Chapter 33 - Kenyataan

1924 Kata

Azril turun dari mobil diikuti dengan Shazia, pagi ini mereka pulang ke Jakarta. Mereka berjalan di tengah dinginnya suhu udara karena hujan baru saja berhenti beberapa saat yang lalu. Rintik hujan sesekali masih turun ketika mereka berjalan menuju pesawat. Lagi-lagi mereka menaiki pesawat pribadi, Shazia sedikit lebih pendiam pagi ini karena kejadian semalam. Walaupun sudah mengantuk, dia masih bisa mendengar jelas suara menyeramkan itu. Shazia menghela napas panjang sembari menggelengkan kepalanya. Dia menimbang-nimbang untuk menceritakan hal ini kepada Azril tetapi dia juga sedikit takut. Apakah yang selalu datang ketika dia sendiri itu merupakan mendiang tunangan Azril atau bukan. Shazia tidak pernah melihat wajah aslinya, dia hanya pernah melihat wajah seramnya dan dia tidak mungki

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN