Raditya terus menerus berputar-putar di jalalan hingga malam. Ia tak memiliki keberanian untuk mengetuk rumah Dinda dan mengatakan maaf kepadanya. Entah kenapa ia merasa perasaan Dinda padanya saat ini belum baik-baik saja, jadi ia masih belum berani untuk meminta maaf, takut kalau-kalau ayahnya Dinda marah padanya dan menutup pintunya kemudian karena telah dengan berani membuat hati sang putri tercinta terluka. Tapi hingga malam terus berlanjut, motor yang dikendarainya akhirnya sampai di depan rumah Dinda. Raditya menengok jam di pergelangan tangannya. Pukul sebelas malam. Pantas saja lampu utama dan kamar-kamar rumah Dinda itu telah padam, itu karena sang pemilik rumah sudah istirahat. Raditya melepas helm miliknya dan mendongak ke arah kamar Dinda di atas itu. Cukup lama ia melihat ka

