Welcome I

1463 Kata
Pemuda itu melangkah ringan ke arah koridor kelas setelah selesai memarkirkan motornya pada tempat parkir. Jejeran kendaraan beroda dua. Sebenarnya tadi, ia tidak ingin datang ke sekolah. Masih mau memadu kasih dengan bantal dan guling kesayangannya. Apalagi drama-drama yang sudah ia download di laptop sudah puluhan, jadi sayang kalau harus didiamkan. Langkahnya terhenti, saat melihat beberapa murid sudah berkerumunan di depan mading. Sepertinya pembagian kelas sudah diumumkan dan cowok itu masih belum siap. Ya. Takutnya nanti dia disejajarkan dengan anak-anak berprestasi lainnya. Karena dia sudah masuk anak berprestasi di bidangnya. Bidang qosidahan sama kebacotannya di dalam kelas. "Permisi!" Teriaknya sembari menyeruak masuk di antara cewek-cewek yang sudah berdiri sedari di sana. Padahal sepertinya mereka sudah melihat nama dan kelas mereka. Tapi, anak-anak ini masih kibas rambut sana-sini. Mana rambutnya bau menyan lagi. Ini anak setan semua kali ya. "Eric!" Eric yang sedang menunjuk deretan nama di mading jadi latah kaget mendengar namanya dipanggil lantang di belakangnya. Pelakunya tiada adalah Gilang, teman sekaligus tetangganya sejak mereka dalam rahim. Katanya orangtua mereka janjian bikinnya, makanya Eric dan Gilang pun jadi tumbuh bersama di umur yang sama. "Lo masuk Ipa apa Ips, nyet?" Tanya Gilang sudah mengambil tempat ke samping membuat Eric mengedikan bahunya pelan. "Tau, mungkin kali ini gue masuk kelas unggulan karena kepintaran gue." Balasnya dengan membusungkan d**a bangga. "Otak udang kayak lo mana bisa masuk kelas unggulan, perkalian aja lo masih hitung pake jari." Cibir Gilang sembari mencari namanya di dalam daftar. "Gak gitu juga, monyet." Umpatnya sudah menabok kepala cowok jankung itu membuat Gilang mengaduh kecil di sebelahnya. "Eh? Nama gue kok ada di sini?" Eric jadi ikut menoleh ke arah telunjuk Gilang, "ada nama gue juga." Sahut pemuda itu jadi berbinar sendiri. "Kita gak masuk Ipa atau Ips, tapi kelas khusus dong. Ini prestasi yang harus dibanggakan." Ujar Gilang merasa haru dengan mengusap-ngusap sudut matanya sok menangis. "Kelas berbeda, ngab? Ini kelas apaan?" Tanya Eric dengan alis bertautan. "Berbeda? Mungkin karena kita berbeda ketampanannya? Atau bentuk otaknya, begitu?" "Dih. Berarti lo gak boleh masuk kelas ini dong," protes Eric dengan ekpresi serius. "Kenapa?" Sahut Gilang sudah mendekat. "Kan lo gak punya otak." Gilang sontak menendang kasar b****g pemuda itu sampai Eric terduduk di lantai dengan estetiknya. "Sakit, anj––" "Mau bilang apa kamu, Eric?" Tanya seorang guru yang sudah mengacung-ngacungkan penggaris ke arah pemuda itu. "Anj ... anjayani, pak. Itu kan nama anak ibu kantin." Alibi pemuda itu dengan muka memias membuat Gilang terkikik sendiri mendengar alasan tidak masuk akal temannya itu. "Jangan sampe bapak dengar kamu ngumpat-ngumpat terus ya, kalau sampe bapak dengar langsung. Kamu bapak sunat dua kali," Eric sontak mendelik ngeri dengan bergidik ngilu sendiri. "Kasihan istri saya nanti pak, masa dapatnya yang setengah. Emang anu saya diskonan?" Gurunya melotot ke arahnya membuat Eric jadi merapatkan bibir dengan menarik diri pamit pergi dari sana, bersama Gilang yang mukanya sudah memerah karena menahan tawa. "Puas lo?" "Ya, masa punya lo mau dipotong kkk ... kkk. Udah kecil tambah kecil," kata Gilang masih belum berhenti membuat Eric mendecak kasar. "Udahlah, gak usah bahas itu, heh! Ini kelas berbeda apaan?" Kesalnya berusaha mengalihkan pembicaraan, bahaya kalau ada perempuan yang mendengar. Nanti bakalan ada rumor kalau Eric tidak bisa punya anak karena anunya cuma sepotong. Kan gak lucu. Gilang masih berusaha menetralkan napasnya, lelah juga cekikikan sedari tadi sampai giginya kering sendiri. "Gue juga gak tau, kelas berbeda itu apaan? Kita cari kelasnya aja dulu. Siapa tau di sana nanti kita dapat pencerahan, atau ada anak yang bisa ngejelasin apa itu kelas berbeda." Kata Eric sudah melangkah lebih dulu membuat Gilang mengangguk membenarkan. "Tapi, kelasnya dimana, njir?" "Ya, mana gue tau, b**o! Kan gue baru pertama kali masuk kelas berbeda, nih!" Gilang mencibir dengan mengedarkan pandangannya ke sekitar. Keduanya sudah berdiri di depan koridor kelas, berusaha mencari target untuk mereka tanyai letak kelas berbeda dimana. Gilang tersenyum merekah saat melihat sosok jangkung mendekat, mukanya rada jutek dengan ekspresinya yang terkesan seperti ingin melahap orang. Eric sendiri tengah merunduk pada hapenya mengecek sms yang masuk. Ternyata ada pesan berisi; selamat anda menang undian 45 juta rupiah dari–– Eric melebarkan matanya, tidak melanjutkan membaca isi pesan masuk. Pemuda itu jadi membeku saat melihat Gilang yang sudah menghadang pemuda menakutkan ini yang anak-anak lain jarang bicara dengannya karena emang suka main tangan, Jaya namanya. "Eh, lo tau dimana kelas berbeda gak?" Tanya Gilang masih memegang lengan Jaya dengan tersenyum manis. Jaya yang tersentak kecil karena sentuhan itu jadi mengeraskan rahangnya. Melayangkan bogeman mentahnya sampai pipi Gilang tertoleh ke samping. "Anju." Umpat Gilang dengan mengusap-ngusap pipinya merasa kesakitan. Baru pertama kali merasakan sensasi ditonjok di pipi begini. "Itu si b*****t, kenapa! Gue kan cuma nanya masa langsung ditonjok!" Ngamuknya sudah ingin melangkah maju mengejar Jaya yang sudah berlalu pergi tanpa sepatah kata membuat Eric menahannya cepat. "Lo gak kenal, Jaya ya?" Tanya Eric dengan menggelengkan kepalanya heran, menatap miris sudut bibir Gilang yang terluka. "Jaya siapa? Jaya Mahesa?" Gilang membulatkan matanya kaget mendengar ucapannya sendiri. Pemuda itu jadi memeluk Eric erat dengan mendelik ngeri sendiri, "gue masih selamat, gue selamat, anying." Hebohnya sendiri karena baru sadar kalau tadi adalah Jaya Mahesa. Manusia paling sensitif dari p****t bayi. "Kenapa lo gak ngomong, setan!" "Dih, lo yang duluan sok akrab sama dia." Balas Eric dengan santainya membuat Gilang ingin kembali mengumpat namun pemuda itu urungkan. Ia jadi menolehkan kepala ke samping saat melihat sosok yang ia kenali. "Yo, w******p brother!" Sapa Gilang dengan gaya ala anak-anak luar. Cowok yang sedang sibuk memasukan ujung bajunya ke dalam celanan itu jadi terhenti dan langsung berbinar melihat Gilang di depannya. "Apakah ini takdir?" Ceplosnya dengan gaya terharu masih memasukan bajunya, lalu menarik resleting celananya tanpa beban sembari menjulurkan tangannya ingin mengajak tos. Tapi, Gilang tolak. "Lo baru pegang itu, setan!" "Apasih, masih terhalang celana dalam nih." "Mana, coba gue lihat!" "Oh, tidak bisa! Ini rahasia negara." Eric menghela samar mendengar dua orang itu sudah heboh sendiri, "lo tau kelas berbeda dimana?" Tanya Eric akhirnya membuka suara membuat pemuda bernama Ben Tornado itu mengangguk ringan. "Gue antarin, soalnya kelas gue juga di sana." Balas Bento santai, biasa pemuda itu disapa. "Apaan, ngab? Perasaam gue mendadak gak enak, nih. Kenapa anak kelasnya isinya begini ya?" Gumam Gilang dengan kening mengkerut. "Kelas berbeda itu kelas yang derajatnya lebih tinggi dibanding kelas unggulan. Jadi, lo harus berbangga diri." Jelas Bento dengan tersenyum jumawa, melangkah memimpin untuk Eric dan Gilang yang masih belum tenang. Bento pun berdehem samar saat sampai di kelas ujung, di gedung pertama. Eric sontak melongokan kepalanya, berusaha melihat anak-anak kelasnya. Eric langsung menarik diri dengan bersembunyi di balik dinding. "Kok ada Jaya sih, anjir?" Panik pemuda itu dengan muka pucat. "Heh? Jaya yang tadi?" Sahut Gilang jadi ikut panik. "Jaya Mahesa?" Tanya Bento jadi ikut-ikutan takut membuat ketiganya jadi saling merapatkan diri, merosot duduk di depan kelas dengan ekspresi serius. "Lo bilang derajatnya di atas kelas unggulan ya, setan! Tapi, kenapa Jaya ada di kelas ini. Berarti kelas ini bermasalah." Omel Gilang sudah menatap Bento nyalang, "ya, kan gue juga dengar-dengarnya begitu. Gak tau benar apa gaknya." Balas Bento jadi mendecak samar. Eric masih berjongkok dengan kening mengkerut berusaha memikirkan solusi, "jangan sampe kita duduk dekat anak itu ya? Jangan sampe nih, bisa-bisa dijadiin samsak sama si Jaya." Gilang mengangguk membenarkan, Bento pun jadi mengacungkan jarinya setuju. Ketiganya sedang menyiapkan hati agar bisa masuk ke dalam kelas. Takurnya nanti tidak sengaja bertatapan dengan Jaya, bisa-bisa nyawa mereka melayang hari ini. Eric, Gilang dan Bento hendak bangkit namun melatah kaget saat ada satu anak cowok dengan santainya duduk di hadapan mereka. Menjulurkan tangannya memegang bahu Gilang dan Bento yang berada di ujung. Eric sudah melongo melihat pemuda berambut belah tengah itu, apalagi bedaknya yang tebal pada dahi. "Lo siapa, anying?" Kesal Gilang masih kaget karena kemuncilan pemuda itu. "Kalian mau main apa? Ajak aku dong." Katanya sudah tersenyum membuat Gilang bergidik nyeri. "Ini fix mahluk planet lain nih, ngapain dia di sini, heh! Urus anak lo!" Kata Gilang sudah mendorong Eric maju membuat pemuda itu mengumpat kasar. "Gak ada yang mau main, sana pergi lo!" Usir Bento sok galak membuat anak cowok itu melenggak masuk ke dalam kelas berbeda. Ketiga saling pandanga dengan melebarkan matanya kaget. Kemudian mereka pun melongokan kepala masuk, berusaha mengikuti arah anak cowok tadi yang dengan santainya menaruh tasnya dan duduk di sebelah Jaya Mahesa. Jaya Mahesa loh ini. Ketiganya kembali menarik diri dengan merasa takjub dengan keberanian anak cupu tadi. Beberapa saat kemudian, terdengar suara dentuman keras di dalam sana membuat mereka bertiga kompak melihat ke dalam. Mata mereka membulat melihat anak aneh tadi sudah terlempar di kursi belakang. Pelakunya tiada lain dan tiada bukan Jaya Mahesa. "Pokoknya misi kita tahun ini adalah, jangan berurusan sama Jaya Mahesa." "Setuju." "Emak, doakan anakmu ini." Ketinya sudah saling berpelukan dengan perasaan gugup, mendadak tremor gara-gara Jaya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN