Kanya tersentak dari lamunannya saat mendengar ketukan dari pintu. Air di bathtub sedikit tumpah ke lantai saat ia bergerak. "Ada apa?" tanyanya sedikit berteriak.
"Aku membawakan pakaian ganti untukmu. Aku akan meletakkannya di depan pintu."
"Iya, terima kasih."
Setelah mendengar langkah kaki yang menjauh Kanya menyudahi mandinya. Ia keluar dari bathub dan meraih handuk yang tersedia di sana. Berendam selama beberapa menit cukup membuat kulit putihnya menjadi lembut dan segar kembali.
Ditatapnya pantulan tubuhnya yang hanya dibalut handuk sebatas paha di depan cermin. Rambut hitam sepunggungnya yang basah tergerai sedikit berantakan menutupi wajah cantiknya. Tangan kanannya bergerak merapikan rambutnya sementara tangan kirinya menggenggam erat tautan handuk di depan dadanya.
Mata bulatnya yang bersinar tampak sedikit memerah akibat menangis beberapa jam yang lalu. Sedang bibir semerah cerry-nya masih tampak pucat akibat berendam cukup lama.
Beberapa jam yang lalu ia hampir saja menjadi wanita simpanan debt kolektor tua. Atau paling buruknya, ia hampir saja kehilangan nyawanya. Beruntung ia bertemu dengan orang baik yang bersedia menolongnya. Jika tidak, mungkin ia sudah menjadi mayat saat ini.
Ia tidak menyangka laki-laki bernama Dimas itu akan membawanya ke rumahnya dan membiarkannya tinggal untuk sementara waktu.
Ia membuka pintu sedikit untuk mengambil pakaian ganti yang disiapkan Dimas untuknya. Sebuah kaos lengan panjang dan celana training. Untuk pakaian dalam ia bisa memakai kembali pakaian dalam yang ia gunakan tadi. Diletakkannya pakaian tadi di samping wastafel dan mulai memakai bajunya.
***
Dimas sedang menyiapkan makan malam saat Kanya menghampiri laki-laki itu. Bisa Kanya lihat ada banyak makanan yang tersaji di atas sana. Masih hangat dan menyebarkan aroma harum yang menggugah selera
Dimas yang menyadari kehadirannya menoleh dengan senyuman. "Sudah selesai?" Kanya mengangguk. "Aku yakin kau pasti lapar. Duduklah, kita makan bersama."
Sekali lagi Kanya hanya mengangguk. Ia duduk di kursi yang berhadapan dengan Dimas sambil menunggu laki-laki itu menyendokkan nasi ke dalam piringnya. Ia mengucapkan terima kasih saat Dimas menyerahkan piring berisi nasi dan lauk pauk untuknya.
"Bagaimana bajunya? Maaf, aku cuma bisa menyediakan itu. Bajuku yang lain terlalu besar."
Kanya mengangkat wajahnya menatap Dimas yang ternyata juga sedang menatapnya. Laki-laki itu tersenyum dengan mata teduhnya. "Memang sedikit kebesaran, tapi tidak apa-apa. Ini saja sudah nyaman."
"Baguslah." Dimas kembali menyantap makanannya.
Kanya juga mulai menyantap makanannya. Rasa hangat nasi yang melewati tenggorokannya membuatnya baru sadar betapa ia sangat kelaparan saat ini. Ia baru ingat belum mengisi perut sejak pulang dari tempat kerjanya. Kembali ia teringat dengan ayam gorengnya yang tergelatak begitu saja di lantai rumahnya saat ini.
Teringat soal rumahnya mendadak membuatnya sedih. Rumah itu sudah bukan miliknya lagi. Ia sudah tidak punya tempat tinggal sekarang. Bukan hanya itu ia juga tak punya baju dan ponsel satu-satunya tertinggal di rumahnya. Ia benar-benar tak punya apa-apa selain dirinya sendiri saat ini.
Ia juga tidak mungkin kembali ke tempat kerjanya di saat ia yakin para debt kolektor itu masih mencarinya. Ia tak ingin membahayakan orang-orang terdekatnya. Cukup hanya ia yang merasakan penderitaan ini.
Tak terasa air mata mengalir di pipinya. Kehidupannya yang normal mendadak hancur hanya dalam kurun waktu semalam. Saat ia mengingat kembali waktu di mana ia meminta tolong pada tetangganya membuat dadanya sesak. Sebegitu tidak pedulinya kah mereka terhadap keadaannya?
Bahkan di saat mereka tahu bahwa nyawanya bisa jadi dalam bahaya. Bukannya menolongnya mereka malah memalingkan wajah dan menganggapnya tak ada. Padahal selama ini ia selalu berusaha untuk menjalin hubungan yang baik dengan tetangganya.
Ia selalu mendahulukan kepentingan mereka daripada kepentingan dirinya sendiri. Namun, yang ia dapat tak sesuai dengan yang ia pikirkan. Mereka bersikap baik di hadapannya selama ini hanya untuk menarik simpatinya. Mereka bahkan tidak pernah menganggapnya sebagai bagian dari mereka. Ia sadar ia terlalu naif selama ini.
"Ada apa? Kenapa kau menangis? Apa ada yang sakit?" Dimas menghampirinya dan berjongkok di sampingnya. Mata teduhnya benar-benar menampilkan kekhawatiran yang besar terhadapnya. Padahal ia hanya orang asing bagi laki-laki itu. Meskipun begitu ia memperlakukan Kanya seperti bukan orang asing yang baru ia temui malam ini.
Kanya menggelengkan kepalanya sembari menghapus air matanya yang tak berhenti mengalir. "Aku tidak apa-apa," ujarnya di tengah isakan kecilnya.
"Apa maksudmu? Kau pikir aku percaya dengan ucapan itu melihat keadaanmu seperti ini?" Dimas menarik tangan Kanya dan menghapus air mata gadis itu dengan lembut. Ia tersenyum, senyum yang cukup menenangkan hati Kanya yang gelisah tak karuan saat ini. "Aku tahu aku cuma orang asing di matamu. Tapi aku harap sedikit beban di hatimu bisa hilang dengan menceritakannya padaku. Itu lebih baik daripada memendamnya sendirian, kan?"
Kanya tak kuasa menahan air matanya mengalir semakin deras lagi. Kedua tangannya bergerak memeluk leher laki-laki itu dan memeluknya dengan erat. Menumpahkan segala isi hatinya dan beban yang ia tanggung saat ini. Sementara Dimas mendengarkan dengan seksama sambil menepuk punggungnya untuk menenangkannya.
***
Dimas membaringkan tubuh ringkih Kanya di atas ranjangnya. Diselimutinya gadis itu sebatas d**a dan duduk di pinggir ranjang. Mata teduhnya tampak tak bercahaya memandangi wajah terlelap Kanya.
Setelah puas menumpahkan segala keluh kesahnya, gadis itu jatuh tertidur dalam pelukannya. Itu wajar mengingat kejadian yang baru saja gadis itu alami. Beruntung mereka lewat di saat gadis itu membutuhkan pertolongan.
Teringat kembali saat ia bertemu gadis itu dengan keadaan berantakan dan memohon padanya untuk diselamatkan dari orang-orang yang berusaha membunuhnya. Ia mengusap wajahnya dengan kasar sebelum kembali menatap wajah Kanya yang tertidur pulas.
Tangannya bergerak mengusap pipi gadis itu sebelum menggumamkan kalimat selamat malam dan beranjak dari sana.
***
Kanya menggeliat kecil di balik selimut saat cahaya mentari pagi menerpa wajahnya. Saat ia membuka matanya, ia bisa melihat pemandangan langit biru di balik jendela kaca yang berada persis di depan ranjangnya.
Setelah kesadarannya sudah kembali ia segera mendudukkan dirinya dan melihat sekeliling. Ia tidak ingat bagaimana ia bisa tertidur di dalam kamar ini. Karena seingatnya ia sedang menangis di pelukan Dimas. Mendadak pipinya memanas mengingat kejadian itu. Mereka adalah orang asing satu sama lain, tapi ia malah dengan entengnya memeluk laki-laki itu dan menangis seperti anak kecil.
Ia turun dari ranjang dan merapikannya. Ranjang itu sangat besar bila dibandingkan dengan ranjangnya di rumah. Setelah selesai ia keluar dari kamar dan tak menemukan siapa pun. Hanya kesunyian yang menyambutnya di apartemen mewah nan luas itu.
Ia berjalan menuju dapur saat hidungnya mencium wangi makanan. Dapat ia lihat di atas meja sudah tersaji beberapa potong sandwich dan sepiring omelette, serta secangkir cokelat yang masih mengepulkan uap panas.
Matanya kemudian tertuju pada secarik kertas yang diletakkan di sudut meja. Ia bisa membaca dengan jelas kalimat yang tertulis di sana.
Dimas
Selamat pagi.
Aku sudah menyiapkan sarapan untukmu. Maaf tidak bisa menemanimu karena harus berangkat ke kantor pagi-pagi.
Selamat makan dan semoga pagimu menyenangkan.
Jangan sungkan dan anggap saja seperti di rumahmu sendiri.
Kanya tersenyum sambil meletakkan kembali kertas itu di atas meja dan mulai menyantap sarapan paginya. Sedikitnya ia bisa sadari bahwa kehangatan perlahan-lahan mulai mengaliri tubuhnya. Ia beruntung bisa bertemu dengan laki-laki baik seperti Dimas.
***