Kinan berusaha duduk dengan tenang. Di depannya ada Dania dan Pras yang duduk dengan menatapnya. Tatapan keduanya begitu menusuk. Bukan pandangan meremehkan, namun Kinan tahu itu juga bukan tatapan suka. Seperti ada kekecewaan diantara keduanya. Mungkin karena mereka juga tidak menyangka ini akan terjadi. Lagipula jika bisa memilih siapa yang ingin menikahkan putra sendiri dengan seorang janda, apalagi dirinya yang baru bercerai dan masih memiliki permasalahan rumit. "Andra bilang kamu setuju menikah?" tanya Dania. Kinan mengangguk. "Ya, tapi saya gak mau pernikahan yang mewah, tidak perlu dirayakan." Dania menaikan alisnya menatap Kinan dengan tak suka usulan dari Kinan. "Saya mengerti kamu mungkin malu karena ini pernikahan kedua. Tapi bagaimana dengan Andra? Ini pernikahan pertamanya

