MERASA BERSALAH

1111 Kata
Arabella berlari menaiki tangga. Kemudian sesampainya di depan pintu kamar, ia pun lekas mendorong pintu tersebut dan bergegas masuk diiringi dengan entakkan kakinya yang mengandung amarah. Selain itu, ia pun melempar tas kerjanya secara asal dan mengempaskan tubuh ke atas ranjang seraya menangis sesenggukan. Terang saja gadis itu merasa kesal setengah matang. Pasalnya, niat Arabella menikah bukan untuk mengabdikan diri sepenuhnya guna melayani suaminya apalagi sampai harus mengorbankan urusan karirnya. Tidak! Sejak ia setuju untuk menikah, Arabella tidak pernah berkeinginan resign dari pekerjaannya meski ia sudah berstatus istri. Justru bersama Gilang, dia sudah sepakat untuk tetap lanjut berkarir di tengah ia yang sudah memiliki suami. Toh, Gilang juga kala itu setuju-setuju saja. Dia bahkan tidak mengharuskan Arabella setiap saat melayaninya. Maka dari itu, Arabella pun siap saat diharuskan menerima pinangan Gilang untuk kemudian menjalani biduk rumah tangga bersama pria itu. Akan tetapi, siapa sangka jika Gilang malah akan mengkhianatinya. Tanpa mengabari atau memberi alasan yang jelas, dia pergi di hari H mereka melangsungkan akad nikah. Andai saja ada pilihan yang lebih baik dibanding harus lanjut menikah dengan kakak tirinya, maka Arabella memilih untuk tetap melajang saja apabila dengan tak jadinya ia menikah pun nama baik dirinya serta keluarganya tidak akan sampai tercemar Gadis itu masih terus menangis ketika pintu terdengar diketuk oleh seseorang di luar sana. Namun, walau Arabella mendengarnya, tetapi ia merasa malas untuk sekadar bertanya apalagi berseru pada si pengetuk. Walhasil, Arabella pun memilih tetap menangis saja daripada harus repot mencari tahu siapa pengetuk tersebut. Merasa tak ada juga yang menyahut, si pengetuk pintu pun lantas berinisiatif mendorong pintu secara perlahan. Rupanya tidak terkunci, membuat ia lantas kembali melebarkan pintu seiring dengan kepalanya yang menyembul sekaligus mengintip keadaan di dalam kamar dari balik posisinya berdiri sekarang. "Kakak izin masuk ya, Dek!" Sesudah berkata demikian, sosok yang tak lain adalah Brian pun langsung saja melangkah masuk meski si empunya kamar tak berminat menyahut. Brian beringsut mendekat dan memilih duduk di lantai saja. Sembari menyandarkan punggungnya ke pinggiran ranjang, ia lantas berkata, "Kalo ada perkataan Bunda yang bikin kamu sampe menangis begini, maka mewakili beliau Kakak minta maaf sama kamu ya, Dek. Kakak ngerti, kamu menangis seperti ini pasti bukan tanpa alasan. Tapi kalo disuruh menebak penyebabnya apa, ya tentu Kakak angkat tangan. Secara, Kakak, kan, bukan cenayang. Jadi, ya mana kakak tau kamu nangis karena apa. Kalo memang kamu berkenan buat cerita, kakak siap, kok, buat tampung curhatan kamu. Sebaliknya, semisal kamu kepenginnya nangis tanpa cerita sedikit pun, ya berarti kakak bakalan stay di sini dan pilih buat bolos kerja aja. Tenang, kakak gak bakalan larang kamu buat nangis, kok. Lanjut aja sampe kamu ngerasa lega." Selalu saja Brian bertutur dengan bijak. Meski rasa penasaran sudah merundung diri sejak ia masih duduk di kursi makan, tetapi Brian bukan tipikal pemaksa yang akan menuntut lawan bicaranya untuk bercerita. Seberjalannya saja, pikir Brian. Dengan begitu, ia pun tidak akan memaksakan kehendak seseorang yang memang belum bersedia untuk bercerita. Namun tetap saja, walaupun konsepnya Arabella hanya ingin menangis sampai dirinya merasa puas sendiri, Brian bertekad untuk tidak meninggalkannya sampai Arabella yang mengusirnya nanti. "Kalo kamu gak keberatan, kita pergi bulan madu aja gak, sih? Ya hitung-hitung supaya kamu gak jenuh aja kalo harus diam di rumah terus selama masa cuti masih berlangsung. Kakak, sih, gampang. Tinggal ajukan cuti juga pasti langsung papa acc. Secara, bos besarnya, kan, papa kita juga. Ya, masa dipersulit," cetus Brian punya ide. Dalam sekejap, hal itu pun membuat Arabella menoleh kesal. "Kak Brian lagi ngolok aku? Sama sekali gak ngerti juga penyebab aku marah karena apa?" Mengerjap polos, Brian pun menggeleng dan berkata, "Kalo kakak tau, ya, buat apa kakak dateng ke sini dan nanya sama kamu. Makanya, kalo ada apa-apa tuh ya dibicarain aja dulu. Bukan malah langsung pergi dan nangis kayak gini. Memangnya apa yang bikin kamu marah? Cerita, dong. Biar kakak juga gak sok tau semisal kamu udah jelasin ini itunya secara rinci." Arabella merengut. "Sejak dulu, aku tuh gak kepikiran buat berhenti kerja walau udah nikah. Terus tadi, dengan entengnya bunda bilang kalo aku harus mengutamakan suamiku dibanding karirku sendiri. Emangnya hidup aku itu bakalan seputar suamiku aja? Ya memang aku tau kalo setelah menikah dan berstatus sebagai istri, aku bakalan harus melayani suamiku. Tapi apa harus setiap saat? Aku pun perlu punya aktivitas lainnya, kan? Bukan berarti dengan menikah aku membelenggu diriku sendiri. Tentu aja aku gak mau dikekang, Kak. Sebab dulu pun Gilang udah setuju semisal aku tetap kerja walau kami udah nikah," lontar Arabella dengan suara serak. Membeberkan segala keluh kesahnya dan berharap agar Brian mengerti bahkan juga menyetujui keinginannya. Sesantai mungkin, Brian pun menoleh ke sumber suara. Mencoba tak mengimbangi emosi sang gadis yang menggebu-gebu. Untung Brian sudah cukup lihai dalam menyikapi sifat Arabella yang suka sekali berapi-api ketika sedang marah maupun kesal. Sehingga tanpa perlu ikut emosi, ia pun hanya perlu menanggapi serentetan keluh kesahnya dengan pikiran yang terbuka. "Oh, jadi, itu masalahnya," sahut Brian manggut-manggut. "Kamu bebas, kok, dalam menentukan pilihanmu. Kamu mau lanjut kerja, oke. Mau stay di rumah sebagai istri pasif pun kakak gak masalah. Tapi ada baiknya, ketika bunda atau papa lagi bicara serta menasihati kamu, janganlah langsung pergi gitu aja. Mereka mungkin mencoba memberi wejangan terbaiknya untuk kamu yang baru aja memasuki kehidupan pernikahan itu karena mereka sayang dan peduli. Justru, kalo mereka gak sayang, maka tentu mereka gak perlu repot-repot memberimu petuah. Ya paling dibiarin aja kamu mau bersikap gimana-gimana pun. Tapi saran kakak, kamu akan terlihat jauh lebih sopan apabila orang tua sedang atau bahkan masih berbicara, kamu justru harusnya diam aja, mendengarkan. Terlepas dari kamu yang akan mengikuti saran mereka atau abai, ya itu kembali lagi pada keputusanmu. Cuma ya gitu, Dek. Setelah menikah, kamu memang harus lebih belajar untuk bersikap dewasa. Bukan masanya lagi bagi kamu bersikap sesuka hati. Pun, saat kamu mau pergi keluar. Ada baiknya, kamu izin dulu sama kakak. Biar kakak tau, kamu mau ke mana dan pergi dengan siapa. Karena kalo kamu gak izin dulu sama kakak, nanti semisal kamu ada apa-apa di jalan, kakak gak bakal tau kalo kamu lagi kesulitan. Itulah sebabnya, dianjurkannya seorang istri meminta izin pada suaminya ketika akan pergi keluar. Supaya si suami tahu dan bisa memprediksi perihal kapan dan dengan siapa istrinya akan pulang nanti," urai Brian tak lelah memaparkan. Mencoba mendikte sang istri agar ia tidak melulu bersikap seenak jidat setelah ia menjadi seorang istri. Arabella terdiam di tengah cebikan bibirnya. Walau rasa kesal belum sepenuhnya padam, tetapi jika dipikir secara matang, perkataan Brian tidak juga bisa disalahkan. Justru, apa yang sudah pria itu utarakan memang benar semua. Membuat Arabella berbalik malu, sehingga ia tak mampu berkutik di tengah rasa kesal yang kemudian mendadak berubah menjadi rasa bersalah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN