Dengan keraguan, aku mencoba untuk berjalan menghampirinya. Wajahnya merah padam, membuatku sangat takut melihatnya dengan kondisi seperti ini. Kak Gibran langsung datang memeluk ketika aku sudah duduk di sebelahnya. Pelukan yang begitu erat disertai isakan tangis itu berhasil membuatku terdiam tidak mengerti mengenai masalah yang sedang dihadapinya. Seumur hidupku, meski aku tahu bahwa Kak Gibran tidak pandai berekspresi, setidaknya aku tidak pernah melihatnya marah seperti ini. Kak Gibran memang bukan tipikal anak yang periang, namun ia juga bukan tipikal anak yang pemurung, apalagi pemarah. Tapi kali ini, untuk pertama kalinya aku menyaksikan Kak Gibran seperti ini. “Kak? Ada apa?” Lagi-lagi tanpa jawaban, namun pelukan serta isakan tangisnya semakin kencang dari sebelumnya. Aku m

