Mencari Jalan Keluar

1005 Kata
Suara pintu yang berderit membuatku terbangun, aku memicingkan mata dan melihat sekeliling. Ternyata itu semua bukan mimpi. Ini benar-benar terjadi padaku. Ketukan pintu dan suara yang memanggil di luar sana mengalihkan perhatianku. "Laras, kamu udah tidur ya? Mbak belikan makanan untukmu," ketukan pintu masih terdengar. "Iya mbak," terpaksa aku bangkit dari kasur dan melangkah gontai. Kubuka pintu dan melihat mbak Wati yang menyuruhku untuk keluar. "Astaga Laras, kamu kenapa? Kenapa matamu sembab dan bengkak? Kamu menangis ya?" Tanyanya bertubi-tubi. "Santai saja mbak, aku tidak apa-apa," kupaksakan tersenyum. Kami duduk di kursi plastik yang disediakan oleh tuan rumah ini. Kontrakan ini sengaja kami sewa bertiga agar terbebas dari peraturan asrama. Kami berbeda divisi namun tetap satu PT. Iuran pun aku membayar separuh saja karena separuhnya di bayar oleh kekasihku. "Kalau ada masalah cerita saja sama mbak! Pasti kamu berantem sama dia kan?" Selidik mbak Wati. Aku menggeleng dan tersenyum tipis. "Mengaku saja Laras, kita harus saling terbuka tentang masalah sekecil apapun itu! Siapa tahu mbak bisa bantu," pintanya. "Maaf mbak aku hanya tidak ingin merepotkan mbak Wati," sahutku cepat. "Tidak merepotkan, mbak malah senang kalau mbak ini dijadikan tempat curhat oleh kalian," Dia tersenyum lembut. Kuakui walaupun mbak Wati orangnya spontanitas, tapi kepribadiannya yang peduli pada kami membuatku betah berlama-lama di dekatnya. "Aku bertengkar dengannya karena ...." tak kulanjutkan ucapanku. Mbak Wati menatapku dengan intens. Aku menghela napas panjang, bibirku masih terkatup rapat. "Kami sebenarnya hanya bertengkar ringan saja mbak," ucapku akhirnya berusaha tersenyum tipis. "Sampai membuat kamu seperti ini?" Tanyanya masih tidak percaya. Aku mengangguk berusaha meyakinkan mbak Wati. Suara salam di depan pintu membuat kami mengalihkan pandangan. "Itu pasti Leli," Aku tersenyum tipis. Wanita seumuran aku itu masuk dan langsung menghampiri kami. "Ada apa ini? Kalian belum tidur?" Tanyanya heran. "Kamu lembur malam banget Lel," ucap Wati. "Lumayan mbak buat tambahan," Leli terkekeh geli. "Aku udah makan mbak, aku masuk duluan ya!" Aku pamit pada mereka berdua. Mau tak mau mbak Wati mengiyakan. Aku masuk dan sayup-sayup mendengar mereka membicarakan tentangku. Waktu terasa sangat lambat, aku berusaha memejamkan mata lagi. Aku bangun dengan perasaan gamang, was-was, takut, semua bercampur aduk dalam d**a. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan agar Dennis mau menemui. Hari ini aku bersiap untuk pergi bekerja, aku berjalan ke arah pemberhentian bus terdekat karena di sanalah nanti bus mini kepunyaan PT berhenti untuk menjemputku. Sepuluh menit berlalu, aku masuk dan melihat Dennis duduk di belakang seorang diri. Kuhampiri dia dan duduk di sebelahnya. Tak kupedulikan tatapan mata pekerja lainnya. Toh mereka sudah tahu kalau kami menjalin asmara. Untunglah hari ini jadwalnya sama denganku. "Mas, bagaimana ini mas? Kita harus menikah secepatnya," Aku mendesaknya. "Kamu gila ya? Aku masih terlalu muda untuk menikah, pokoknya aku akan cari cara cepat agar kita berdua selamat," bisiknya padaku. Aku terhenyak mendengar perkataannya. Ternyata dia tidak serius menjalin hubungan denganku. Padahal selama ini aku sungguh mencintainya. Mungkin saja aku seorang wanita yang belum bisa sepenuhnya dia cintai sedalam itu untuk melanjutkan ke tingkat yang lebih serius. Atau mungkin juga aku hanyalah objek kebutuhan baginya, tidak lebih. "Tapi mas, aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku juga tidak sanggup menghadapi ini seorang diri. Setidaknya kamu harus tetap berada di sisiku," ucapku lemah. Tangannya menggenggam tanganku seolah memberikan kekuatan. Kutatap wajah rupawannya. Ku telisik manik mata itu dan mencoba mencari tahu apakah dia memang benar-benar cinta padaku. "Kita harus memikirkan rencana selanjutnya Ras, keinginanku masih banyak dan belum siap untuk menikah muda," ucapnya masih dengan pendiriannya. "Terus aku harus bagaimana mas? Sudah sebulan ini aku terlambat datang bulan. Semakin lama perut ini akan semakin membesar," desakku. "Biarkan aku berpikir langkah apa yang harus kita ambil," katanya kemudian. Kami tidak bersuara lagi karena semua kursi sudah penuh dengan pekerja. Kami tidak ingin ada orang lain yang tahu tentang ini. Suara percakapan dari orang-orang terdengar jelas. Kami masih bungkam dan terhanyut dalam pikiran masing-masing. "Bapak, ibu, maafkan anakmu ini," batinku. Air mata hampir saja menetes kalau saja aku tidak mengusapnya. Hari ini walaupun badanku berada di pabrik tapi jiwaku seolah pergi entah kemana. Aku tidak mendengar suara panggilan leader yang ternyata sudah berada di depanku. Dia menepuk dan mengulang memanggil namaku. "Pergilah makan siang Ras, biar orang lain yang menjaga mesin ini!" Suruhnya. Aku mengangguk lemah dan berterima kasih. Aku berjalan menuju kantin yang letaknya di belakang bangunan utama. Kulihat Dennis tengah tersenyum sambil melihat layar ponselnya. Dahiku mengernyit sebentar. Aku sungguh terkejut karena dia dengan santainya makan dan bersenda gurau dengan teman lainnya, seolah tidak punya masalah apapun. "Kenapa aku harus menyukai pria seperti dia?" Gumamku lirih. Aku disapa teman seperjuangan, mereka mulai bertanya-tanya kenapa aku selalu murung beberapa hari ini. "Aku cuma kangen sama keluarga di kampung, itu aja kok," aku beralasan. Mereka mengangguk saja tanpa bertanya hal lainnya. Kami mulai tenggelam dengan makanan yang ada di depan. Seminggu telah berlalu, Dennis masih belum menemukan jalan keluar yang tepat untuk masalah ini. Beberapa kali aku mendesak dirinya namun jawaban yang aku dapatkan tetap saja sama. Sikapnya seolah acuh dan tidak peduli lagi padaku. Aku mendapatkan jatah cuti selama seminggu. Aku pun pulang ke kampung halaman. "Mas, aku akan segera kembali dan meminta pertanggungjawaban darimu," ucapku mantap. Mas Dennis mengantar kepulanganku di bandara. Dia tersenyum kecut mendengar ucapanku. "Hati-hati, jangan sampai percaya pada orang asing!" Serunya. Aku mengangguk cepat dan masuk ke ruang keberangkatan. Setelah pengecekan tiket aku duduk termangu seorang diri. Tak berapa lama setelah mendengar pengumuman aku berdiri dan mengantri untuk pengecekan tiket ulang dan masuk ke dalam kabin pesawat. Dua jam aku menempuh perjalanan di udara, perasaanku masih saja dihinggapi rasa bersalah. Aku sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa. Aku hanya ingin melihat keadaan keluargaku setelah tiga tahun belum pulang kampung. "Kamu Laras?" Tanya seorang pria. Aku mengernyitkan kening, tidak tahu siapakah dia sebenarnya. Setelah turun dari pesawat, pria itu sengaja mendekat dan berusaha berkenalan denganku. Tapi tunggu dulu, kenapa dia bisa tahu siapa namaku? "Kamu lupa siapa aku?" Tanyanya lagi. Aku tersenyum simpul dan mengacuhkan pria tadi. "Astaga kasian sekali aku, ternyata kamu masih lupa siapa aku sebenarnya," Dia menghela napas berat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN