37. Kakak dan Segala Kesedihan

1042 Kata

Ambar terus memacu sepeda motornya, hadiah dari sang ayah, membelah jalanan padat dari Mojokerto ke Malang. Kedua matanya berkaca-kaca, terlebih saat mengingat bagaimana sang ayah marah besar begitu paket atas nama Gendhis ia terima. "Bukankah sudah kukatakan sebelumnya? Aku tak mau tau lagi tentang orang yang bernama Gendhis! Lantas, kenapa barangnya diterima di sini?!" Jatmiko melempar berkas yang diletakkan pada nakas tak jauh dari sofa ruang tamu. Kedua matanya memerah, menahan amarah sebab tak percaya kepercayaannya tak dihargai di dalam rumah. Wati terus terguguk. Meski bukan ia yang menerima, tetapi tetap saja ia merasa ada yang tak beres mengenai isi surat itu. Terlebih, ia menerima dengan nama penerima sang anak sulung. "Ayah, apa salah jika hanya menerima? Kenapa sebegitu ben

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN