Kemarahan Hapsari

1709 Kata

Malam makin larut saat Gendhis terlihat kurang enak badan. Berkali-kali ia berlari ke kamar mandi demi mengeluarkan semua isi dalam perutnya. Beruntung, ia tak memaksa untuk pergi ke kafe sesuai permintaan ibunya. Jika tidak, sudahlah pasti ia kembali membuat gaduh para karyawan yang bekerja. Sembari dipijat tengkuknya, Gendhis terus memuntahkan semua yang masuk dalam tubuhnya sejak tadi. Mulai dari teh, makanan ringan, hingga makan malamnya semua keluar tanpa aral melintang. "Ada apa denganmu, Nduk?" tanya Hapsari. Ia terus memijit tengkuk Gendhis yang menguap. Gendhis mengedikkan bahu. Air matanya menetes bersamaan dengan cairan kekuningan yang rasanya pahit dan asam dimuntahkan. "Masuk angin mungkin, Bu." Alih-alih menenangkan, Hapsari malah mengungkit kejadian semalam. "Kamu diculi

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN