TAK SETEGAR BATU KARANG

1182 Kata
Brian berjalan cepat sembari diimbangi oleh rasa kesal seturunnya ia dari dalam mobil yang sempat dikendarainya selama perjalanan dari rumah ke tempat kerja. Kepalanya terasa penuh pasca tak sengaja mendengarkan segelintir percakapan yang dibincangkan oleh Arabella dan bundanya tadi sewaktu ia tak sengaja melewati dapur. Entah kenapa, mendengar Arabella yang meminta untuk supaya bercerai saja padahal usia pernikahannya baru hitungan hari, hati Brian pun serasa dipelintir sehingga menimbulkan rasa nyeri yang tak keruan. Membuat si pria mendadak tak bersemangat walau tetap saja ia harus memaksakan diri untuk pergi bekerja. "Selamat pagi, Pak Bri!" Setiap karyawan yang dilewatinya tak lupa menyapa dirinya meski tak jarang Brian hanya mengangguk kecil saja sebagai perwakilan dari sahutannya. Mengingat hati beserta pikirannya sedang semrawut, maka Brian pun hanya ingin segera tiba saja di ruangannya. Tidak peduli pada setiap sapaan yang didapat, yang Brian inginkan adalah ia harus buru-buru sampai ke dalam ruang pribadinya agar ia bisa segera merenung sendiri. Sampai pada saat Brian sudah mendekati ruangannya, tahu-tahu, ia pun diberhentikan oleh seruan suara cempreng yang berasal dari mulut sekretarisnya. "Mohon maaf tunggu sebentar, Pak Brian. Sebelum Bapak masuk, ada sejumlah info penting yang perlu Anaya sampaikan kepada Bapak," Sembari mengadang langkah atasannya, perempuan bertubuh mungil dengan rambut sepunggung digerai pun tampak berhasil menghentikan pergerakan langkah pria tersebut. Lantas tak lama dari diberhentikannya ia oleh sang sekretaris, Brian pun lalu mengarahkan tatapan datarnya kepada si perempuan di hadapannya. "Info apa, Naya? Bisa dipersingkat aja gak? Saya udah gak tahan kepengin selunjurin kaki," celetuk Brian sekenanya. Seperti biasa, dia memang suka sekali berlontar iseng kepada sekretarisnya yang juga hobi bergurau. Untuk sesaat, Anaya pun merengut. Tetapi selanjutnya, ia sigap meraih gadgetnya dan men-scroll layar tab yang ia pegang guna membacakan beberapa agenda penting yang perlu atasannya ketahui. "Pukul sepuluh nanti, Bapak ada jadwal meeting dengan klien lama di ruang meeting khusus general manager. Satu jam setelahnya, bapak ada pertemuan penting dengan relasi dari luar kota yang bertempatkan di sebuah kafe tak jauh dari kantor. Terakhir, seusai makan siang, bapak diminta menghadap Pak Dirut di ruangannya. Katanya, sih, ada hal penting yang mau dibicarakan. Sekiranya, itu tiga berita penting yang perlu bapak ingat dan lakukan di sepanjang hari ini," urai Anaya lugas. Sesudahnya, perempuan berlesung pipi satu itu pun menurunkan gadgetnya lagi seiring dengan memasang senyuman lebarnya yang sudah menjadi ciri khasnya setiap kali selesai membacakan agenda sang atasan. Sejenak, Brian pun tertegun. Hingga di detik selanjutnya, ia pun sontak berkata, "Kira-kira, papa saya kasih kamu kisi-kisi gak tentang apa yang bakal dibicarakan nanti sama saya? Soalnya gak tau kenapa, kok, tiba-tiba aja saya jadi ketar-ketir gini ya kayak yang mau dikasih soal ujian." Entah Anaya harus merespon perkataan si atasan dengan gaya apa. Sebab setelah mendengar setiap kata yang baru saja diucapkan oleh Brian, tahu-tahu saja Anaya refleks mendengkus. "Kisi-kisi dari Hongkong! Lo tanyain aja sana sendiri sama yang bersangkutan. Udah ah, mending Anaya balik kerja," damprat perempuan itu mendelik sebal. Gara-gara ditanya soal kisi-kisi oleh Brian, alhasil Anaya pun jadi lepas kendali sampai ia menunjukkan watak aslinya di depan atasan merangkap sahabat sejak kecilnya tersebut. Brian tergelak renyah. Merasa sangat puas karena sudah membuat sekretarisnya sedongkol itu. Padahal, biasanya juga ia yang berhasil dibuat dongkol Anaya. Tetapi pagi ini, justru malah Brian yang berada di atas angin. "Kerja yang giat ya, Nay! Sori kalo saya udah bikin kamu dongkol," ujar Brian kemudian. Setelah sempat menertawakan reaksi sang sekretaris yang dirasa lucu, Brian pun lanjut melangkah dengan suasana hati yang tak sesemrawut sebelumnya. *** Sesuai agenda yang sudah Anaya infokan, rupanya Brian benar-benar menjalani rutinitasnya tanpa lelah. Seantusias biasanya, ia pun melaksanakan sejumlah peranannya sebagai seorang General Manager di perusahaan sang papa. Padahal, dulu Brian sempat menolak dan lebih memilih untuk bekerja di perusahaan lain saja hanya demi ingin mandiri. Tapi ternyata, bujukan papanya terlalu membuat Brian tak bisa menolak. Sehingga mengharuskan ia untuk menerima penawaran sang papa yang pada akhirnya bisa dijalaninya dengan baik dan bertanggungjawab. Brian baru saja selesai menuntaskan makan siangnya ketika tiba-tiba ia diberi tahu Anaya bahwa Direktur Utama sudah ada di luar ruangannya. Padahal, Brian bisa langsung menuju ruangannya tanpa perlu membuat papanya repot-repot untuk datang menghampirinya. Namun sudah terlambat, karena ternyata, Alex telah lebih dulu mendorong pintu ruangan sang GM setelah beberapa detik ia dikabari sekretarisnya. "Ya ampun, Pah. Padahal Brian baru aja mau on the way ke ruangan Papa. Kenapa harus repot sampe nyamperin ke ruangan Brian segala, sih, Pah? Gak bisa sabar sedikit, ya," gerutu pria itu tak habis pikir. Disusul dengan ia yang segera menghela papanya agar berkenan duduk di sofa khusus yang memang disediakan untuk menerima tamu dari luar yang ingin berbincang lama dengannya. "Gak masalah. Mau kamu yang ke ruangan Papa atau sebaliknya pun Papa rasa itu bukan masalah besar. Kebetulan Papa lagi santai aja, makanya Papa sengaja samperin kamu ke sini. Sambil sekalian iseng cek situasi di lantai sini. Dan ternyata, para karyawannya rajin-rajin semua ya, Bri," tutur Alex seraya mendudukkan diri di sofa single yang sudah anaknya persilakan. "Tentu, dong, Pah. Anak buah Brian emang gak pada neko-neko. Justru, mereka adalah tim solid dan terpercaya. Itulah kenapa Brian makin semangat setiap kali masuk kerja. Ya walaupun tadi sempat suntuk, sih, tapi karena melihat para pegawai yang antusiasnya sangat tinggi, masa Brian harus kalah sama karyawan Brian sendiri," ucap pria itu penuh semangat. Melihat itu, Alex pun tampak gembira karena putranya sudah jauh lebih percaya diri dibanding awal-awal ia menjabat dulu. "Anyway, Bri. Papa bertamu ke ruanganmu gak dijamu, nih?" Tersentil, Brian pun sontak menepuk dahi dan spontan beranjak untuk menelepon sekretarisnya. Alex pun hanya terkekeh geli tatkala melihat anaknya yang kelabakan gara-gara diminta menjamu keberadaannya yang terbilang cukup langka mengingat lantai direktur utama ada di paling atas, sementara ruangan putranya ada di lantai pertengahan. "Anaya lagi siapin kopi kesukaan Papa tuh. Oh ya, omong-omong, kata Anaya Papa mau menyampaikan sesuatu ya sama Brian? Kalo boleh tau, memangnya Papa mau bicarain apa? Kok, dibicarainnya gak pas di rumah aja," lontar sang pria tak suka berbasa-basi terlalu panjang. Alex hanya manggut-manggut di tengah ia yang menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa. Sebelum kembali bersua, ia pun sempat termenung beberapa detik lamanya. Hingga pada detik berikutnya, barulah paruh baya tersebut berucap lagi. "Bagaimana perasaanmu setelah keinginanmu terpenuhi? Sekarang, kamu percayakan kalau Tuhan itu Maha Baik? Lantas, masihkah kamu ingin menyalahkan bahwa Tuhan gak pernah adil? Justru Tuhan selalu tahu tepatnya kapan ia mengabulkan doa seorang hamba yang taat pada aturan-Nya. Terbukti, kan? Setelah sekian lama kamu meminta, akhirnya impianmu kesampaian juga. Lalu, apa rencanamu di kemudian hari?" Alex menatap serius putra sematawayangnya. Mencoba menuntut jawaban atas apa yang baru saja ia tanyakan kepada kloningannya tersebut. Alih-alih menjawab, Brian rupanya malah mendesah berat seiring dengan kepalanya yang tertunduk lesu. Seolah memberi petunjuk pada sang papa bahwa dirinya belum sepenuhnya mendapat apa yang dia mau. Mengharuskan Alex sontak mengernyit heran di tengah Brian yang kemudian berkata, "Memangnya Brian kurang apa ya, Pa? Dibanding lelaki itu, bukankah Brian udah cukup mumpuni dalam segala hal." Sesudah berkata demikian, ia pun refleks mengerang dan meluapkan seluruh amarahnya kepada sang papa. Menyebabkan Alex agak kewalahan karena tanpa disangka hati putranya ini tak setegar batu karang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN