MBH 03

1175 Kata
Azka tersenyum miring menatap putri semata wayangnya yang kembali menampakan diri di rumah besar itu. Berbeda dengan Azka, sang istri justru senang menyambut kedatangan Salwa. "Jangan pergi lagi ya, Sayang. Mama tidak bisa jauh dari kamu." Gina mengusap-usap bahu Salwa. Salwa mengangguk sambil tersenyum. "Iya, Ma. Salwa tidak akan pergi lagi. Salwa janji." Kedua perempuan itu kembali berpelukan dengan isak tangis bahagia yang mengiringi. "Ekhm...." Azka berdehem, membuat pelukan itu sontak terlepas. "Kembali lagi ke rumah ini, berarti kamu siap dengan apa yang Papa katakan kemarin bukan?" Salwa mengangguk. "Iya. Salwa akan menuruti apa yang Papa perintahkan." "Kenapa mudah sekali kamu berubah pikiran? Kemarin saja menolak mentah-mentah," tanya Azka. "Salwa sadar, kalau Papa sama Mama tidak akan mungkin menjerumuskan anaknya sendiri. Dan apa yang Papa sama Mama lakukan pasti itu yang terbaik untuk Salwa," jawabnya dengan mantap. Kedua sudut bibir Azka terangkat. Melangkah mendekati Salwa, mengusap bahu gadis itu. "Ini baru putri Papa yang penurut." Salwa ikut tersenyum. Sedangkan Gina sudah memeluknya dari samping. "Maafkan Salwa ya, Pa, Ma. Karena Salwa sering mengecewakan kalian," ucapnya menatap satu persatu Azka dan Gina. "Iya, Sayang. Tidak apa, asal kamu menyesali perbuatan kamu dan tidak akan mengulanginya lagi." Gina tersenyum hangat. "Kalau begitu, Papa akan atur pertemuan kita dan keluarga dari calon suamimu." Azka berucap. Salwa sudah mantap akan menjalankan apa yang Nando perintahkan. Lagipula, kalau dipikir-pikir Salwa tidak mungkin bisa bertahan tanpa fasilitas yang selama ini ia miliki, apalagi jika kehilangan harta warisan yang akan jatuh semua ke tangan Dion. Terlebih lagi dengan Nando yang masih belum bekerja, mau makan apa dirinya nanti. Dan mengambil keputusan ini tentu sudah Salwa pikirkan matang-matang. Ia akan tetap mendapatkan fasilitasnya dan juga masih bisa menjalin asmara dengan Nando. Toh, pernikahan itu pun hanya akan berjalan selama satu tahun. ♡♡♡ Salwa menatap dirinya dari bayangan cermin datar di kamar. Ia mengenakan dress sederhana berwarna biru dongker yang telah Gina siapkan. Dress yang panjangnya diatas lutut itu membuatnya terlihat sangat cantik. Di tambah dengan rambut panjangnya yang dibuat ikal terurai. "Wow, putri Mama terlihat sangat cantik malam ini." Salwa menoleh ke sumber suara. Gina tersenyum sembari melangkah menghampiri Salwa yang masih duduk di depan meja rias. "Pasti calon suamimu akan terpesona begitu melihat purti cantik Mama ini," puji Gina sekali lagi. "Mama bisa saja." Salwa tersipu malu. Gina menatap Salwa pada pantulan cermin. Tangannya mengusap pelan pundak gadis itu. "Ya sudah, kalau begitu sekarang kita berangkat takutnya terlambat nanti." Kedua perempuan itupun keluar dari dalam kamar, melangkah anggun menuruni anak tangga. Terlihat Azka dan Dion yang tengah berbincang di ruang keluarga. "Ayo, Pa, Bang. Kita berangkat sekarang," ucap Gina membuat kedua laki-laki itu sontak menoleh. "Ayo." Azka dan Dion bangun dari posisi duduknya. Melangkah bersama keluar dari dalam rumah. Jarak usia Salwa dan Dion terpaut empat tahun. Dion sendiri bekerja sebagai direktur utama di perusahaan besar yang bergerak di bidang permodelan dan periklanan. Sudah mempunyai tunangan bernama Clara yang berprofesi sebagai model. Usianya sama dengan Salwa dan kini dia sedang berada di luar negeri. Selama perjalanan menuju restoran, tempat dimana kedua keluarga itu akan bertemu Salwa terdiam menatap pemandangan malam di luar jendela. Pikirannya melayang pada Nando, ia merasa tak enak hati harus melakukan ini meski memang Nando sendiri yang memintanya. Beberapa bulan yang lalu, saat Nando datang ke rumah Salwa dengan maksud meminta restu pada Azka dan Gina untuk meminang Salwa, ternyata ditolak mentah-mentah begitu Azka tahu kalau Nando seorang pengangguran. Meski Nando berjanji ini itu berusaha meyakinkan, tetap saja Azka tidak rela melepas putrinya pada seorang seperti Nando. Azka mendidik Salwa bukan untuk diajak susah oleh laki-laki lain. Walau cinta mereka tak mendapat restu dari orangtua Salwa, tapi bukan berarti hubungan mereka harus berakhir. Salwa meringis saat mobil yang di tumpanginya sudah terparkir di sebuah restoran yang cukup terkenal di Jakarta Pusat. Ia terdiam sejenak dalam mobil, helaan napas lelah keluar dari Salwa. "Ayo turun." Gina berucap. Dengan penuh percaya diri, Salwa keluar dari dalam mobil sambil menggengam tas tangannya dan melangkah masuk bersama ke dalam restoran. Sepatu heels berwana gold yang ia kenakan berdetak anggun di lantai marmer. "Meja atas nama Arya Mahesa." Azka berucap pada seorang pelayan yang berdiri di pintu depan. "Mari ikut saya." Sepanjang perjalanan, Salwa mulai merasakan debaran kencang di d**a. Berulang kali ia meremas jari-jarinya untuk menghilangkan rasa kegugupannya. Bukan karena apa, tapi yang Salwa takutkan kalau laki-laki yang akan dijodohkan dengannya itu adalah seorang om-om tua dengan perut buncit serta kepala botak, apalagi kalau dia itu ternyata m***m. Salwa bergidik ngeri membayangkannya. "Selamat malam, Pak Arya dan Ibu Delia." Azka menyapa begitu sampai di meja yang dipesan. "Selamat malam, Pak Azka dan keluarga." Arya membalas sapaan tersebut. Mereka saling bersalaman, kemudian diikuti oleh Gina, Salwa, dan juga Dion. "Silahkan duduk," ucap Arya dengan sumbringah. "Ini anak-anak kami, yang pertama ada Dion. Dia belum menikah, tapi dia sudah bertunangan," ucap Azka. Dion tersenyum ramah saat Azka memperkenalkannya pada Arya dan Delia. Kemudian Azka beralih untuk memperkenalkan Salwa. "Dan ini Salwa, putri kami yang insyaallah akan menjadi menantu dari Pak Arya dan Ibu Delia." Delia tersenyum kagum. "Dion sangat tampan dan berwibawa, begitupun dengan Salwa yang cantik jelita." "Terima kasih, Tante." Dion menjawab, sedangkan Salwa hanya tersenyum menangnggapi. "Lihat, Bun. Salwa sangat cocok bukan dengan putra kita?" Arya bertanya. Delia mengangguk antusias. "Sangat cocok sekali. Mereka harus segera menikah dan menjadi pasangan yang serasi," ujarnya lalu terkekeh pelan. Salwa tersenyum kecut. Belum apa-apa sudah main ingin langsung di nikahkan. Bahkan Salwa belum mengetahui rupa dari laki-laki yang akan dinikahkan dengannya. "Om, Tante, memang calon suami Salwa dimana?" tanya Salwa, begitu menyadari tak ada orang lain di sana. "Wow, sepertinya Salwa sudah tidak sabar untuk bertemu dengan calon suaminya," goda Gina membuat Salwa melotot tajam. "Ma..." Delia tersenyum tipis, lalu mengehela napas panjang. "Ekhmm... sebelumnya kami minta maaf ya, Salwa. Karena kalian hanya bisa bertemu setelah sudah menjadi suami istri," ujarnya yang agak bingung menjelaskan. "Kenapa begitu?" celetuk Salwa dengan tampang terkejutnya. "Ini permintaan dari putra kami. Dan kami pun tidak bisa menolak permintaannya," sahut Arya. Salwa menggeleng tak percaya. Punggungnya bersandar pada penyangga kursi. Bagaimana bisa ia menikah tanpa tahu rupa dari calon suaminya sendiri? Gila. Ini benar-benar gila. Gina mengusap bahu Salwa. "Sudahlah. Itu bukan masalah yang besar. Tidak usah dipikirkan." "Tapi, Ma. Gimana kalau orang itu jelek, botak, gendut, gigi tengahnya ompong, terus m***m lagi? Salwa jadi takut membayangkannya," cicit Salwa membuat Gina sontak melotot memberi peringatan agar Salwa diam. "Diam dan terima atau semua fasilitas kamu Papa ambil?" ancam Azka, berbisik pada Salwa. Salwa hanya mampu mengangguk lemah dan menampilkan senyum palsunya kembali. "Sabar, Salwa. Hanya setahun dan semua akan usai," batinnya menguatkan. Arya dan Delia tersenyum lega mendengarnya. "Ya sudah, bagaimana kalau kita membicarakan rencana pernikahan mereka sekaligus menentukan tanggal dan bulannya?" Delia bertanya. "Setuju," jawab Gina. Setelah yang lainpun setuju termasuk dengan Salwa, pertemuan dimalam pertama langsung membicarakan pernikahan Bara dan Salwa. Bagi Salwa sendiri tidak ada masalah mau cepat atau lama pernikahan itu terjadi, ia tidak peduli. Yang jelas rencananya dan Nando harus berjalan mulus sesuai apa yang mereka harapkan. Salwa sudah tidak memikirkan bagaimana rupa calon suaminya itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN