“Pak Juna?” Rayya kaget karena di belakangnya sudah berdiri Arjuna yang tinggi dan tersenyum padanya. Arjuna menaikkan kedua alisnya. “Hai!” “Pak Juna lagi ngapain di sini? Mau belanja baju juga? Tapi kan … ini butik pakaian wanita.” “Oh ya? Nggak ada pakaian laki-laki ya di sini? Ohh pantas saja, aku pikir apa yang aneh dari tadi. Ternyata, pakaian wanita semua yang dijual.” Arjuna terkekeh sambil geleng-geleng kepala. “Dan kebetulan, aku ketemu kamu … Rayya.” “Haishh!” Mendengar namanya dipanggil begitu, seketika Rayya tersadar, inilah saatnya dia juga harus memanggil Arjuna tanpa embel-embel ‘pak’. Detik kemudian kedua bola matanya memicing. “Hemm … jangan-jangan Pak Juna—ehm! Arjuna maksudku, sengaja ngikutin aku? Begitu?” Kedua alis Rayya ikut terangkat. Arjuna nyengir. “Yaa tadi

