memang berbagi keringat akan menjadi solusi paling ampun untuk meluapkan segala beban yang menyesakkan d**a. pergumulan panas ku dengan bella dua hari lalu membuat hubungan kami kembali seperti biasa walau kami tak lagi bisa secara intens bertemu karena aku harus sering berada dirumah mengingat nenek terus saja mengamuk dan membuat ulah. aku melihat mama begitu tertekan semenjak kedatangan nenek dan maya dirumah. nenek memang tak menyukai mama sejak dulu karena papa memilih menikah dengan mama dan menolak wanita yang nenek pilihkan.
"kak" mama duduk disebelah ku saat ini kami sedang dihalaman belakang yang penuh dengan pohon buah-buahan dan beraneka ragam jenis bunga kesukaan mama.
"iya ma, mau ngajak aku makan?" jawab ku sambil terkekeh.
"mama sudah telpon ibunya bella dan dia minta kakak nikahin bella secepatnya untuk wali pakai wali yang diwakilkan saja karena ibunya bella sudah berusaha minta cuti untuk pulang tapi ga bisa"
"mama yakin? aku kemarin telpon ibu katanya masih tunggu kabar dari majikannya"
"barusan ibunya bella telpon mama, lebih baik kamu nikah sama bella dua minggu lagi sesuai tanggal yang ibunya bella pilih. papa juga sudah suruh niko urus surat suratnya, kamu dirumah aja biar nenek ga curiga dan ngamuk lagi. mama pusing lihat ulah nenek mu kak"
"ma"
"mama mau bilang ga suka tapi dia ibu papa mu, tapi kalau mama diam dia bikin hancur masa depan mu. angga yang harusnya nikah sama maya malah kabur sama pacarnya ke luar negeri"
memang benar nenek ku ini tak punya hati sepertinya. semua kehidupan anak dan cucunya mau dia atur sesuai keinginannya sendiri, di jaman modern begini masih saja sibuk menjodohkan orang.
.
.
huuueeeekkk huuueeeeeekkk
sejak pagi maya terus berjongkok didepan kamar mandi, sudah tak ada yang bisa dikeluarkan lagi dari dalam perutnya tapi tetap saja ia merasa mual dan ingin muntah. keringat dingin sudah membasahi seluruh tubuh maya bahkan kini untuk bangkit dan menuju ranjang saja ia tak sanggup. ingin meminta bantuan tapi suaranya sudah tak mau lagi keluar karena saking lemasnya.
"apa aku masuk angin ya? tapi kok tumben sampai begini banget, biasanya juga ga parah" gumam maya sambil menyeka keringat di dahi.
sementara dimeja makan semua orang sudah berkumpul untuk makan malam tapi maya tak kunjung turun untuk ikut bergabung. sejak tadi nenek sudah ribut meminta marini dan riko untuk naik kelantai dua memanggil maya tapi keduanya diam tak bergeming.
"mba maya ga ikut makan malam, lemas ga enak badan" ucap sofie saat mendudukkan pantatnya disebelah riko.
"riko, kamu antar makan malam dan teh hangat untuk maya" perintah nenek seperti biasa.
"biar bi asih yang antar makan untuk maya, riko lanjutkan makan mu nak" cela marini, ia tak suka saat makan anaknya disuruh suruh seperti itu.
"apa salahnya riko yang antar, dia calon suaminya"
marini tak kembali menjawab ia sudah lelah berdebat dengan mertua otoriter dan tak pernah menganggap dirinya. semenjak kedatangan nenek meja makan yang biasanya hangat seketika menjadi suram. hanya ada dentingan sendok dan suara denting jam didinding yang mengiringi makan malam keluarga ini.
riko dan sofie sudah kembali kedalam kamar setelah menyelesaikan makan malam.
"kakak ga telpon mba bella?" tanya sofie saat ia mulai membuka buku pelajarannya.
"ini lagi chat, kenapa?"
"aku kangen mba bell, besok pulang aku sekolah jemput ya kak kita meli gelato kayak biasanya" pinta sofie dengan wajah memohon.
"iya, kamu hafal banget hari apa kakak sama bella kosong"
"hehe"
didalam kamar sebelah maya hanya bisa berbaring lemas, setelah memaksakan makan sarapan tadi pagi maya membeli beberapa obat maag dan alat tes kehamilan pasalnya sebelum pergi ke jakarta maya menghabiskan waktu dengan pacarnya. ada ketakutan dalam hati maya bila ia saat ini sedang hamil, pasalnya pria yang menjadi kekasihnya adalah kakak iparnya sendiri suami dari kakak sepupu maya. akan tidak mungkin bila ia meminta pria itu untuk bertanggung jawab karena sudah dipastikan ia akan dibunuh oleh ayahnya.
"aku harus minta agar nenek memaksa mas riko untuk cepat menikahi ku, dan aku harus mencari cara agar mas riko mau meniduri ku. tapi bagaimana caranya" maya meremas kedua tangannya dengan gelisah, walau belum melakukan tes namun hatinya mengatakan jia ia saat ini sedang hamil muda karena sudah hampir 1bulan ia belum datang bulan.