4. Temen Baru Coco (2)

1100 Kata
Bab 4 : Temen Baru Coco (2) ****** “MAMAAA…” panggil Zavie dengan nada sedihnya sembari memegangi celana Mama yang sedang mengambilkan nasi untuknya. Zavie kini sudah mandi, dia sudah bersih dan sudah berganti pakaian. Dia baru saja kena oceh sama Mama, ocehan Mama tadi lama dan lengkap banget, tetapi Zavie tidak menangis. Kalau Mama mengoceh, terima saja dengan telinga terbuka, kata Papa. Zavie tahu kok kalau dia bakal kena marah sama Mama. Namun, Zavie tadi memang pengin mengajak kucing putih itu bermain. “Apa lagi?!” tanya Mama ketus. “Tadii, tadii Javi, kan, maen sama Coco di belakang,” ucap Zavie, dia tak menggubris nada ketus mamanya dan mulai bercerita. “Ha. Terus maennya sampai berlumpur, gitu?” sambung Mama, langsung mencerocos tanpa rem. “Nggak usah cerita kamu, Mama udah tau.” Ih, Mama, nih. Mengamuk terus. Zavie jadi mengerucutkan bibirnya. “Bukan gitu, Mama.” “Jadi, apa??!” ucap Mama lagi dengan ketus. Marahnya Mama memang susah redanya. Sekarang Mama lagi mengambilkan lauk untuk makan siang Zavie. “Itu, Mama… Coco telnyata memang punya temen balu,” ungkap Zavie. “Temennya warna putih, Mama. Kecil, lucu, tapi pake kalung...” Mama tak menjawab. Cuma diam sambil mengambil lauk untuk Zavie. Zavie dari tadi hanya memegangi celana Mama sambil mengikuti ke mana Mama pergi. Sekarang Mama sedang berjalan ke arah dispenser dan Zavie masih mengikuti seraya memegang celana Mama. Ketika Mama sedang menampung segelas air dari dispenser, Mama pun akhirnya menghela napas. Melepaskan sedikit amarahnya ke udara. “Ya kalau pake kalung, berarti ada pemiliknya,” jawab Mama. “Tapi pemiliknya nggak dateng-dateng, Mama,” ucap Zavie lagi. Zavie mendongak dan berbicara pada mamanya dengan mata bulatnya yang memelas. “Javi takut, Mama, Javi takut dia nggak dijemput-jemput. Tadi Javi udah tungguin pemiliknya barengan Coco, tapi kucing putihnya nggak dijemput-jemput juga.” Mama kembali menghela napas. Kini Mama pun berbalik dan berhadapan dengan Zavie. Dilihatnya anaknya yang sedang takut dan sedih itu, lalu perlahan-lahan kemarahannya pun jadi menghilang. Oh, jadi itu alasannya Zavie—bocah berpotongan rambut two block itu—main sampai celemotan karena terkena lumpur. Zavie ini ganteng, sebenarnya, tetapi kelakuannya kayak salah kasih s**u. “Ya sudah. Tunggu aja dulu. Mungkin pemiliknya agak telat karena sibuk.” Mama menenangkan. “Ta—tapi, Ma, kalau dia nggak dijemput, gimana?” Zavie masih mendongak, kedua tangannya ada di sisi-sisi tubuhnya. Dia berdiri tegap, tetapi kepalanya mendongak supaya bisa melihat wajah Mama. Mata bulatnya mulai berkaca-kaca; dia menatap Mama dengan ekspresi sedih. Ekspresi kasihan. Ekspresi takut. “Kita lihat dulu sampai besok pagi. Kalau besok pagi kamu lihat dia masih ada di situ, berarti dia memang nggak dijemput,” kata Mama. “Tunggu aja dulu. Nggak boleh sembarangan diambil kalau ada yang punya.” Zavie terdiam selama beberapa saat; bocah itu tertunduk dengan wajah yang murung. Bibirnya sedikit terlipat dan bahunya turun. Namun, akhirnya si kecil itu pun mengangguk perlahan. “Hng,” jawabnya, mengiyakan mamanya. Setelah itu, dia pun mendongakkan kepalanya lagi dan menatap Mama dengan sendu. “tapi becok pagi-pagi Javi liat dia, ya, Ma. Javi mau liat dia pagi-pagi banget, Ma. Bangunin Javi, ya, Ma?” Mama pun mengangguk. “Iya. Ayo, makan dulu.” Zavie kembali mengangguk perlahan. Dia bersama Mama lantas mulai berjalan ke ruang tamu dan duduk di sana, lalu makan siang sambil menonton TV. Akan tetapi, nyatanya hari itu tidak berlalu semudah itu. Sampai sore, sampai Kak Atlas dan Papa pulang, sampai mandi sore, Zavie ternyata masih kelihatan risau. Sayangnya, sore itu Mama memang melarang Zavie untuk keluar lagi sebab takut bocah itu kembali bermain lumpur. Jadi, Zavie tak bisa mengecek kucing itu saat sore harinya. Keadaan itu bertahan sampai makan malam. Ketika akhirnya Mama mengantarkan Zavie ke kamarnya untuk tidur malam itu pun, Zavie masih terus kepikiran tentang kucing putih itu. ****** Esoknya, pagi-pagi buta, ketika dibangunkan oleh Mama, kedua mata Zavie pun langsung terbuka lebar. Ia betul-betul langsung terjaga. Dia lantas bangkit dari tempat tidurnya dan memelesat—berlari—ke belakang. Atlas yang sedang memakai dasi SMA-nya saat itu pun kelihatan menyatukan alisnya—merasa heran—ketika melihat adiknya yang tumben bangun pagi hari ini, lalu malah berlari dengan secepat kilat ke pintu belakang rumah. Mama lantas berteriak, “Pelan-pelan, Dek!!!” seraya menyusul Zavie ke belakang, lalu membukakan pintu untuk anak bungsunya itu. Untung Papa lagi mandi. Kalau tidak, pasti Papa juga akan sibuk menanyakan ada apa gerangan yang terjadi pada Zavie hari ini. Ketika Mama sudah membukakan pintu belakang dan memberikan sepasang sendal crocs kecil bergambar astronot itu kepada Zavie, Zavie pun bergegas memakai sendal itu dan langsung berlari melewati teras belakang rumahnya, lalu turun ke bawah melalui tangga. Setelah sampai di bawah—sudah menginjak tanah—Zavie pun lantas berlari lagi dengan cepat ke taman bunga hydrangea. Dalam waktu singkat, Zavie sudah berdiri di taman bunga itu dan dia langsung berjongkok, lalu menyibak tanaman bunga itu seperti kemarin agar memperjelas penglihatan serta memudahkan jalannya. Setelah dia sampai di tengah-tengah tanaman bunga hydrangea itu, kedua mata Zavie kontan membulat. Zavie mendadak merasa dadanya jadi sakit. Dia terkejut dan tanpa sadar menahan napasnya. Seluruh rasa khawatir dan sedih yang sudah ia pendam sejak kemarin akhirnya menerobos ke luar. Di sana, di depannya, Zavie melihat bahwa kucing itu masih ada di sana. Masih menunggu dan berlindung di dalam serumpun tanaman hydrangea itu. Kucing itu tertidur di sana, sendirian. Tak ayal, jantung Zavie jadi berdegup kencang. Anak laki-laki itu kontan berdiri, dia langsung keluar dari taman bunga hydrangea itu dan langsung berlari dengan sangat cepat ke rumahnya. Dia naik tangga cepat-cepat, isakannya sudah hampir mau keluar. Dadanya rasanya sesak sekali. Begitu melepas sendalnya dan masuk ke rumah melalui pintu belakang, Zavie pun langsung pergi ke dapur untuk mencari Mama di sana. Mama yang mendengar suara langkah kaki Zavie yang terburu-buru itu pun lantas menoleh, lalu ia mendapati anaknya yang tengah mendekatinya dengan ekspresi panik. Anaknya itu terlihat takut, sedih, kasihan, dan gusar. Semuanya bercampur menjadi satu. Wajahnya terlihat seperti sedang menahan tangis. Mama lantas mendekati Zavie dan langsung merunduk, memegangi pipi Zavie hingga membuat anak itu mendongak. Sebelum Mama sempat bertanya ada apa, Zavie langsung berbicara kepada Mama. “Ma—Mama…” panggil Zavie, suaranya terdengar agak bergetar. Seperti ada isakan yang sedang dia tahan. Matanya sudah berkaca-kaca. “Mama, Javi mau minta makanan kucing, ya, Ma. Javi minta makanan kucing sama air minum, ya, Ma.” Mama yang mendengar permintaan Zavie saat itu kontan melebarkan mata. “Eh?” Air mata Zavie kini sudah menggenang di kelopak matanya. Setelah itu, Zavie pun melanjutkan, “Kucingnya ternyata belum dijemput, Ma.” []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN