"Aku akan antar kamu pulang." ucap Raka setelah melepas cekalan tanganya.
"Tidak usah. Saya bawa motor sendiri kesini. Saya pulang." pamit Tika pada Raka.
Meski Tika merasa dongkol dengan perlakuan Raka yang kadang baik tapi kadang juga menyebalkan.
Tika tetap menghormati Raka, karna memang Raka adalah majikanya.
Tika memang sudah biasa naik motor sendiri saat keluar rumah.
Sejak Tika SMA ia selalu memakai motor untuk pulang oergi ke sekolah.
Karna memang dia tinggal di lingkungan elit dan jauh dari pangkalan angkot atau kendaraan umum lainya.
Sedangkan Tika meskipun biaya sekolah di tanggung oleh nyonya Ambar tetap saja ia tidak mau semakin merepotkan majikanya dengan urusan transportasi pulang pergi ke sekolah.
Setelah Tika pulang Raka segera mengecek handphone nya.
Dan benar saja, berulang kali ibunya menghubungi nya namun saat itu Raka tengah sibuk bercinta dengan Lusi, sehingga tidak mendengar panggilan ibunya.
Setelah mengecek handphone Raka langsung membuka berkas yang di kirim Tika dari ibunya.
Raka kaget, melotot dan sangat terkejut dengan dokumen yang tengah ia baca.
Berkas yang Raka pikir adalah berkas kantor yang ibunya kirim ternyata itu bukan urusan kantor atau pekerjaan lain nya.
Isi inti dari berkas itu adalah surat oerintah dari ibunya untuk segera Menikah.
Dan yang membuat Raka semakin terkejut adalah ibunya menyuruh Raka menikahi Tika.
Sesaat setelah Raka membaca point penting dalam berkas tersebut Raka segera menghubungi ibunya yang saat ini masih di luar negri.
"Mamah, apa maksud mamah dengan menyuruhku menikahi Tika?." tanya Raka menggebu pada sang ibu.
"Dasar anak kurang ajar, kau sangat jarang menghubungi ku. Dan sekarang kau menelfonku karna aku mengirim berkas itu. Bahkan tanpa menanyakan kabarku terlebih dulu. Aku yang melahirkanmu Raka. Ku ingatkan kalau kau lupa." ucap Ambar panjang lebar dengan emosi pada Raka.
Raka menggaruk keningnya yang tak gatal.
"Maaf mah. Raka sibuk makanya jarang telfon mamah. Mamah apa kabar? Kapan mamah pulang?" tanya raka.
"Sibuk kau bilang? Apa yang kau kerjakan Raka? Sibuk berganti perempuan di atas ranjang? begitukah?."
"Tidak mah, Raka beneran sibuk kok di kantor." Raka mengelak.
Meski sebenarnya Raka tau bahwa ibunya pasti tau apapun yang ia lakukan meskipun ibunya tak ada di rumah.
"Aku akan pulang saat hari pernikahanmu."
"Mah, mamah gak bisa maksa Raka nikah sama Tika. Lagian dia sudah Raka anggap seperti adik Raka sendiri mah."
Tolak Raka pada sang mamah.
"Benarkah kau menganggap Tika itu Adikmu?." ucap Ambar tidak yakin.
"Iya mah, lagian Raka dan Tika sering kali berantem mah, apa jadinya kalo Raka nikah sama Tika? Dia selalu saja membantahku mah." Raka masih berusaha menolak keinginan ibunya.
"Jika kalian sering berantem itu bukan salah Tika, tapi salahmu yang selalu saja mau menang sendiri Raka. Dan tika tidak akan membantah jika memang kamu melakukan hal yang benar."
"Mamah kok belain Tika sih? yang anak mamah kan Raka bukan Tika."
"Memang yang anak Mamah itu kamu Raka, tapi yang nurut sama Mamah itu Tika bukan kamu."
"Maksud mamah apa!? Apa mamah sudah membicarakan tentang pernikahan ini pada Tika?."
"Belum, Mamah baru memberitahumu. Meski mamah tidak yakin Tika mau menikah dengan laki laki gila sepertimu , tapi mungkin Tika mau mendengar permintaan mamah. Dia anak baik dan selalu nurut pada orang tua. Tidak srpertimu."
"Mah aku juga bisa jadi anak baik. Kenapa mamah terkesan lebih menyayangi Tika dari oada Raka mah?." ucap Raka merajuk oada mamah nya yang lebih menyayangi Tika. Menurut Raka.
"Kapan kau akan jadi anak baik? Sudah sangat terlambat jika kau berjanji untuk menjadi anak baik Raka.berapa usiamu sekarang? Kau bukan anak anak lagi, tidak ada kesempatan untukmu menjadi anak baik. Kau bukan anak anak lagi Raka."
"Tapi Raka tetap Anak Mamah meskipun sekarang usia Raka bukan anak anak mah."
"Mamah tidak mau mendengar alasan apapun dari kamu Raka. Cepat bicarakan tentang pernikahan ini pada Tika dan katakan padaku apapun jawaban Tika. Jika Tika menolak, itu akan menjadi urusanku."
"Tapi Raka tidak mencintai Tika mah."
"Tpa kau cinta pada semua teman ranjangmu Raka?." tanya Ambar emosi.
"Tidak mah."
"Apa kau buta Raka? Apa kau tidak bisa membandingkan teman ranjangmu dan Tika yang tinggal di rumahmu?. Kalau kau tidak mencintai teman ranjangmu tapi kau bisa tiduk dengan mereka. Dan Apa kurangnya Tika jika di bandingkan dengan Teman ranjangmu Raka? Pikirkan perkataan mamah Raka. Jangan menghubungi ku sebelum kau bicarakan tentang pernikahan ini pada Tika."
Ambar sangat emosi menghadapi putra satu satunya. Tanpa menunggu jawaban dari Raka Ambar langsung memutus pqnggilan itu.
Di kantor Raka langsung melempar dokumen itu kesembarang arah.
Raka tak habis pikir kenapa tiba tiba ibunya menyuruhnya untuk menikahi Tika.
Benarkan Tika belum tau tentang rencana ibunya?.
Atau tika hanya pura pura tidak tau?
Raka segera menyambar kunci mobil dan memungut berkas berkas yang tadi dia lempar dan segera pulang ke rumah untuk menemui Tika.