“Kamu pasti bisa,” bisik Rafan sambil menggenggam tangan Maika. Perempuan itu berusaha mengatur napasnya. Dia seperti kehilangan tenaga. “Aku gak kuat,” kata Maika lemah. Air matanya kini mengalir dengan deras. Dia merasa kehilangan tenaga. Apa ini akhirnya? “Ayo sayang, tinggal sedikit lagi. Tolong,” kata Rafan merasa ikut putus asa. Dia sudah tidak peduli kalau orang-orang mengatai dia laki-laki cengeng. Mereka tidak tahu seberapa berartinya perempuan yang Rafan tangisi. Maika menatap Rafan yang kini menatapnya dengan air mata berlinang. Demi Rafan, dia harus bisa. Di sisa tenaga yang Maika punya. Perempuan itu mengejan hingga akhirnya terdengar suara tangisan bayi kedua mereka. “Dok, terjadi pendarahan hebat!” teriak Suster itu. “Siapkan ruang operasi! Pak, mohon tanda tangani sura

