Hari makin terik saat Ganendra sudah tiba di depan kafe Satoe Hati. Diedarkannya pandang ke sekeliling parkiran. Jazz kuning milik Gendhis terparkir di sana. "Alhamdulillah, kalo Gendhis enggak kenapa-kenapa." Ganendra melanjutkan langkahnya untuk masuk lebih jauh. Di dalam, ia melihat banyaknya pengunjung yang tengah mengantre di depan meja kasir. Dengungan serupa lebah pun terdengar dari lantai dua. Untuk sejenak, ia teringat akan perubahan yang terjadi belakangan. Lantas, hampir saja ia membuka pintu belakang yang terhubung pada jalanan setapak kantor utama saat bahunya ditepuk seseorang. "Mau ke mana, Mas?" tanya salah seorang karyawan. "Oh, anu, Mas. Mau ke kantornya Gendhis. Ada perlunya," jawab Ganendra. Tak lupa dikembangkannya senyum pada karyawan yang menyapa. "Oh, tapi seing

