Keesokan harinya, seusai sarapan. Nursa benar-benar tidak datang untuk menjemputku. Aku berjalan masuk ke dalam mobil mengikuti langkah Papa. “Loh, kamu gak berangkat bareng Nursa lagi?” tanya Papa heran ketika aku ikut masuk. Aku menggeleng. “Enggak, Pa. Alena kangen berangkat naik mobil sama Papa.” Papa hanya tersenyum sambil mengangguk kecil. Beberapa menit kemudian, Pak Dirman menghentikan laju kendaraannya saat telah sampai di depan gerbang sekolahku. Setelah berpamitan dengan Papa, aku langsung beranjak keluar dari dalam mobil. Ketika melintasi lapangan, seorang anak laki-laki datang menghampiriku. “Kak Alena, ya?” Anak laki-laki bertubuh tinggi serta wajah yang tampan itu menyapaku sambil tersenyum. “Ah? I-iya.” “Kenalin, aku Rasya dari kelas 10 IPA 2.” Ia mulai

