Bab 3

1148 Kata
Clara terlihat cantik dalam balutan gaun selutut berwarna peach itu. Rambut panjangnya digulung rapi dengan hiasan pita berwarna senada dengan gaunnya. Membuat penampilannya jadi semakin menawan. Siapapun yang melihat Clara pasti akan langsung jatuh cinta padanya. Mungkin. Clara mematut bayangannya di cermin sekali lagi. Berputar beberapa kali. Membuat ujung gaunnya mengembang. Clara tersenyum. Penampilannya sempurna. Clara sudah siap untuk bertemu calon suaminya itu. Clara berjalan menuruni anak tangga. Rumahnya sudah sepi sejak beberapa hari lalu. Pertemuan keluarga yang selalu menjadi ajang bagi para wanita yang lebih tua untuk bertanya 'kapan nikah' pada Clara sudah pergi. Makanya Clara bisa dengan santai berjalan di rumahnya. "Kamu mau kemana, Clar?!" tanya mama yang heran melihat anak gadisnya yang bahkan jarang mandi tiba-tiba berdandan dengan begitu cantik. "Nyariin mama mantu biar Clara nggak ditanya kapan nikah mulu!" kata Clara sembari tersenyum. "Sip! Nyariin yang kaya sama mapan, ya." kata mama yang sedang duduk menonton televisi sembari mengangkat jempolnya. "Siap, mama! Clara pergi dulu, ya!" kata Clara sembari melambaikan tangannya. Mama kembali mengangkat jempolnya dengan mata yang masih fokus menatap layar televisi. Adegan sinetron yang mama lihat sedang mencapai puncak. Antagonis dalam ceritanya sudah berhasil dikalahkan. Jadi, mama tidak mau melewatkan adegan yang sudah lama dia tunggu ini. Clara berjalan dengan hati yang riang. Entah sejak kapan, semua hal yang dia lihat terasa begitu indah. Anjing tetangga yang selalu menggonggong saat melihat Clara terlihat lucu sekarang. Tempat sampah di ujung gang yang selalu mengeluarkan aroma yang lebih buruk dari bangkai terasa seperti aroma bunga. Apa ini yang namanya jatuh cinta? Atau, mungkin Clara terkena penyakit yang membuat mata dan hidungnya jadi tidak berguna? Entahlah, yang jelas Clara sedang senang sekarang. Jika kencan buta ini tidak berjalan seperti yang Clara mau, tidak masalah. Clara bisa mencoba kencan buta yang lain. Di dunia ini kan masih ada banyak pria yang bisa dia kencani. Salah satu dari mereka pasti adalah jodohnya. Jadi, Clara tidak perlu menyesal atau sedih jika kencan buta yang ini tidak berjalan sesuai harapannya. Semuanya akan baik-baik saja. Yang penting, Clara akan menemukan pasangannya dan menikah. Lalu, punya keluarga kecil dan hidup bahagia selamanya seperti dalam kisah dongeng yang biasa dia baca. Tapi, sayangnya Clara lupa, dia tidak hidup dalam buku dongeng. Dan, siapa yang menyangka kalau kencan buta ini akan benar-benar membawa Clara pada pasangannya. Tapi, di dunia yang berbeda. Clara melambaikan tangannya. Memberhentikan sebuah taksi berwarna putih. Clara membuka pintu belakang taksi dan duduk bersebrangan dengan sopir. "Ke resto caramellatte ya, Pak!" kata Clara. "Baik, mbak!" Sopir taksi itu menginjak pedal gas. Melesat di jalanan bersama kendaraan lain. Berhenti di depan lampu merah. Berbelok di perempatan dan pertigaan. Sampai, akhirnya tiba di tempat tujuan. Clara turun dari taksi setelah menyerahkan selembar uang kertas berwarna biru tua. Clara menatap restoran dengan gaya eropa di depannya. Langkah kaki Clara membawanya masuk ke dalam restoran. Siap atau tidak, Clara tetap harus masuk ke dalam. Dia sudah meminta Johan untuk meluangkan waktu untuknya hari ini. Jadi, Clara tidak boleh membuatnya menunggu terlalu lama. Lagipula, kesan pertama itu adalah hal yang penting. Jika Clara ingin dikenal sebagai gadis baik yang menepati janjinya dan datang tepat waktu, dia harus masuk sekarang! Clara menatap sekitar. Mencari sosok Johan di antara banyaknya orang yang ada. Clara sengaja tidak meminta bantuan resepsionis. Karena, Clara ingin mencarinya sendiri. Ini kan jodohnya. Jadi, biar Clara yang menemukannya dengan caranya sendiri. "Johan bilang dia pakai kemeja warna biru. Ada dimana, ya?" tanya Clara sembari menebarkan pandangannya ke segala arah. Bibirnya terangkat ketika melihat seorang pria dengan kemeja berwarna biru duduk tak jauh dari tempat Clara berdiri. Pria itu duduk dengan membelakangi Clara. Jadi, Clara tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Clara tidak tahu apa pria itu benar-benar Johan atau bukan. Tapi, hanya dia yang memakai kemeja biru di sini. Sekarang tinggal 10 menit sampai waktu janjian mereka tiba. Jadi, sudah pasti pria itu adalah Johan, kan? Clara kembali melangkahkan kakinya. Clara sudah memutuskan kalau pria yang dia lihat benar-benar Johan. "Hai, Johan! Maaf ya karena nunggu lama!" kata Clara dengan senyum manis dan mata yang tertutup. Sengaja. Biar wajah Johan jadi kejutan tersendiri untuknya. "Nggak apa, Clar! Ayo, duduk!" kata Johan. Clara tersenyum. Dengan kepala yang tertunduk, Clara duduk di hadapan pria itu. Entah kenapa, suara pria di depannya ini terdengar tidak asing. Clara merasa seperti pernah mendengarnya. Tapi, kapan dan dimana, ya? "Jadi, gimana kabar kamu, Clar?" tanya Johan. Deg! Kenapa pria yang baru pertama dia temui tiba-tiba menanyakan kabar seperti orang yang lama sudah tidak bertemu? Tapi, apa benar Clara belum pernah bertemu Johan sebelumnya? Clara mengangkat kepalanya. Kelopak matanya terbuka lebar. Bagaimana bisa?! Bagaimana bisa Clara melupakan suara pria yang menemaninya selama 3 tahun? Dan, bagaimana bisa Johan yang akan dikenalkan Kaysha padanya adalah mantan pacarnya? Terlebih lagi, kenapa Johan jadi semakin tampan dan kelihatan mapan?! Padahal dulu wajahnya biasa-biasa saja. Sama seperti kehidupannya. Clara tahu kalau Johan adalah penulis terkenal sekarang. Tapi, Clara tidak menduga kalau hal itu akan mengubah kehidupan Johan sampai seperti sekarang. Kenapa orang yang sudah menghilang selama 7 tahun tiba-tiba kembali? Apa Johan tahu kalau gadis yang dikenalkan oleh Kaysha adalah mantan pacarnya? Kalau Johan tahu akan hal itu, apa yang membuatnya datang kemari? Dan, kalau tidak, apa Johan akan tetap datang? Apa reaksi Johan saat mengetahui kalau mantan pacarnya melakukan kencan buta di usianya yang ke 25 tahun? Kaysha bilang kalau Johan sudah melajang selama 7 tahun. Apa yang membuatnya tetap melajang sampai selama itu? Apa karena Clara? Atau, karena dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya? Deg! Deg! Deg! Jantung Clara berdetak lebih cepat. Darahnya dipompa dengan begitu cepat ke seluruh tubuhnya. Nafas Clara tiba-tiba menjadi sesak. Johan yang menyadari keanehan itu langsung berseru panik, "Kamu kenapa, Clar? Clara?! Clara?! Kamu kenapa?!" Seluruh pengunjung restoran menatap Clara. Para pelayan restoran ikut panik. Salah seorang dari mereka langsung memanggil ambulance. Tapi, semuanya sudah terlambat. Clara sudah lebih dulu menutup matanya. Deg! Clara tiba-tiba terbangun. Dia terduduk di atas kasurnya yang begitu lembut. Tunggu?! Kasur?! Sejak kapan dia tertidur?! Clara menatap pandangan di sekitarnya. Keningnya berkerut. Tempat ini terasa aneh. Ruangannya begitu luas. Kasurnya juga sama. Dan, ornamen yang menghiasi tempat ini, entah kenapa seperti bernuansa kerajaan eropa. Ada dimana Clara sekarang? Clara turun dari kasurnya. Dia berjalan menuju pintu yang berada cukup jauh dari tempatnya berdiri sekarang. Begitu melewati sebuah cermin besar, Clara menghentikan langkahnya. Dengan gerakan yang begitu kaku, Clara memutar badannya. Manik matanya membulat. Clara benar-benar tidak percaya dengan apa yang dia lihat di dalam cermin itu. Rambut hitam Clara, entah kenapa berubah menjadi coklat muda. Manik mata coklatnya berubah menjadi biru tua. Gaun selututnya menghilang dan berganti menjadi gaun semata kaki yang dipenuhi berlian dan permata. Terasa begitu berat. Penampilan ini... Entah kenapa tidak terasa asing. Tok! Tok! Tok! Clara menatap pintu ruangan. "Nyonya Claramel, Tuan Duke mencari anda!" Deg! Claramel? Tuan Duke? Jangan bilang kalau Clara masuk ke buku novel yang ditulis mantannya?! Dia menjadi penjahat gila dalam novel?! Tidak! Ini mustahil!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN