Jubah handuk itu menggantung sebatas pertengahan paha. Dan juga belahan leher yang terlalu rendah, membuat tubuh Sabrina terlihat semakin seksi—di mata kurir paket makanan. Glek. Mas kurir sampai menelan ludah. Jakunnya terlihat turun naik. “A—ada paket, Mbak.” Raut kecewa di wajah Sabrina, sambil mengeratkan jubah handuk bagian d**a. Dikiranya Yudhis yang datang, ternyata malah kurir paket. “Paket apa?” tanyanya ketus. Dan, jaga matamu! Lanjutnya dalam hati. “Umm ini pesanan Pak Yudhistira.” Kurir itu mengangkat sedikit satu kantong belanja cukup besar yang dipegangnya dengan kedua tangan. “Ohh.” Barulah ketegangan di wajah Sabrina sedikit mereda. “Sudah dibayar, kan?” Kedua tangannya mengambil kantong belanja itu dari tangan kurir. Kurir mengangguk seraya tersenyum. “Sudah, Mbak. M

