Gendhis sudah berada di depan rumah mertuanya. Tangannya bergetar, sebelum akhirnya ia mengetuk kuncian pagar dengan pelan. Hujan masih mengguyur Malang saat ia tiba di sana. Bagaimanapun juga, awan gelap masih mendominasi langit yang tak lagi bersahabat. Gendhis berusaha sekuat tenaga untuk sabar. Meski beberapa kali, bayangan akan ucapan Abi terus terngiang tanpa sebab. Derap langkah tergesa terdengar mendekati pintu pagar, tetapi Gendhis sama sekali tak memperhatikan. Pikirannya lebih memilih menyibukkan diri dengan ingatan-ingatan penuh sampah yang berjejal di kepala. "Gendhis?" Untuk pertama kalinya, Gendhis melihat Puri menyungging senyum lebar. Sejenak, itu tampak mengerikan. Akan tetapi, ia menggeleng, mengusir segala prasangka yang mulai berkelindan. "Puri, aku kem--" "Kamu

