Lucan menahan dengan berada di antara kaki Chiara. "Apa yang saya tidak ketahui dari kamu?" Chiara memicing, kemudian bergidik ngeri. "Minggir! Nggak sopan keluar masuk tempat orang sembarangan. Kamu udah dua kali bersikap kayak gini. Jangan kamu pikir, kamu punya kuasa, bisa seenaknya, Lucan." "Saya sangat menikmati kekuasaan ini. Saya senang bertindak seenaknya. Apa yang salah?" Lucan menaikkan sebelah alis, menatap Chiara tanpa henti. Tangan kanannya digunakan untuk mengunci gerakan Chiara, sementara jarak mereka kian intim. "Jangan aneh-aneh!" Chiara sigap menepis tangan kiri Lucan yang mulai nakal mengusap paha bagian luarnya. Sentuhan kecil itu membuat bulu kuduk Chiara meremang, membuat Lucan tersenyum miring. Antara sedang mengejek atau senang karena sentuhannya masih menjadi kelemahan Chiara. "Tubuh kamu justru memberikan respon berbeda dari mulut kamu. Dia menyambut saya." "Mau apa kamu? Jangan kelewatan batas, Lucan!" Chiara berusaha menolak sentuhan selanjutnya, tetapi gerakannya terbatas. Dia bahkan tak bisa merapatkan kedua kakinya akibat terhalang tubuh Lucan. "Kamu cantik sekali." Menyentuh tali gaun tidur Chiara di bahu, kemudian menarik ikatannya hingga terlepas. Chiara cepat-cepat menahan agar gaunnya tidak melorot dan tampil tak senonoh di hadapan Lucan. Lucan meremas paha Chiara, meninggalkan jejak kemerahan pada kulit putihnya. "Apa tidak bosan cantik terus, Chiara?" "Lucan. Stop!" Chiara kelepasan, langsung mengantup bibirnya ketika jemari Lucan memangkas habis akal sehatnya. Dia bergerak perlahan tapi penuh paksaan, menyentuh bagian-bagian lebih intim ke arah milik Chiara. Lucan sangat sibuk di bawah sana, meski wajahnya tetap tenang dan sedang memandangi Chiara yang mulai kewalahan menolak sentuhan. "Begini saja sudah naik nafsu kamu?" Lucan meledek puas, menaikkan bahunya dengan senyum yang membuat Chiara semakin malu. "Hanya respon normal ketika milikku disentuh pria. Siapa pun yang melakukannya, akan sama saja respon tubuhku." "Kamu yakin?" Chiara menutup mulutnya, memejam beberapa saat ketika merasakan jari Lucan semakin nakal. Tubuh Chiara menegang, tidak berani bergerak sama sekali. Rasa asing yang dulu selalu menjadi candu, kini bisa Chiara rasakan kembali. Lucan berhasil membuatnya bertekuk lutut. "Coba katakan sekali lagi. Biar sekalian saya hukum." "L—lucan ... u—udah!" "Siapa saja yang pernah melakukan ini padamu, Chiara?" Gerakan Lucan semakin menyiksa, membuat tubuh Chiara bergerak mengikuti instingnya untuk menyesuaikan posisi, sebab gerakan jari Lucan beberapa kali terasa kurang nyaman. "Lucan ... pelan-pelan. Sakit digituin!" Chiara protes, menekan bahu Lucan agar tetap memberinya kenyamanan tanpa menyakiti. "Jawab!" "N—nggak ada. Lucan, tolong!" Napas Chiara tidak beraturan, ekspresinya berantakan entah bagaimana. Meski begitu, Lucan tetap memandanginya. "Yang bener gerakan kamu, jangan suka-suka doang." "Benerin duduk kamu, jangan tegang." Lucan bantu membenarkan posisi Chiara—menaikkan sebelah kakinya, kemudian memajukan wajah untuk mengambil ciuman. Awalnya Chiara menolak, tapi karena Lucan terus memaksa, akhirnya tetap kalah juga. "Lucan!" Napas Chiara tersengal, beberapa kali dia kelepasan mendesah. Jujur saja, sentuhan itu sangat memanjakan. Chiara tidak bohong, sejak dulu pun dia selalu menikmati permainan Lucan. "Apa enak?" "I—iya. Jangan usil, aku bakal marah." Lucan tersenyum melihat pesona Chiara bertambah saat berhasil ditaklukkan. "Mau sambil ciuman?" Chiara mengangguk, melingkarkan lengan pada leher Lucan untuk memperdalam cumbuan mereka. Saat meraih pelepasannya, Chiara terkulai lemas dengan napas terputus-putus. Lucan menahan tubuhnya yang bergetar pelan, sesekali menaburkan ciuman di sekitar bahu dan leher Chiara. Cuaca sedang dingin, tapi Chiara berhasil dibuat berkeringat. Pipinya sampai memerah padam, malu sekaligus terpuaskan. "Jangan bikin tanda, Lucan. Aku besok ada kegiatan luar." Lucan beralih dari leher Chiara, menurunkan sedikit gaun tidur wanita itu. Di dadanya, Lucan memberi beberapa tanda kepemilikan. Chiara kewalahan menegur, tapi Lucan tidak mau mendengar. "Nggak. Aku nggak mau pakai cara itu!" Chiara memundurkan pinggulnya, menolak secara terang-terangan saat Lucan akan melanjutkan permainan mereka dengan penyatuan. "Harus adil. Saya juga ingin dipuaskan." "Nggak!" Chiara menendang Lucan, segera turun dari kitchen set itu dan memperbaiki gaun tidurnya. "Salah kamu, siapa suruh aneh-aneh. Aku udah peringatin di awal." "Pakai cara lain saja kalau begitu. Sudah kepalang tanggung." Lucan menatap ke bibirnya, Chiara langsung paham dan menggeleng tegas. "Nggak akan pernah. Minggir, kita sudahi kegilaan ini. Kamu bener-bener nggak ada malunya. Kamu penyusup—" "Tapi berhasil bikin kamu meraih pelepasan. Kamu menikmatinya." "Malu, ih, Lucan. Udah tua, ingat umurr—" "Saya masih muda, belum kepala tiga." Chiara menyuapi Lucan potongan apel agar pria itu diam, kemudian berlalu begitu saja membawa air minum dan sebagian apel yang sudah terpotong. "Chiara. Pikirkan sekali lagi. Setidaknya kali ini saja, kasihani saya." Tidak ada sahutan, langkah Chiara makin lebar karena Lucan mengejar. "Ikan tongkol, ikan peda. Ayo, bercintaa." "Najisss banget!" Chiara menoleh pada Lucan, mengentakkan kaki. "Belajar pantun mesumm dari siapa kamu?" Lucan terdiam sebentar, lantas menjawab asal, "Taylor yang mengajarkan." "Kalian berdua sama aja. Nggak ada yang warasnya." "Mau pantun lagi?" Chiara menutup telinga, segera naik ke lantai dua. Lucan masih berusaha mengejar, tidak putus asa. "Jalan-jalan ke Jakarta." "Berisik!" "Bilang cakep, begitu." Lucan menarik lengan Chiara, menatap wanita itu agar tidak masuk kamar duluan. Dia takut dikunciin. "Lelucon kamu kayak bapak-bapak. Nggak banget." "Ini seni baru yang harus saya coba selama meluluhkan kamu." Lucan memasukkan tangan Chiara ke saku celananya. "Jalan-jalan ke Jakarta. Cakep. Tidak lupa naik jet pribadi—" "Pamer!" celetuk Chiara geregetan, menggertakkan giginya. Lucan terkekeh. "Ya sudah, ganti. Jalan-jalan ke Jakarta, tidak lupa membeli apel. Malam ini, saya minta peluk dong." "Nggak nyambung sumpah. Geli!" Chiara menarik tangannya paksa hingga terlepas dari genggaman Lucan. "Orang tua sok-sokan main pantun, maksa banget lagi." "Jalan-jalan ke Jakarta ... jangan disela dulu, Chiara. Saya belum selesai bicara. Hargai dong, saya sambil berpikir keras biar kamu simpati." "Aku Axis." Lucan terdiam, wajahnya seketika datar. "Jangan bercanda kamu. Saya lagi serius. Kamu ngeledek saya." "Lagian kok tiba-tiba ngepantun subuh-subuh." "Kalau tidak mau bercintaa, setidaknya saya minta peluk. Perjalanan saya ke sini sangat jauh, Chiara. Saya lelah, kurang tidur, kurang kasih sayang. Kasih saya pelukan." Chiara menatap Lucan sebentar, lalu menghela jengah. "Aku nggak suruh kamu ke sini," sahutnya singkat, tapi sambil memeluk Lucan agar pria itu puas dan bisa pulang. "Pelukan apa ini? Terlalu singkat, tidak ada rasanya. Pak Selamat jualan sayur. Ayo, pelukan di kasur." Lucan menarik Chiara, membawanya masuk kamar. Saat pintu tertutup, terdengar teriakan Chiara yang meminta Lucan keluar. Hanya saja, mustahil jika pria itu menurut. Memaksa adalah kebiasaan Lucan. *** "Jam berapa sekarang?" Chiara meraih ponselnya di nakas, dan hampir melompat dari kasur. "Astaga, jam sepuluh lewattt!" Chiara syok sekaligus panik, segera beranjak dari kasur sambil menjambak rambutnya. Dia buru-buru mengecek pesan yang masuk. Ada lima pesan untuk mengingatkan jadwalnya hari ini dan tiga panggilan tak terjawab dari asisten pribadi Chiara. "Tidur lagi saja, Chiara. Saya masih mengantuk." "Aku harus ke studio, Lucan. Kamu yang benar aja! Kok bisa alarm dan telepon masuk nggak bunyi?" omel Chiara di kamar mandi, dia langsung membasuh wajah. "Alarm kamu dua kali bunyi, tapi kamunya tidak bagun. Berisik, jadi saya matikan." Chiara menoleh pada Lucan, mendesah frustasi. Dia ada janji untuk menyambut anak didik baru hari ini, tapi malah kesiangan. "Pelukan saya nyaman, ya?" Lucan duduk di pinggiran kasur, menatap Chiara yang sedang gosok gigi. Wanita itu tidak menyahut, masih mengomel dalam hati kenapa dirinya bisa tidur senyenyak itu sampai tidak mendengar bunyi alarm sama sekali. "Saya tidak pernah tidur selama dan seaman ini, Chiara. Untuk pertama kalinya selama setahun belakangan. Saya rasa, ini tidur ternyenyak saya juga." Lucan tersenyum kecil, menyadari fakta baru yang menyenangkan selain menghabisi nyawa seseorang. "Saya bisa tidur tanpa merasa was-was diburu musuh." Chiara tak mendengarkan dengan seksama, sibuk bebersih tanpa mandi—sudah tak sempat. "Kamu benar-benar obat tenang terbaik, Chiara, bahkan dokter Elara pun tidak akan mampu menciptakan ramuan seperti ini."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN