34. Skenario Terbesar Puri, Abi dan Gendhis di Trotoar

1044 Kata

Gendhis berjongkok, lantas ia menutup wajah rapat-rapat. Disembunyikannya air mata yang terus meluah tanpa bisa dicegah. Bukan karena dibentak atau dijadikan pelampiasan kemarahan oleh Abisatya seperti yang sudah-sudah. Melainkan sebab tak lagi ada hal yang tersisa untuk mempercayai suaminya. "Sadar, Gendhis! Sekuat apa pun kamu mencoba bertahan atas argumenku mengenai Putra yang setia, itu tetap terbantahkan oleh banyaknya fakta yang ada!" Gendhis mengangguk-nganggukkan kepalanya. Ia mulai paham sekarang. Sayangnya, ia pun masih butuh waktu untuk menerima kenyataan yang ada. Melihat Gendhis berjongkok tepat di depan pintu masuk, Abi menarik tangannya dengan kasar. Ditariknya tangan Gendhis yang basah dengan air mata. "Tak perlu menarik perhatian dengan menangis di depan pintu! Kamu bi

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN