“Umi,” rengek Aletta manja.
“Ada apa, Sayang?” tanya Umi Salamah dengan lemah lembut sambil menatap menantunya seperti putrinya sendiri.
Aletta menarik napas panjang, matanya mulai berkaca-kaca seolah dia baru saja diperlakukan seperti tawanan perang di rumah ini.
“Umi ... Mas Hamzah itu pelit banget. Letta minta roti aja gak dikasih, malah dikasih singkong keras begini. Terus dari kemarin Mas Hamzah marahin Letta terus, Umi. Letta kan jadi kesel ama dia. Letta belum biasa sama kehidupan di sini, tapi Mas Hamzah terus maksain Letta,” adu Aletta dengan suara parau yang dibuat-buat, sambil menunduk sedih.
Umi Salamah terkejut, dadanya langsung naik turun menahan kecewa pada putranya. Dia tidak menyangka putranya yang selama ini dia didik dengan baik, bisa berbuat kasar pada istrinya sendiri.
“Astagfirullah, Hamzah bener-bener ya!” Umi Salamah tampak semakin geram.
Aletta menatap mertuanya sambil cemberut manja. “Padahal kan Letta cuma minta roti ya dan itu gak mahal. Kalo dia gak punya uang, Letta bisa kok beli sendiri. Tapi anterin.”
Umi Salamah meraih tangan memantunya lalu dia usap lembut. “Kamu yang sabar ya, Sayang. Ntar biar Umi tegur dia. Ya Alloh Hamzah, bikin malu aja loh anak ini.”
“Bentar ya, kamu habiskan dulu singkongnya, biar Umi ngomong sama Hamzah.”
Aletta yang masih memasang wajah cemberut, hanya mengangguk pelan. Di dalam hati, dia sangat senang akhirnya dia bisa mempengaruhi mertuanya agar keinginannya bisa terpenuhi.
Aletta tersenyum di balik punggung Umi Salamah yang sudah berjalan ke arah pintu belakang.
Seringai licik keluar di bibir Aletta. “Mampus lu ya! Rasain. Makanya jadi suami jangan pelit. Mana ada gizinya makan kayak begini!” geram Aletta sambil menatap geram ke singkong yang hanya tinggal satu potong di atas piring.
Penasaran dengan ekspresi suaminya yang akan dimarahi, Aletta segera melangkah cepat ke arah pintu belakang. Dia bersandar di pintu kayu, sedang di depannya ada sang mertua yang berdiri di teras belakang.
Hamzah masih sibuk dengan gabahnya. Badannya semakin berkeringat, terlalu lama menyebarkan gabah di bawah terik matahari.
“Hamzah! Sini kamu!” panggil Umi Salamah tegas.
Hamzah menghentikan garunya. Dia mengusap keringat di dahi dengan punggung tangan, lalu melihat ke arah uminya.
“Iya, Mi,” jawab Hamzah yang kemudian melangkah pelan menuju teras belakang.
Hamzah melepas topinya lalu duduk di atas bale-bale. Tangannya meraih botol air minum yang sudah dia siapkan dan meneguknya.
Hamzah mengusap bibirnya dengan punggung tangannya dan matanya melihat Aletta berdiri di pintu sedang menatapnya dengan senyum tipis mengembang.
Suatu ekspresi yang belum pernah dia lihat sejak dia berstatus menjadi suami wanita kota itu.
Hamzah melihat uminya. “Iya, Umi? Ada apa?”
“Hamzah, kamu ini gimana jadi suami? Istrimu itu baru pindah, kenapa kamu gak bisa sabar sih sama dia?” tanya Umi Salamah yang termakan hasutan istrinya.
“Hah, maksudnya gimana, Mi? Emang Hamzah kenapa?” Hamzah bertanya sampai mengerutkan keningnya.
“Ham, istri kamu itu bukan wanita yang sering kamu lihat di sini. Dia orang kota yang hatinya itu masih keras, masih kaku karena keadaan. Harusnya kamu belai dengan kelembutan, Ham.” Umi Salamah menasihati dengan suara lembut.
Mendengar ucapan uminya, Hamzah langsung kembali menatap istrinya. Dia curiga istrinya telah mengadu sesuatu pada uminya.
Dia sangat yakin, kalau Aletta sedang main drama lagi dan kali ini sasarannya ke uminya.
“Kamu harus lebih sabar, Ham. Jangan kamu balas dengan keras juga! Kalau cara kamu begini, istrimu bukan melunak, tapi malah patah!” omel Umi Salamah telak.
Hamzah melongo melihat uminya. Dia kembali melirik Aletta yang berdiri santai dengan senyum makin lebar di belakang Uminya.
Wanita itu sedang asyik menikmati kemenangannya, melihat suaminya dimarahi. Bahkan Aletta sampai menjulurkan lidah ke arah Hamzah dengan wajah mengejek ke suaminya.
Aletta tersenyum pada suaminya, seolah ingin mengatakan kalau dia tetap akan menjadi pemenangnya.
Hamzah mengembuskan napas berat melihat tingkah istrinya.
“Ngapaian lagi dia. Ngomong apa lagi dia ke Umi,” gumam Hamzah dalam hati.
Hamzah melihat ke uminya. “Tapi Umi, Hamzah gak—”
“Gak ada tapi-tapi! Sekarang kamu antar Letta ke toko depan atau minimarket di desa sebelah. Belikan apa yang dia mau. Jangan pelit jadi laki-laki!” potong Umi Salamah tak terbantahkan.
“Dia belum terbiasa dengan kehidupan di sini, Ham. Jangan terlalu keras lah. Kalo kamu gak punya uang, pake uang Umi dulu,” lanjut Umi Salamah.
“Umi, ini bukan soal uang. Tapi emang belum ada waktu aja. Kemaren Hamzah mau ajak Letta keluar, tapi malah ujan deres. Hamzah baru bisa ajak dia pergi nanti sore, Mi. Abis ini Hamzah ada jadwal di pondok.” Hamzah mencoba menjelaskan agar tidak terjadi kesalahpahaman.
Umi Salamah mengangguk mengerti. Dia yakin putranya tidak setega itu pada istrinya.
“Ya udah, pokoknya kamu jangan terlalu keras sama dia ya. Kasian Letta. Kamu ngerti maksud Umi kan, Ham?” tanya Umi Salamah yang menaruh kepercayaan pada putra tunggalnya.
Hamzah mengangguk. “In syaa Alloh, Umi.”
“Ya udah, kamu ngajar jam berapa?”
“Abis ini, Mi.”
“Pamit yang bener sama istrimu ya. Jangan sampe dia ngira kamu abaikan.”
“Iya, Mi.”
Umi Salamah menoleh ke belakang. Tentu saja Aletta langsung memasang wajah sedih lagi di depan mertuanya.
Umi Salamah berjalan ke arah menantunya. “Letta, Hamzah abis ini mau ngajar dulu. Kamu mau ikut Umi ke pasar gak? Siapa tau ada yang kamu perlukan di sana,” ajak Umi Salamah.
“Pasar?”
Otak Aletta langsung dipenuhi dengan pemandangan jelek tentang pasar. Tanah yang becek sisa hujan semalam, bau yang tidak sedap. Belum lagi harus berhimpitan dengan bau keringat orang di pasar yang bisa membuatnya pingsan.
Aletta segera menggelengkan kepalanya. “Gak, Umi. Letta belanja di minimarket aja ntar sama Mas Hamzah,” tolak Aletta.
Umi Salamah tersenyum, memahami menantunya. “Ya udah gak papa. Kalo kamu bosen, main aja ke rumah Umi ato ke pondok. Hamzah di sana sampe siang.”
Aletta hanya mengangguk. Bayangan dia akan kembali berperan sebagai cucian kering di keranjang, karena tidak ada aktivitas langsung terlintas di pikirannya.
Umi Salamah pun berpamitan. Dia harus segera ke pasar, agar tidak kehabisan bahan makanan.
Setelah mertuanya pergi, Aletta keluar dari rumah dan menghampiri suaminya.
Dia berdiri di samping bale-bale dan mengikat kedua tangannya di belakang tubuhnya. Pandangannya lurus ke depan dengan senyum tipis menghiasi bibirnya.
Hamzah menoleh ke istrinya. Wanita cantik itu menggoyang-goyangkan badannya, menikmati kemenangannya.
Hamzah ikut tersenyum, lalu kembali melihat hamparan gabah di depannya.
“Jadi selain teriak-teriak, kamu juga pinter menghasut orang ya,” ucap Hamzah.
Aletta menoleh ke suaminya. “Aku gak hasut kok. Aku cuma cerita apa yang ditanyain sama Umi.” Aletta tidak terima di salahkan.
“Lagian aku bener kan? Kamu gak mau ajak aku ke minimarket kan?” Aletta malah menuduh Hamzah.
Hamzah menoleh ke istrinya. “Bukan gak mau. Tapi belum sempet. Semalam kan ujan deres.” Hamzah tetap menanggapi dengan suara lembut.
Aletta duduk di pinggir bale-bale. “Sama aja itu.” Aletta menoleh ke suaminya. “Kalo gitu sekarang aja.”
Hamzah menoleh ke istrinya. “Nanti siang ayo sore aja. Semoga gak ujan lagi.”
“Sekarang aja! Katanya kamu abis ini mau ke pondok. Aku gak ada makanan di rumah.”
Hamzah kembali menoleh ke istrinya. “Sementara jajan di kantin pondok aja ya. Kalo sekedar camilan dan kue, di sana juga ada. Sekadar pengganjal perut. Nanti kita beli sayur di luar sekalian beli kebutuhan kamu,” pinta Hamzah dengan suara rendah, meminta pengertian istrinya.
Aletta memiringkan bibirnya ke kanan dan ke kiri. “Ya udah. Tapi beneran ya, ntar ajak aku belanja?”
Hamzah mengangguk, “In syaa Alloh.”
Pasangan itu pun masuk ke dalam rumah bersama. Hamzah segera mandi, karena dia harus segera ke pondok untuk mengajar.
Setelah Hamzah pergi, Aletta mencoba menyibukkan diri. Tapi sayangnya kebosanan datang menyergapnya lebih cepat.
Setelah bosan main HP dan menonton televisi, rasa lapar mulai menggodanya. Aletta mencari makanan di dapur, siapa tahu masih ada sisa singkong di sana.
Tapi ternyata tidak ada. Dandang kukusan pun sudah dicuci oleh Hamzah.
“Duh, laper banget. Umi ke pasar apa gak ada niat buat beliin aku makanan apa ya,” gerutu Aletta sambil menjatuhkan dirinya lagi ke atas kasur.
“Apa aku ke pondok aja ya. Tadi katanya di sana ada kantinnya. Aku coba jajan di sana aja lah.”
Aletta segera membuka lemari baju Hamzah yang sudah dia gunakan. Dia memilih gaun sutra panjang tanpa lengan miliknya yang akan dia tutup dengan kardigan.
Aletta mulai sibuk dengan peralatan tempur untuk memoles wajahnya dan menyemprotkan parfum mahal yang aromanya tercium dari jarak satu kilometer di tubuhnya.
Tak lupa kaca mata hitam dan juga topi, yang dia gunakan untuk menyamarkan wajahnya.
Aletta keluar dari rumah. Panas terik matahari sempat membuat nyalinya keluar rumah mundur. Tapi teriakan di perutnya, membuatnya nekat melangkahkan kakinya yang telah dibalut dengan sandal mahal.
Gaun sutra Aletta yang berkibar terkena angin, membuat perhatian penduduk pondok teralihkan padanya. Langkah Aletta sudah seperti seorang artis yang sedang syuting di lapangan rumput yang luas.
Para santri putra yang memadati salah satu gedung, langsung membentuk pagar di depan ruang kelas mereka. Tentu saja mereka ingin melihat Aletta yang berjalan melewati gedung mereka untuk datang ke gedung santri putri. Tapi ternyata keadaan di sana juga tidak jauh berbeda. Aletta menjadi pusat perhatian banyak santri putri.
“Tuh kan, banyak yang liatin aku. Pasti mereka ngenalin aku. Duh, kenapa tadi lupa bawa masker sih,” gerundel Aletta sambil menurunkan topinya, agar lebih menyamarkan wajahnya.
“Eh, itu siapa ya? Kok gak pernah liat.”
“Iya, kayaknya bukan orang sini deh. Bajunya keliatan mahal.”
“Eh, apa ini calonnya Ustad Hamzah ya?”
“Ih, mana mungkin. Ustad Hamzah seleranya tuh kayak Ustadzah Sarah tau!”
Berbagai selentingan mulai memenuhi pondok putri. Mereka sibuk menebak-nebak siapa sosok wanita misterius di depan mereka saat ini.
Aletta berhasil masuk ke pondok. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri, berharap akan melihat suaminya.
Aletta kembali berjalan perlahan, menyusuri koridor kelas sambil mencoba mengabaikan tatapan para dan santri yang ada di sana. Suara denting heels runcingnya juga terdengar, saat beradu dengan lantai keramik pondok.
“Cantiknya. Siapa ya dia?”
“Iya, mana wangi lagi.”
Bisik-bisik para santri terdengar samar, membuat Aletta tersenyum tipis, puas karena masih banyak yang memverifikasi kecantikkannya.
“Assalamu’alaikum. Ada yang bisa dibantu, Bu?” sapa salah seorang wanita muda yang mendekati Aletta.
Aletta menghentikan langkahnya lalu menatap wanita itu sejenak. Aletta memilih menatap ke arah lain, menghindari seseorang mengenalinya
“Anu saya mau cari kan—“
Ucapan Aletta terhenti saat dia melihat suaminya sedang berbincang dengan seorang wanita berkerudung. Rasa kesal langsung memenuhi dadanya.
“Oh, jadi gini kelakuan dia di pondok? Dasar buaya! Laki-laki emang gak bisa dipercaya!” geram Aletta di dalam hati.