Lay menghela napas sebelum mengetuk pintu kamar Naina. Terlalu ragu apakah ia harus melakukan apa yang ia pikirkan atau ia menyudahi saja ide bodohnya itu. Namun, jika ia tidak merencanakan semuanya, kapan lagi ia berkesempatan mengadakan resepsi pernikahannya dengan Naina. Jika terlalu lama, maka ia akan tetap tidur di kamarnya sendirian dan hanya mampu membayangkan Naina lalu ujung-ujungnya ia akan menuntaskan segalanya di kamar mandi dengan sabun. Menyebalkan! Papanya terlalu kejam padanya seolah tidak pernah merasakan hasrat saat muda saja. “Lay, lo harus bergerak secepatnya.” Lay bermonolog ria. Ia sudah mengangkat tangannya dan siap mengetuk pintu kamar Naina, tapi pemilik kamar malah lebih dulu membuka pintu itu. Kening Naina mengerut. “Lay. Kenapa?” tanya Naina heran. Lay

