7. Neraka Dunia bagi Gendhis

1083 Kata
Gendhis masih menatapi bingkai foto yang terpajang di dinding. Ia ada di kamar yang selama empat tahun terakhir dijadikan rumah singgah sang suami. Benar ia dan Putra tinggal di Pasuruan. Akan tetapi, hanya di akhir pekan. Sisanya, Putra tinggal di Malang bersama keluarga Hadiyata. "Apa yang sebenarnya terjadi, Putra?" Gendhis membuka lemari, mencari-cari hal yang mungkin bisa dijadikan kunci untuk membuka fakta yang ada. Sayangnya, meski sudah memindahkan tumpukan baju ke ranjang, ia tak menemukan apa pun selain berkas-berkas. Gendhis menghela napas, lantas memejam. Setitik air mata lolos dan menjejak basah pada pipinya yang memerah. Ia mengingat kenangannya dengan Putra kala pertama kali bertandang ke rumah Hadiyata setelah kawin lari. "Kenapa?!" tanya Hapsari. Ia memelototi anak sulungnya. "Ibu, aku mencintai Gendhis. Apa salahnya? Kami punya jalan yang harus dilalui, Bu," jawab Putra. Ia masih berlutut di hadapan ibunya yang duduk di sofa. "Bukan itu yang ibu maksud, Putra. Kamu tahu betul apa yang ibu pertanyakan," ungkap Hapsari. Ia melirik Gendhis dengan tajam. Putra memejam, lantas menangkupkan wajahnya pada lutut sang ibu. "Seperti yang sudah Putra katakan, Bu. Hanya Gendhis yang kucintai." Melihat Putra demikian, Gendhis pun turut menyentuh lutut mertuanya. "Bu, maaf jika hubungan ini harus diawali dengan cara seperti ini. Tetapi, Gendhis janji akan selalu menemani Putra kapan pun. Aku ... ingin kita semua menjadi keluarga baru yang saling melengkapi, Bu." "Hentikan, biarkan aku pergi." Hapsari menggeleng, lalu mencoba berdiri. Sadar dirinya menghalangi langkah mertuanya, Gendhis pun beranjak, sedangkan Putra masih berlutut. Sayangnya, melihat anaknya berlutut seorang diri, Hapsari makin marah. Ia menunjuk Putra dengan kedua mata memelototi Gendhis. "Kamu lihat? Hanya anakku yang berlutut! Itu yang katamu akan menemani Putra sampai kapan pun?" Putra terkejut. Ia mendangak, lalu meraih tangan yang menunjuknya. "Bu, Gendhis beranjak karena tahu ibu akan pergi. Ia tak ingin menghalangimu, Bu." Gendhis yang merasa salah pun, kembali berlutut di depan mertuanya. "Bukan seperti itu maksduku, Bu. Ibu akan pergi tadi. Jika aku tak menyingkir, mungkin Ibu bisa terjatuh. A--" "Lihat! Belum sejam kamu di sini, tapi sudah menyumpahiku untuk terjatuh! Kurang ajar!" maki Hapsari. Wajahnya memerah, menahan amarah. "Bukan begitu, Bu," ujar Putra. "Aku tidak menyumpahimu, Bu, a--" "Cukup!" teriak Hapsari lantang. Ia mengangkat dan merenggangkan telapak tangannya, seolah-olah tak ingin lagi menerima bahasan apa pun. "Dengan atau tanpa restuku, kalian sudah menikah. Untuk apa lagi meminta restuku? Pergi dari sini. Mulailah hidup kalian di luar rumah ini." Sontak saja, Putra menitikkan air mata. Ia bahkan pernah menjanjikan banyak hal pada Gendhis mengenai keluarganya yang harmonis. Sadar Gendhis terjepit di suasana yang tak nyaman, Putra lantas beranjak. Ia membawa Gendhis yang telah menangis dibentak sedemikian rupa. "Maaf, jika kehadiran Putra mengganggu Ibu," pamit Putra. "Tapi, Putra, kita tetap harus minta doa dari Ibu, agar hidup kita dilimpahi berkah. Agar ki--" Putra mengarahkan telunjuknya yang mengacung pada bibir Gendhis. Dipeluknya pundak sang istri untuk keluar dari rumah Hadiyata. Baru saja keduanya hendak menutup pintu saat terdengar ucapan Hapsari. "Aku hanya bisa menerimamu pulang kemari, Putra. Tapi tidak dengan perempuanmu." Ketukan pada pintu kamar Putra membuyarkan kilas kejadian masa silam yang berkelindan di pikiran Gendhis. Gegas, ia membuka pintu. "Ibu?" Hapsari melenggang masuk kamar. Ia mengedarkan pandang pada seluruh isi kamar yang berantakan. "Apa yang kamu lakukan pada kamar Putra?" Sadar ia salah telah memporak-porandakan kamar suaminya, lekas Gendhis mendekati ibu mertuanya. "Bu, aku tadi sedang mencari se--" "Pergi!" Mata Gendhis membeliak. Mulutnya membulat sempurna. Tergagap ia mendekati Hapsari, menggenggam kedua tangan sang mertua tunggal. "Bu, bukan itu maksudku, aku hanya ingin me--" "Pergi!" Kali ini, penolakan sang mertua benar-benar di luar dugaan Gendhis. Sebelumnya, selama lima tahun berumahtangga dengan Putra, ia memang tak pernah ke sana, selain kali pertama meminta restu setelah menikah. Dengan pandangan buram, ia menuruni anak tangga. Langkahnya yang gontai lantas membuat kakinya terpeleset dari anak tangga. Tanpa aba-aba, tubuh Gendhis pun terjatuh berguling dari ketinggian tiga meter. "Argh!" Jatmiko yang baru saja tiba di rumah Hapsari pun membeliak saat tahu anak sulungnya terjatuh. Ia berlari mendekati Gendhis yang tak sadarkan diri. Sementara itu, Hapsari yang mendengar teriakan, lantas keluar. Ia membekap mulut sebab terkejut, sebelum akhirnya kembali acuh tak acuh. Puri yang berada di ruang tamu pun hanya menatap Gendhis dengan ekspresi datar sembari menggelengkan kepala. "Ini baru awalnya, Gendhis." Melihat matinya simpati di rumah Hadiyata, tentu saja Jatmiko marah. Namun, ia lebih mementingkan kondisi Gendhis daripada harus buang-buang tenaga memarahi keluarga besannya. Dengan cepat, Jatmiko menggendong dan memasukkan Gendhis dalam mobilnya. Dengan cepat, ia melajukan Jazz kuning itu membelah jalanan Malang. Sebab belum tahu betul area Malang, Jatmiko tak tahu ada rumah sakit yang jaraknya tak lebih dari 200 meter. Ia memilih belok ke kiri, ke arah terusan Ijen. Lantas, memutar balik kemudi mobil. Kemudian ia masuk ke rumah sakit ibu dan anak. Dibawanya Gendhis masuk ke IGD. Sementara itu, di rumah Hadiyata, Hapsari dan Puri terlibat obrolan panas. Keduanya bersikukuh dengan pilihan masing-masing. "Tidak, Puri! Jangan paksa ibu menerima Gendhis di sini!" "Ibu ... kita hanya perlu sedikit bersandiwara. Kita hanya perlu ia menandatangani semua aset properti yang dipindah namanya menjadi nama kita," ungkap Puri. "Aset?" tanya Hapsari. Tiba-tiba ia mendekat pada Puri yang duduk di sofa panjang. "Apa maksudmu?" Puri mendengkus. Lantas, ia meraih tas map yang berisi beberapa dokumen yang diberikan oleh kuasa hukum sang kakak. "Selama ini Ibu selalu membanggakan kakak, kan? Sekarang Ibu bisa lihat sendiri. Semua kekayaan kakak diberikan pada Gendhis. Pada perempuan kaya yang bukan siapa-siapa kita." Benar saja. Hasutan Puri mampu emmbut Hapsari mengepalkan tangan. Ia memejam sebentar, sebelum akhirnya kembali menggelengkan kepala. "Biar. Berikan saja. Kita bisa pergi dari sini. Ibu punya uang pensiunan. Kita bisa tinggal di rumah lain." Mendengar itu, Puri lantas menggebrak meja. Ia meraih tangan ibunya, lantas menamparkannya pada pipinya sendiri. "Apa yang kamu lakukan? Hentikan, Puri! Hentikan!" "Ibu yang berhenti! Tekan egomu, Bu! Kita punya hak yang sama! Aku adalah anak perempuanmu! Aku juga butuh masa depan yang cerah, hidup yang bahagia, pernikahan yang mewah! Aku tak akan pergi dari sini sebelum semua hak-hak yang direnggut Gendhis kembali pada kita, Bu!" Hapsari terdiam. Ia memejam, menahan nyeri di d**a. Sudahlah ia ditinggal sang putra, lantas harus bersandiwara di depan perempuan yang ia yakini menjadi sebab kematian anaknya. "Puri, ibu tak sanggup jika harus berhadapan dengan Gendhis. Karenanya, kita kehilangan Putra." Hapsari menangis. Ia mengempaskan badan ke sofa, menutup wajahnya yang basah. "Bu, kita hanya perlu tersenyum sebentar, lalu terus tersenyum saat melihat Gendhis menderita di depan mata kita. Dengan kedua tanganku sendiri, aku akan membuatnya mengembalikan hak-hak kita, Bu. Aku janji! Aku janji, akan membuat Gendhis merasakan neraka dunia!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN