4. Sabotase

1487 Kata
“Kamu serius kita bakalan tinggal di sini?” tanya Aletta sambil memicingkan matanya. Aletta masih berdiri di depan rumah sederhana milik Hamzah. Rumah yang berbeda dengan tempat akad nikah tadi, yang ada di samping rumah ini. Pintu kayu jati dan juga ukuran rumahnya yang kecil, sepertinya menunjukkan kalau penderitaannya akan benar-benar di mulai. Gerbang neraka sudah terbuka untuk Aletta. “Silakan masuk. Maaf, rumahnya sederhana,” ucap Hamzah mempersilakan penghuni baru rumah itu masuk. Aletta melirik sinis ke arah Hamzah. “Mungil! Ini bukan cuma sederhana, tampi sempit!” tegas Aletta sambil mendengus kesal. Aletta pun akhirnya masuk. Dia melangkah dengan hati-hati, seolah lantai yang dia pijak bisa amblas kapan saja. Mata Aletta langsung menyisir semua surut rumah ini. Ruang tamunya tidak luas. Tapi karena minim perabotan, maka tampak lebih luas. Seperangkat kursi jati yang masih mengkilap menghiasi ruang tamu sederhana itu. Lantainya hanya beralaskan keramik murah, jika dibandingkan marmer di rumah Aletta. Ada satu lemari buku di sudut ruangan, yang isinya penuh sesak dengan kitab-kitab tebal milik Hamzah. Aletta melihat ada dua pintu, yang diyakininya sebagai kamar. Sedikit lega rasanya karena dia benar-benar bisa punya kamar sendiri. “Kamarku yang mana?” tanya Aletta sambil mengangkat dagunya. “Kamarmu? Kita kan su—“ Aletta melotot ke Hamzah. “Jangan berpikir kalo kita bakalan sekamar ya? Gak akan mungkin!” tegas Aletta mengingatkan perjanjian mereka. Hamzah melepas napasnya perlahan, berusaha tetap sabar atas pilihannya. “Ya itu kamarku. Dan kam—“ “Aku pake kamar itu!” potong Aletta yang kemudian segera melangkah ke arah kamar Hamzah. Hamzah terdiam saat dia melihat Aletta melintas begitu saja di depannya. Dia tergelak ringan melihat tingkah manja istrinya yang sangat total sekali. “Tadi minta kamar sendiri, tapi malah milih kamarku juga,” gumam Hamzah pelan. “Hamzah,” panggil Aletta sambil melihat ke Hamzah yang masih berdiri di ruang tamu. “Tolong bawa koperku ke sini ya. Aku mau mandi,” lanjut Aletta. Hamzah hanya menjawab lewat anggukan kepala saja. Dia kemudian membawa koper besar dan juga tas koper metalik kecil milik istrinya ke kamar. Hamzah masuk ke dalam kamarnya sambil meletakkan koper itu di dekat tempat tidur. Dia melihat Aletta berdiri di pinggir kamar sambil melihatnya. “Ada apa lagi?” tanya Hamzah. “Ada kasur lain gak? Yang bagus, latek, king coil.” Aletta meminta tempat tidur seperti di kamarnya. “Gak ada,” jawab Hamzah singkat. Dua alis Aletta mengerut. “Gak ada?! Trus kamu suruh aku tidur di kasur keras begitu?! Bisa sakit semua punggungku nanti!” “Selama ini punggungku gak sakit kok. Kalo kamu gak mau tidur di sini, kamu bisa tidur di depan ato di rumah Umi. Ato mau nyoba tidur di pesantren?” jawab Hamzah tak mau mengalah. “Hamzah!” bentak Aletta kesal. “Letta! Jangan biasa membentak orang. Apa lagi orang tua dan suamimu. Dosa! Kalo marah gak perlu pake bentak orang!” peringatan keras dari Hamzah keluar untuk Aletta. Aletta kaget sampai badannya membeku kaku. Dia tidak menyangka pria yang sedari tadi selalu datar dan menurutinya, bisa marah juga. Hamzah memejamkan matanya, menyesali kata-katanya yang terlalu keras pada istrinya. Dia menatap Aletta dengan tatapan yang lembut lagi. “Maaf. Aku gak sengaja. Tapi tolong, jangan suka bentak-bentak orang. Itu gak baik,” ujar Hamzah dengan suara lebih lembut. “Aku mandi dulu,” lanjut Hamzah yang kemudian segera mengambil baju ganti di lemari dan keluar dari kamar, meninggalkan Aletta sendirian. Aletta mendengus kesal setelah mendapat semburan maut dari Hamzah. Mulutnya sudah maju satu senti dan bibirnya sibuk komat-kamit sendiri, merutuki Hamzah. “Seenaknya aja main bentak orang. Ck! Emang dia pikir dia siapa bisa bentak aku,” gerutu kesal. Aletta membuka kopernya. Dia mengambil baju ganti dan bersiap tidur. Sambil menunggu Hamzah selesai mandi, Aletta merapikan alat make up-nya yang sangat banyak di atas meja belajar suaminya. Dia bahkan memindahkan semua barang suaminya di meja itu ke kamar lain, karena dia akan menempati kamar itu. “Duh, panas banget sih di sini,” keluh Aletta sambil mendongak ke atas mencari sesuatu. “Letta, buruan mandi. Abis ini kita makan malam di rum—“ “Hamzah, gak ada AC ya di rumah ini?” Aletta memotong ucapan Hamzah sambil mengipasi wajahnya dengan tangan. “Cuma ada kipas angin di sana. Kamu bisa pake kalo kepanasan,” jawab Hamzah sambil mengeringkan rambutnya yang basah. “Kipas angin?! Heh! Kamu mau bikin kulit aku kering apa ya? Aku gak bisa pake kipas angin!” tolak Aletta sambil melengos dan bibir cemberutnya tak lupa dia pamerkan lagi. “Kalo gak mau pake kipas angin, ya pake kipas biasa aja.” Mendengar jawaban tak memuaskan dari Hamzah, Aletta langsung menatap sinis suaminya. “Besok panggil tukang buat pasang AC. Aku gak bisa tinggal di rumah yang panas begini. Dan ini juga, lampunya. Ganti lampunya dengan yang lebih modern. Bikin sakit mata tau!” cerocos Aletta ketus. Hamzah menarik napas dalam. “Bukan masalah uangnya. Tapi tegangannya gak cukup. Lagi pula ngapain kamu susah payah pasang AC di sini. Bukannya kamu gak mau tinggal di sini terlalu lama ya?” Aletta menatap gugup ke suaminya. “Ya iya. Tapi kan aku bak—“ “Ya udah, kalo gitu bertahan aja dengan apa yang ada di sini. Aku gak suka AC.” Ucapan datar Hamzah kembali membungkam mulut Aletta. Tatapan Hamzah tiba-tiba terhenti di atas meja. Dia menemukan penduduk meja itu kini telah berganti. “Apa itu? Bukuku ke mana?” tanya Hamzah yang tak menemukan barang-barangnya. “Udah ku pindahin ke kamar depan. Sekarang kamar ini milikku dan meja itu akan jadi meja riasku,” terang Aletta. “Meski gak layak, tapi gak papa lah,” lanjut Aletta pelan. “Meja rias?” gumam Hamzah pelan sambil menatap deretan alat tempur istrinya yang berbaris rapi di atas meja. Hamzah melihat ke istrinya. “Mau ke mana kamu pake make up sebanyak itu?” tanya Hamzah yang sama sekali tidam mengerti soal make up yang diagungkan istrinya. “Ya di pake di sini lah. Aku harus tetep perawatan meski aku di sini. Aku gak mau kulitku buluk!” Hamzah memutar bola matanya. “Terserah kamu lah. Cepetan mandi, abis ini kita sholat magrib bareng.” Hamzah yang pusing melihat kebiasaan aneh istrinya memilih masuk ke kamarnya. Kamar baru tepatnya, karena kamarnya sudah di sabotase Aletta. Melihat Hamzah pergi ke kamarnya, Aletta segera mengambil tas peralatan mandinya dan juga baju ganti. Dia berjalan perlahan mencari letak kamar mandi yang tadi belum sempat dia tanyakan ke Hamzah. “Buset! Kecil banget. Gak ada shower. Gak ada water heater. Gak ada wastafel. Astaga papa, kenapa Letta harus di sini sih?” rengek Aletta di depan kamar mandi, meratapi nasibnya. Aletta terpaksa masuk ke dalam kamar mandi minimalis milik Hamzah. Aletta kembali berteriak di dalam sana, karena merasa sedang berada di dalam kurungan ayam. Hamzah yang kaget mendengar teriakan istrinya, hanya tersenyum saja. Dia paham, semua ini pasti membuat istrinya terkejut. Tapi mengikuti semua keinginan Aletta, bukanlah cara yang tepat untuk menaklukkan wanita itu. Meski menikah dengan keterpaksaan, tapi Hamzah tidak boleh memandang istrinya seperti beban. Hamzah harus menerima jalan takdirnya. Aletta adalah amanah yang harus dia bimbing sampai akhir. “Hamzah,” panggil Aletta pelan saat dia baru saja menyelesaikan sholat magrib bersama suaminya. Tak ada jawaban. Aletta berusaha menunggu sebentar, siapa tahu suaminya masih berdoa. “Hamzah,” panggil Aletta lagi saat dia melihat Hamzah sudah bergerak. Tapi lagi-lagi Hamzah tak menggubrisnya. Pria itu malah masuk ke kamarnya membawa sajadahnya. Tentu saja Aletta geram. Dia tidak terima diabaikan begitu saja oleh tukang doa kampung seperti Hamzah. “Hamzah!” pekik Aletta sambil membuka pintu kamar Hamzah. Hamzah menoleh pelan sambil membawa kitab suci di tangannya. “Kamu manggil siapa?” tanya Hamzah dengan nada lembut. “Manggil kamu lah. Emang ada orang lain di sini yang namanya Hamzah?!” jawab Aletta ketus. Hamzah duduk di atas tempat tidurnya. Tatapannya tertuju pada sang istri yang berdiri di dekat pintu kamar sambil membawa mukenanya. “Aku ini suami kamu, Letta. Bukan temen main kamu. Lagi pula aku juga lebih tua. Gak sopan manggil orang lebih tua pake nama aja.” Aletta memutar bola matanya. “Halah! Sama aja itu. Lagian yang dituju kan tetep aja kamu.” “Mas Hamzah.” Aletta menggetarkan badannya. “Ih, geli aku manggil begitu,” lanjut Aletta menolak setelah mencoba memanggil seperti keinginan suaminya. Hamzah meletakkan kitabnya di atas meja. Dia berdiri lalu melangkah pelan, sehingga bayangannya yang tinggi itu menenggelamkan Aletta. Aletta mendadak panik. Dia mundur selangkah, namun sialnya punggungnya malah menabrak tembok. “Ma-mau apa kamu, Hamzah. Jangan kurang ajar kamu ya?!” Aletta memberikan peringatan keras. Hamzah tak peduli. Dia semakin mendekat dan membuat istrinya kian terjepit. Hamzah mencondongkan badannya ke depan, mendekat ke tubuh mungil istrinya yang menghindari tatapannya. “Kalo kamu boleh kurang ajar sama aku, kenapa aku gak boleh?” ucap Hamzah pelan di depan wajah istrinya. “Ma-maksud kam—“
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN