*Keesokan harinya*
Mama kembali mendatangi kamarku dan berusaha untuk membangunkan anak bungsunya ini.
Di dalam selimut, aku terus berpikir untuk mencari alasan agar tidak berangkat ke sekolah lagi.
“Alena? Sayang? Bangun, Nak. Kamu udah sembuh kan?”
Sambil membuka selimut perlahan dari wajah, Mama menatapku. Dipegangnya dahi serta pipiku untuk mengecek suhu tubuh.
“Udah nggak apa-apa, kok. Ayo cepat bangun, nanti kamu kesiangan.”
“Ma, tunggu..”
Aku menarik pergelangan tangan Mama yang hendak beranjak dari kasur. Mama pun kembali duduk. Dengan senyumannya, ia merapikan beberapa helai rambut yang menghalangi wajahku.
“Ada apa, Sayang?”
“Ma, Alena mau ngomong sesuatu.”
“Apa coba, Mama mau denger.”
“Alena.. Alena mau kembali sekolah Homeschooling.”
“Loh, kenapa? Bukannya Alena betah sekolah di tempat baru itu?”
“Betah, tapi Alena lebih nyaman Homeschooling.”
“Kenapa? Dua teman Alena itu ngejahatin Alena?”
Aku menggeleng.
“Enggak, Ma. Feli dan Gaby malah baik banget sama Alena.”
“Terus kenapa? Teman yang lain ada yang jahatin kamu?”
“Enggak juga. Alena cuma mau balik ke Homeschooling aja.”
Sambil kembali mengukir senyum di wajah cantiknya, Mama mulai lebih mendekatkan jarak duduknya denganku.
“Sayang, Mama pindahin kamu ke sekolah formal itu karena Mama mau kamu tumbuh dan bersosialisasi sama teman-teman seusia kamu. Sekolah Homeschooling ngebuat kamu jadi kesulitan untuk bergaul. 9 tahun Mama besarkan Alena, Mama gak pernah liat Alena bawa teman ke rumah, main bareng sama teman seusia Alena. Sementara Kak Arshad sama Kak Gibran asyik bermain sama teman-teman seusianya. Mama gak mau Alena gak punya teman. Tapi semenjak Alena pindah ke sekolah formal, untuk pertama kalinya Alena izin pergi ke acara ulang tahun teman, dan untuk pertama kalinya juga ada teman sekelas yang jenguk Alena waktu Alena sakit kemarin.”
“Surya? Kok Mama tau kalau Surya ke sini?”
“Tau, dong. Tante Adhisty telepon Mama, dia nanyain Surya udah sampai di rumah kita atau belum. Karena Mama lagi gak ada di rumah waktu itu, jadinya Mama hubungin Bi Sari dulu buat mastiin kalau Surya udah sampai. Surya sebangku sama kamu kan?”
“Iya, Ma.” jawabku sambil mengangguk.
“Kasian Surya kalau harus duduk sendirian di kelas. Dia anak yang baik, loh! Mama liat-liat juga kayaknya kalian akrab.”
‘Apanya yang akrab?’ batinku dalam hati.
“Dijalanin dulu ya, Sayang. Pelan-pelan, Mama tau ini sulit untuk Alena yang terbiasa Homeschooling selama dua tahun. Apalagi, Alena juga gak pernah main dan jarang banget komunikasi sama orang lain selain keluarga ini. Tapi, nanti lama kelamaan juga Alena bakalan terbiasa, bahkan Alena akan punya teman yang jumlahnya lebih banyak dari teman-teman Kak Gibran atau Kak Arshad. Jadi, sekarang cepat mandi, ya? Dan berangkat ke sekolah. Apa mau Mama anter?”
“Gak usah, Ma.”
“Ya udah, sana mandi. Mama tunggu di meja makan ya?”
“Iya, Ma.”
Sambil mengelus kepalaku dengan lembut, Mama melangkahkan kakinya keluar dari kamarku.
Andai aku mudah memberi tahu jika selama ini yang aku dapatkan di sekolah formal adalah bully-an, mungkin Mama akan sangat setuju ketika aku meminta untuk dikembalikan ke Homeschooling. Kak Gibran, Kak Arshad, jelas mereka tidak akan pernah merasakan kesulitan dalam bergaul. Bahkan orang-orang di luar sana saja saling berlomba untuk dapat menjadi teman dekat mereka. Sementara aku? Menawarkan diri secara cuma-cuma pun belum tentu ada yang menerimaku, kecuali Feli dan Gaby.
***
Setelah berpamitan dan beranjak keluar dari mobil, aku mencoba berjalan masuk ke area sekolah. Dengan tarikan napas panjang, aku berusaha menenangkan serta memberanikan diri untuk menghadapi segala sesuatu yang akan terjadi hari ini.
“Weh, udah masuk nih.” ujar seseorang dari arah belakang yang tanpa menoleh pun suaranya sudah dapat kukenali.
“Berisik! Kenapa sih setiap gue jalan mau masuk ke kelas selalu ketemunya sama lo?!”
“Mana gue tau, pasti lo sengaja kan biar bareng sama gue masuk kelasnya?”
“Dih, pede banget lo!”
“Nih, bawain tas gue.”
Surya melepaskan ranselnya dan menyerahkannya padaku. Tapi, aku kembali melempar ransel itu ke pelukannya.
“Enak aja! Hukuman jadi asisten lo udah kelar ya!”
“Udah kelar? Cepet amat.”
“Pas acara di rumah Chelsea itu hari terakhir gue jadi asisten lo.”
“Kan belum dua minggu.”
“Eit, lo lupa kalo lo memperpendek hukuman gue jadi cuma seminggu?”
“Ya udah sih bawain aja, nanti lo kangen loh jadi asisten gue.”
“Ngarep!”
Aku pun mempercepat langkah dan meninggalkannya untuk menuju ruang kelas terlebih dahulu.
Saat berhasil melangkah masuk ke dalam kelas, Chelsea yang sudah terduduk di kursinya mulai beranjak menghampiriku yang hendak berjalan menuju kursi.
“Alenaaaaa.. kenapa kemarin gak masuk?” tanyanya ketika aku sudah berhasil duduk.
“Gak apa-apa, kok. Cuma flu.”
“Syukurlah. Eh by the way gue minta maaf ya soal kemarin, gue gak bermaksud bikin lo malu loh.”
“Iya, gak apa-apa kok, Chel.”
“Sebagai tanda permintaan maaf gue, gimana kalau nanti pulang sekolah lo ikut Tere dan Bianca main ke rumah gue? Mau, ya?”
“Gak bisa! Alena ada janji sama gue.” timpal Surya yang baru saja datang.
“Ya udah, kalo gitu lo juga ikut aja ke rumah gue.”
“Gak bisa, gue sibuk.”
Dengan wajah jengkel, Chelsea kembali berjalan menuju tempat duduknya.
Tak lama kemudian Feli dan Gaby berjalan beringingan masuk ke dalam ruang kelas. Ketika menyadari jika aku sudah terduduk di kursi, keduanya langsung berlari menghampiriku dengan senyuman.
“Alenaaaaa!!! Ya ampun, kamu sakit apa kemarin?” tanya Gaby.
“Cuma flu biasa aja kok, Gab.”
“Tapi sekarang kamu udah gak apa-apa, kan?”
“Aman kok, tenang aja.”
“Syukurlah kalau gitu.”
“Maaf ya Al kita kemarin gak sempat jenguk, soalnya kita gak tau rumah kamu.” ujar Feli.
“Iya, maafin kita ya, Al.
“Gak apa-apa kok, Gab, Fel. Aku juga ngerti.”
“Uh, akhirnya kamu udah masuk lagi. Kemarin aku makan di kantin cuma berduaan aja sama Feli.”
“Uhuk.. uhuk..”
Suara batuk Surya membuat kami bertiga langsung menoleh ke arahnya.
“Eh, hehe, bertiga deh sama Surya.”
“Haha kalian ngerekrut orang baru?” ledekku.
“Iya, abis dia males digangguin Chelsea terus katanya, mangkannya dia pindah makan ke meja kita.” jawab Gaby dengan agak sedikit membisik.
“Kamu tau gak? Kemarin waktu kamu gak masuk, si Chelsea pindah duduk ke kursi kamu. Sengaja banget dia mau deket-deket sama Surya.” Kali ini Feli yang berbisik.
“Bagus dong, Surya jadi gak kesepian.” balasku sambil terkekeh.
Waktu terus berjalan, hingga akhirnya beberapa menit lagi bel istirahat pun berbunyi.
Selama guru sedang menerangkan, aku merasakan kesakitan yang luar biasa di bagian perut hingga membuatku tak fokus dengan apa yang dibicarakan oleh guru di depan kelas.
“Lo kenapa?” tanya Surya yang menyadari jika aku sedang meringis kesakitan.
“Gak tau, perut gue sakit banget.”
“Telat makan kali.”
“Nggak, gue kan selalu sarapan sebelum berangkat ke sekolah.”
“Tadi pagi sarapan sama apa?”
“Cuma selembar roti sama selai cokelat.”
“Biasanya?”
“Nasi goreng.”
“Ya itu, lo biasa makan berat, gara-gara tadi cuma makan selembar roti jadinya perut lo gampang laper lagi, terus sakit deh.”
“Tapi sebelumnya gue juga sering kok sarapan cuma pake selembar roti, dan gak pernah sakit kayak gini.”
“Kenapa, Al?” Feli menoleh ke arahku untuk memastikan bahwa aku baik-baik saja.
“Gak tau, perut aku sakit banget.”
“Aku bilang ke Bu Guru, ya?”
“Ja-jangan, Fel. Gak apa-apa, aku masih bisa tahan kok.”
“Al, ini coba minum air hangat punyaku.” Gaby memberikan tumbler minum berisi air hangat miliknya kepadaku.
“Nanti kamu gimana?”
“Gak apa-apa, kamu minum aja.”
Setelah berhasil minum beberapa teguk air hangat, perutku perlahan membaik.
“Gimana? Enakan?” tanya Gaby memastikan.
“Lumayan. Makasih ya, Gab.”
Aku memberikan kembali tumbler itu kepadanya.
Bel istirahat pun berbunyi. Setelah guru berhasil meninggalkan kelas, satu persatu dari kami pun ikut beranjak keluar.
“Eh, guys! Liat itu roknya Alena kenapa?!!!” Teriakan Chelsea membuat seluruh pandangan anak-anak sekelas menoleh ke arahku.
Aku yang kebingungan tak mengerti maksud dari ucapannya mulai mencoba menoleh ke rok bagian belakang. Feli dan Gaby yang ikut penasaran mulai membantu untuk melihat apa yang terjadi dengan rok sekolahku.
“Ih, daraaaah!”
Lagi-lagi Chelsea kembali teriak, kali ini teriakannya diakhiri dengan gelak tawa. Begitu juga dengan anak-anak lain, mereka semua ikut mengerubungi serrta menertawakan rok ku yang terkena darah.
“Al? Kamu menstruasi?” tanya Feli pelan.
Aku menggeleng kebingungan.
“Yah haha, Alena menstruasi! Ih, geli banget darahnya ke mana-mana.” ledek Chelsea.
“Gila ya anak seumuran kita udah menstruasi.” lanjut Bianca.
“Berisik lo semua!” Feli mulai memarahi siapa saja yang mencoba mengejekku.
Surya datang memasuki keramaian para siswa yang sedang berkumpul untuk mempertontonkanku. Sambil menenteng hoodie-nya, ia melingkarkan hoodie tersebut ke pinggangku untuk menutupi darah di rok dan kemudian membawaku keluar dari kelas.
Feli dan Gaby yang khawatir juga mengikuti Surya yang membawaku menuju toilet anak perempuan.
“Nih.”
Ia memberikan sebungkus pembalut kepadaku.
“Surya, lo bawa pembalut ke sekolah?” tanya Gaby heran.
“Ngaco aja!”
“Terus lo dapet pembalut ini dari mana?” Kini giliranku yang bertanya.
“Berisik deh, ah! Udah sana cepetan masuk, cuci rok lo terus pake itu.” Matanya melirik ke arah pembalut yang kini telah berada di dalam genggamanku.
Aku pun masuk ke dalam untuk mencuci rok yang sudah terkena darah hanya dengan air yang mengalir.
“Al? Bisa pakenya nggak?” teriak Feli dari luar.
“Emm, bisa kok bisa.”
Sambil membuka bungkus pembalut tersebut, aku berpikir cukup lama agar dapat memasangnya dengan benar.
“Fel, aku gak bisa.” lanjutku.
“Buka pintunya.”
Feli ikut masuk ke dalam untuk membantuku memasang pembalut ini dengan benar, sementara Gaby dan Surya menunggu di luar.
“Nah, udah kan?”
“Gak enak, ganjel.”
“Emang gitu, nanti juga terbiasa.”
“Kok kamu bisa cara pakenya?”
“Sebenernya aku juga udah haid, baru dari seminggu yang lalu. Mangkannya aku ngerti cara pakenya.”
Aku hanya mengangguk menanggapi ucapannya. Kami pun keluar menghampiri Gaby dan Surya yang sedari tadi menunggu.
“Ini hoodie lo.”
“Iket aja di pinggang, biar nutupin rok lo yang basah.”
“Gak apa-apa?”
“Terus? Lo suruh gue pake itu hoodie yang abis kena darah lo?”
“Yeee, kan gue nanya.”
“Udah ah, gue mau ke kantin. Jam istirahat gue jadi berkurang gara-gara bantuin lo. Inget, jangan lupa dicuci!”
Ia pun melangkah pergi meninggalkan kami yang tak lama kemudian juga ikut melangkah menuju kantin.