Gendhis mengernyit pelan. Kedua matanya mulai memicing saat Puri memelototi ibunya. Hanya dengan alasan kebutuhan di masa depan dan menyudutkan sang ibu dengan keegoisan, Hapsari pun mengalah. Dengan amat sangat berat, akhirnya ia datang ke rumah sakit tempat di mana Gendhis mendapat perawatan. "Ayo, Bu!" Perintah Puri pada sang ibu sontak membuat Gendhis terperanjat. Ia membuka mata dengan dahi berkedut. Hapsari pun mendekat. Dengan enggan, ia duduk di sisi brankar dan mengelus pucuk kepala menantu yang tak diinginkan. "Ka-kamu sudah sadar, Gendhis?" Gendhis mengulas senyum dengan lemah. Untuk pertama kalinya, ia merasa begitu disayangi oleh mertuanya. "Ya, Bu. Aku baik-baik saja saat Ibu ada di sini." Hapsari memejam. Giginya saling bergemeletuk saat mendengar ucapan manis Gendhis

