Sial!
Brian langsung beranjak ketika mendengar kabar mengenai Arabella yang baru saja mengalami kecelakaan kecil. Walau tak berakibat fatal, tetapi tetap saja pria ini dilanda kepanikan yang mengurai fokusnya.
"Anaya, saya ada urusan penting di luar. Kemungkinan saya gak akan balik lagi ke kantor. Jika ada info apa pun, kamu bisa hubungi saya lewat email seperti biasa. Tolong sekalian handle pekerjaan saya ya, Naya! Terima kasih sebelumnya," lontar Brian berpesan. Setelah itu, ia pun seketika berlalu tanpa sempat memberi kesempatan bagi sekretarisnya untuk menyahut.
Melihat atasannya sepanik itu, Anaya pun merasa penasaran. Dia bahkan sampai mengernyitkan dahi saking keponya ia terhadap urusan Brian yang dikatakannya sangat penting itu. Namun meski begitu, Anaya tidak bisa banyak bertanya. Menyebabkan ia hanya mampu menghela napasnya panjang dan berusaha untuk menahan diri agar dirinya tidak sampai berkelanjutan merasa penasaran.
Sementara itu, Brian yang sudah sampai di basemen parkir pun segera saja memasuki mobil. Walau konsentrasinya sempat buyar, tapi sebisa mungkin Brian pun mengumpulkan kembali kefokusannya semata-mata supaya ia bisa tetap berkemudi dengan baik juga hati-hati.
"Gue gak habis pikir. Kenapa Bella bisa mengalami kecelakaan begitu, sih? Dan kenapa dia gak bilang dulu sama gue kalo dia mau bepergian. Di matanya, apa status gue emang bener-bener gak berarti? Padahal Bunda udah sering ingetin dia soal pentingnya meminta izin sama suami. Bukan malah seenak jidat pergi ke sana kemari, boro-boro bilang, alhasil apa yang dia dapat? Celaka, kan?"
Sepanjang jalan, pria itu tak berhenti mengoceh. Seolah sengaja, ia pun meluapkan unek-uneknya tanpa perlu ada yang mendengar. Agar ketika sesampainya ia nanti di lokasi tempat Arabella mengalami kecelakaan kecil, Brian pun tidak perlu lagi mengomel apalagi sampai memarahi sang istri merangkap adik sambungnya tersebut.
"Semoga dengan adanya kejadian ini, bisa membuat Bella menjadi paham bahwa kini statusnya sudah bukan gadis lajang lagi. Meski gue gak akan pernah melarangnya pergi ke mana pun, tapi tetap aja dia wajib bilang sama gue andai dia mau bepergian," celetuknya lagi masih belum habis. Sampai setibanya ia di lokasi yang alamatnya sudah sempat Arabella kirimkan, barulah ia berhenti dan sejenak menarik napasnya dalam-dalam sambil kemudian ia embuskan secara perlahan melalui satu desahan panjang.
Di depan sana, mini copper yang Brian kenali sedang dikerubungi oleh sejumlah orang yang kemungkinan sedang berniat membantu pengemudi mobil tersebut. Segera, setelah melepas sabuk pengaman yang membelenggu setengah tubuh, pria itu pun lekas beranjak turun dan buru-buru mengayunkan langkah kakinya menuju ke arah mini copper istrinya.
Sehingga ketika Brian tiba di dekat mobil, ia pun dapat melihat Arabella yang sedang mengompres bagian jidat entah menggunakan apa sembari duduk di dekat pohon di mana tak jauh dari keberadaan mobilnya.
"Bella!" Brian berseru. Dalam sekejap, menginterupsi orang-orang yang sedang anteng berkerumun sekaligus membuat mereka serempak menoleh ke sumber suara.
Menoleh, Arabella pun sempat meringis sebelum berinisiatif untuk berdiri. "Kakak," rengek gadis itu kemudian.
"Astaga! Gimana ceritanya kamu bisa kecelakaan kayak gini, Dek?" Pria itu berusaha membatasi pertanyaannya. Mengingat di sekitar mereka sedang banyak orang, Brian pun tidak mau menghujani Arabella dengan sejumlah pertanyaan yang hanya akan memperkeruh keadaan.
"Tadi aku lagi nyetir, terus ada kucing mau nyebrang. Hampir aja kelindes, tapi aku keburu banting setir. Eh, malah aku yang kejedot setir sampe jidat aku biru gini." Gadis itu bercerita sembari tak lupa memperlihatkan bagian keningnya yang terantuk setir.
Brian langsung bisa melihat bagian berwarna biru memar di kening sang gadis. Lalu setelahnya, ia pun merogoh ponsel dari dalam saku jas kerjanya dan mendial nomor seseorang yang sudah sangat dipercayanya.
"Halo, Malik! Lo lagi ribet gak? Kalo enggak, gue mau minta tolong, nih. Bisa gak lo dateng ke alamat yang bakal gue share lok ini?"
"..."
"Ya sekarang. Masa taun depan," gerutu Brian mendengkus. Sesekali, ia pun bantu meniupi kening Arabella agar mengurangi rasa sakit yang barangkali masih dirasakan oleh gadis itu.
"Oke! Tolong agak cepetan ya, Lik. Soalnya, gue harus segera bawa Bella ke klinik buat periksain jidatnya. Gara-gara kepentok setir mobil, jadi ada memar di jidatnya," ujar Brian sedikit menjelaskan. Kemudian, setelah Malik bersedia untuk dimintai tolong, barulah Brian memutus sambungan teleponnya seiring dengan ia yang kembali memperhatikan Arabella yang kedapatan masih sibuk meringis-ringis.
***
Sakitnya memang tak seberapa, tapi Arabella terkenal manja jika sudah bersangkutan dengan urusan diperiksa dokter.
Seperti yang terjadi sekarang. Ketika dokter sedang memeriksa keningnya yang memar, buru-buru saja gadis itu mencengkeram tangan Brian sekuat tenaga. Padahal, tidak akan disuntik juga. Tetapi dengan penuh dramatis, ia malah bersikap seolah dokter akan menyakiti kening cantiknya.
"Memangnya sesakit itu ya? Perasaan, gak sampe digetok juga kening kamu, Dek," bisik Brian tepat di telinga. Sehingga menyebabkan Arabella yang semula tengah memejam mata, secara refleks ia pun memicing di sela bibirnya yang mencebik.
"Ini hanya luka memar biasa saja, kok. Gak ada yang perlu dikhawatirkan. Memang kalau terantuknya cukup kencang, efeknya bisa sampai membiru. Sakit sedikit gak masalah, ya. Tapi kabar baiknya, luka ini gak seberapa. Nanti saya kasih salep untuk obat luarnya, ya. Semoga, gak sampai tiga hari, keningnya bisa kembali normal seperti sedia kala," tutur sang dokter berkacamata bingkai tipis memberi info.
Sesudah dirasa cukup, dokter bergender laki-laki itu pun lantas melenggang menjauhi sang pasien yang pada akhirnya bisa kembai bernapas lega.
"Syukurlah, Dok. Lukanya hanya ada di kening doang, kan, ya? Maksud saya, di tempat lain gak ada luka tambahan, kan?" Brian mencoba memastikan karena cukup khawatir kalau-kalau ada luka tersembunyi yang tak terdeteksi.
"Alhamdulillah iya. Sejauh saya memeriksa, tidak ada luka lagi selain yang di kening ini. Jadi, masih aman. Semoga nona ini bisa lebih berhati-hati ketika menyetir sendiri," ungkap sang dokter sembari mulai menuliskan beberapa resep yang kelak perlu ditebus.
Brian mengangguk paham. Minimal, ia sudah tidak panik lagi sekarang. Walau masih agak kesal dengan ke-sok-tahuan Arabella, tetapi paling tidak Brian sudah merasa jauh lebih lega sekarang.
"Resepnya tinggal ditebus di apotek, ya. Semoga gak ada luka susulan dan lekas sembuh, Nona Arabella," ucap dokter itu mendoakan.
Entah kenapa, mendengar ucapan sang dokter selembut itu, rasanya amat begitu risi di telinga Brian. Sehingga dengan sedikit sensi, ia pun buru-buru mengajak Arabella untuk segera beranjak dan meninggalkan ruangan dokter ber-name tag Bagaskara tersebut.
Seusai tak lupa berterima kasih, Arabella pun berhasil digiring Brian meninggalkan ruangan sang dokter. Sebelum pulang, ia pun harus mampir dulu ke apotek guna menebus obat yang sudah diresepkan oleh dokter Bagaskara.
"Kak Bri," panggil Arabella setelah keduanya sama-sama di luar ruangan.
Menoleh, pria itu pun lantas menatap sang gadis dengan sorot bertanya.
"Jangan bilang-bilang sama bunda atau papa, ya, kalo aku habis kecelakaan. Soalnya, kalo mereka tau, pasti aku bakalan dikasih ceramah panjang lebar lagi," cicit gadis itu merengut. Membayangkan dirinya diceramahi lagi oleh bundanya, sungguh Arabella tidak sanggup untuk melaluinya.
"Kakak gak bisa janji. Tapi tentunya, bunda sama papa pasti bakalan bisa lihat luka lebam di jidat kamu. Terus kalo mereka tanya, kamu mau jawab apa? Masa kamu mau bilang kalo itu hasil cupangan kakak," celetuk Brian tak tersaring. Menyebabkan Arabella melotot horor seiring dengan kepalan tangannya yang sontak meninju lengan atas sang pria.
"Nakal, deh, bahasanya. Sejak kapan juga Kak Brian jadi punya bahasa aneh kayak gitu. Inget, ya, Kak! Kita nikah bukan karena cinta. Jadi jangan bersikap seolah-olah kakak itu suami beneranku," celetuk Arabella telanjur polos. Sehingga setelah mendengar itu, untuk sepersekian detik hati Brian pun serasa mencelus.