"Maaf Ini siapa ya? Yang menelpon saya hari ini banyak sekali di pagi hari," lanjut Clara lagi dengan sopan.
"Hay, bagaimana dengan mimpimu semalam?" Sapa seorang pria disebrang telpon. Suara pria itu sangat tidak asing, Clara semakin yakin bahwa penelpon itu tak lain adalah David.
"David Llyod," Clara melafalkan nama David dengan jelas.
"Woww.. sayang kamu mengenal suaraku! Dengan jelas sepertinya memang kita ditakdirkan berjodoh," balas David dengan godaanya itu sedangkan Clara dengan malas menanggapinya.
"Ada apa?" tanya Clara tanpa basa basi. Diliriknya David dengan sedikit sinis.
"Ayolah sayang, aku rindu suara desahan mu," goda David lagi dan lagi. Clara semakin jijik dengan godaan godaan David.
"Ada apa?" Clara mengulangi apa yang ia tanya sebelumnya. Kali ini ia bertolak pinggang sembari menatap pria licik nan menggelikan itu.
"Kamu tak menggoda ku? Kamu tidakah membaca kontrak? Kamu harus agresif sayang untuk hal s*x," tanya David dengan godaannya itu. Clara kembali kesal mengingat dirinya ceroboh menandatangani sebuah kontrak tanpa membaca isinya terlebih dahulu.
" Masa bodo!" Clara sudah lelah, belum satu langkah ia jalani kontrak itu namun dirinya sudah lelah setelah mengetahui isi kontrak yang begitu rumit dan menjijikan.
"Atau aku akan mengatakan pada ayah mertua ku kalau anaknya terpaut kontrak s*x dengan ku," David mengancam Clara matang matang. Dengan reflek, mata Clara membelalak besar. Ia berteriak sekuat tenaga.
"Jangan!!!!" tolak Clara itu membuat David tersenyum nakal.
"Kalau tidak mau segera mulai sandiwara pada kontrak itu," goda David dengan ancaman secara tidak langsung. Clara bergelidik ngeri lawannya ini sangat pintar memainkan ancaman keadaan.
Clara terdiam menatap David. Diamnya Clara tak membuahkan hasil. Clara tidak bisa berpikir sama sekali untuk mencegah ancaman ini.
"Bagaimana nona Clara Hahn?" tanya David yang sedari tadi mendapatkan diamnya Clara tanpa respon apa pun.
"I-ya," jawab Clara terpaksa.
Senyum miring di sebrang telpon pun terukir rencana liciknya sudah didepan mata, dirinya telah mendapatkan Clara seluruh nya dan dapat mengendalikan nya. Hanya satu yang belum ia dapatkan, yaitu hatinya.
"Tapi.." Clara mulai berani mengeluarkan suara lantang.
"Nikahkan aku diam diam! Dan berita ini tidak boleh terdengar oleh media berita apa pun itu! Dan.."
David memainkan alisnya, ia menggigit ujung jemari jempolnya sambil memutar sedikit badannya.
"Kau mau apa?"
"Ada apa David? Sepertinya kamu terlihat gelisah?"
Dengan gaya khasnya, ia langsung menegakkan badannya dan berhadapan dengan Clara sambil tersenyum mes*m.
"Tidak. Katakanlah apa yang Nona Clara Hanh mau! Akan aku turuti sayang,"
"Dan aku meminta apartmenmu! Queenber!"
Kegilisahan David membuahkan hasil. Ia tau persis seperti apa wanita wanita dahulu yang mendekatinya. Mereka semua menginginkan apartmen Queenber. Apartmen paling mewah di German.
"Lalu? Mendesah sayang aku rindu suara indah itu," goda David dengan selipan perintah nya. Clara memutarkan bola mata nya dengan malas lagi lagi Clara mendapatkan perlakuan menjijikkan.
"Aku perlu jawaban mu!"
"Sayang?" Panggil David agar ia bisa mengalihkan pembicaraan.
"Ada sekertaris ku disini! Kalau kamu tidak mau memberikan ku apartemen mu, lebih baik kita cukupi pembicaraan hari ini!" alasan Clara meyakinkan David agar ia tak melakukan sesuatu hal yang bodoh itu.
"Ah, kau belum menjawab pertanyaan pertamaku. Ada apa menelponku?" Lanjut Clara dengan pertanyaan yang sedari tadi di abaikan.
"Jangan terburu buru sayangku. Tidakah dirimu rindu padaku?" Goda David lagi dan lagi, menahan Clara agar tetap mendengarkan omong kosongnya.
"David Llyod. Seorang pria kaya di German yang hanya bisa membuang buang waktunya untuk membicarakan s*x kepada Nona Clara Hanh. Tidak kah kau punya pekerjaan lain selain mengurus perusahaan dan berbicara s*x dengan ku?" Clara memiringkan kepalanya sembari menatap David. Ia menaikkan alisnya dan memasang wajah angkuh.
David diam seribu bahasa. Ia sedikit marah karena perkataan Clara. Memang benar ia hanya bekerja mengurus perusahaan dan berbicara s*x dengan Clara. Tetapi tidak sepantasnya Clara berkata seperti itu kepada David.
"Setelah ini aku akan ada pemotretan, tidak punya banyak waktu! Dan kau menelponku disini untuk membicarakan hal yang menjijikkan.
Itu semua membuang buang waktu ku." Clara mengeluh karena David hanya membuang buang waktunya saja untuk mendengarkan ocehan sampahnya.
"Katakan sesuatu yang pantas aku dengar, atau aku matikan telpon ini?" Ancam Clara yang sudah lelah mendengar ocehan sampah dari mulut David.
"Maafkan aku Nona Clara Hanh. Tapi sepertinya kamu memang benar. Aku membuang buang waktu mu. Ku tunggu kau di ruangan kantor ku!" David segera mematikan telponnya. Ia memasukkan handphonenya ke dalam kantung jas nya. Dan dengan tatapan datarnya ke arah Clara, ia masuk ke dalam mobil.
Clara tercengang melihat tingkah David yang sangat tidak biasa. Ada apa dengan dia? Apakah tadi Clara salah bicara dengannya? Rasa penasaran pun timbul dibenak Clara. Tetapi di satu sisi, Clara tidak peduli.
"Nona Clara? Pemotretan majalah Blue eye's akan dilaksanakan jam 10 pagi. Sebaikan Nona segera mempersiapkan diri, karena pemotretan ini menyangkut artis dari seluruh penjuru dunia!"
Clara menurunkan handphonenya yang sedari tadi masih menempel di telinganya. Kemudian dengan mulut tercengangnya ia berbalik ke arah sekretarisnya.
"Ah? I-iya. Pakaian, make up, aksesoris semua sudah siap?" Clara terlihat sedikit gagap.
"Nona baik baik saja?"
"Tentu. Jangan khawatirkan aku!"
Clara tersenyum kecil. Kemudian ia langsung masuk ke dalam mobil bersama dengan sekretarisnya.
?????
21:59
Rumah Clara
Clara terlihat sangat lelah dengan sesi pemotretan majalah hari ini. Ia berbaring di ranjang kamarnya. Ia terlihat enggan untuk menyentuh segala macam perkerjaannya.
Sedetik sebelum Clara ingin memejamkan matanya, ia tiba tiba teringat kejadian tadi pagi dengan David. Ia masih belum mengetahui kenapa David bersikap seakan akan "menyerah" dengan Clara.
Clara mengambil handphonenya yang ia letakkan di atas meja samping tempat tidurnya, tetapi kepala ia pusing dan handphone itu terjatuh ke lantai.
Dengan tenaga yang tersisa, Clara mengambil handphonenya. Secara tak sengaja, badan Clara ikut terjatuh ke lantai.
Tidak peduli dengan kondisinya, Clara segera menelpon David. Sudah 2 kali telponnya dimatikan oleh David. Tidak menyerah begitu saja, Clara meninggalkan pesan suara.
"David, ada apa dengan mu tadi pagi? Dan kenapa kau mematikan telponku? Ah.. aku hari ini sibuk. Sepertinya aku akan sakit,"
Tidak puas dengan pesan suara itu, Clara mencoba menelpon David untuk yang ke 4 kalinya. Siapa sangka ternyata David mengangkat telpon Clara.
"Sayang?"
"Ah.. David, hari ini kau terlihat berbeda.. ada apa sebenarnya?"
Terdengar dari telinga David bahwa suara Clara sangat lemas. Ia seperti sangat kelelahan, seakan akan ingin mati. David sedikit panik.
"Ada apa sayang? Kenapa suara mu seperti itu?"
"Aku ha.. hanya kelelahan. Tidak apa. Ah.. tidak.."
Brakk. Suara handphone Clara terjatuh dari genggaman Clara. Kepala ia sangat sakit. Badan ia lemas.
"HEY SAYANG????? KENAPA? APA YANG JATUH? SAYANG? KAMU DIMANA?"
"Ru.. ma.." Suara Clara terdengar lemas sekali. Dan nyaris tak terdengar oleh David.
"Hah? Dimana? Dimana sayang?"
"Ruu.. maa... Hhh!" Clara berteriak sekuat tenaga. Bahkan nyaris menghabiskan seluruh energinya. Beruntung, David mendengar teriakan Clara.
Dengan sigap, David mematikan telponnya dengan Clara. Ia mengambil jasnya, berlari ke arah parkiran gedungnya dan masuk ke dalam mobilnya.
22:38
Rumah Clara
David berlari mencari kamar Clara. Dengan sedikit memerhatikan isi rumah Clara, ia heran kenapa dirumahnya sepi sekali. Tidak ada pengawal maupun sekretarisnya.
Dengan mendobrak beberapa pintu, akhirnya David menemukan kamar Clara.
"CLARAAAAAAAAAAAAAAAA."